Konten Media Partner

Serat Wedhatama: Karya Sastra Jawa yang Berisi Nilai-nilai Kehidupan

Tugu Jogjaverified-green

google
Tambah ke Prefensi Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
4
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Warga Yogyakarta ikut nembang macapat di Pendapa Wiyata Praja Kompleks Kepatihan. foto: adn
zoom-in-whitePerbesar
Warga Yogyakarta ikut nembang macapat di Pendapa Wiyata Praja Kompleks Kepatihan. foto: adn

Budaya Jawa memiliki banyak sekali karya sastra. Tak sekedar karya sastra, melainkan sebuah karya yang sarat akan makna filosofis bagi hidup manusia. Salah satunya adalah Serat Wedhatama.

Serat Wedhatama karya sastra yang diciptakan dalam huruf Jawa dan dibacakan dengan cara tembang alias macapat. Serat Wedhatama diciptakan oleh KGPAA Mangkunegara IV. Menurut KMT Projo Swasono, yang merupakan Abdi Dalem Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat, serat tersebut diciptakan di Kadipaten Mangkunegaran Surakarta. Serat tersebut sangat bagus sebab mengandung banyak ajaran mengenai kehidupan manusia.

"Itu berisi nasihat-nasihat, larangan-larangan tentang kehidupan manusia," pungkas KMT Projo Swasono yang merupakan Abdi Dalem yang bertugas mengurus sekolah macapat pada Selasa (17/12/2019) di Pendapa Wiyatapraja.

KMT Swasono berujar bahwa pada masa zaman dahulu, Serat Wedhatama diciptakan KGPAA Mangkunegara IV untuk memerintah kerabat, abdi dalem, dan kawula di Mangkunegaran. Hingga bertahun-tahun serat tersebut bertahan di budaya masyarakat Jawa, rupanya bukan nilainya semakin kabur melainkan banyak nilai yang masih relevan hingga kini.

"Ternyata nasihat-nasihat, larangan-larangan itu relevansinya sangat tinggi apabila dilaksanakan masyarakat pada umumnya bahkan sampai sekarang," imbuhnya.

Isi Serat Wedhatama berupa anjuran, larangan, dan juga perintah. Serat Wedhatama menurut KMT Swasono memiliki banyak sekali tembang. Totalnya ada 11 tembang. Akan tetapi di Dialog Budaya dan Gelar Seni "YogyaSemesta" Khusus Seri-124 kali ini hanya 5 tembang yang dibawakan. Diantaranya yang ditampilkan ialah Pangkur, Sinom, Pocong, Gambu, ada Kinathi.

"Lima tembang saja. Sementara tembang itu ada 11. Di sini (YogyaSemesta) hanya 5 saja (yang dibawakan)," ujarnya.

Gelaran YogyaSemesta membahas tentang Serat Wedhatama melalui tembang macapat. foto: Birgita

Berkaitan dengan budaya dan perkembangan zaman, tentunya perkembangan budaya punya andil dalam keberadaan nilai budaya tersebut. Terkadang nilai-nilai luhur budaya salah satunya dalam Serat Wedhatama bisa luntur jika tak ada yang melestarikan di era saat ini. KMT Swasono mengatakan bahwa perlu bagi generasi khususnya di era saat ini untuk kembali memaknai ajaran dalam Serat Wedhatama.

Bahkan saat ini tembang yang mulanya hanya ada dalam bahasa Jawa, membuat sebagian peneliti mencoba untuk mengubah ke dalam bahasa latin. Juga dialihbahasakan ke dalam Bahasa Indonesia dengan harapan agar masyarakat kini, terutama generasi era ini bisa memahami makna tanpa terkendala persoalan bahasa.

Juga salah satu upaya pemerintah dalam mempertahankan nilai Serat Wedhatama adalah memperkenalkan melalui salah satu nilai keistimewaan yang diperkenalkan dalam Hamemayu Hayuning Bawono. Pemerintah berusaha untuk mempertahankan nilai tersebut dengan berbagai cara mulai dari memperkenalkan ajaran pada masyarakat dan mempertunjukannya.

"Tujuan dari pemerintah untuk mengenalkan ajaran-ajaran yang diberikan oleh pendahulu kita. Setelah mengenal, kemudian meresapi, kemudian melakukan nasihat-nasihat itu," ungkapnya.