Konten Media Partner

Sulap Sampah Plastik Jadi Peralatan Pertujukan Teater di Yogyakarta

Tugu Jogjaverified-green

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
pertujukan teater sakatoya. Foto: Istimewa
zoom-in-whitePerbesar
pertujukan teater sakatoya. Foto: Istimewa

Sakatoya, sebuah komunitas yang memiliki cara tersendiri dalam mengkampanyekan bebas sampah untuk bumi. Berfokus pada pengelolaan dan pengembangan seni dan budaya, ternyata Sakatoya menemukan 'rasa' untuk melakukan kampanye tersebut.

Lewat seni dan budaya itulah, Sakatoya bisa unjuk kebolehan diatas panggung untuk menyihir dan menyindir secara halus masyarakat yang masih saja tega membuang sampah sembarangan tanpa memikirkan dampak yang diakibatkan sampah tersebut.

Salah satu penggagas Sakatoya, Didin Bakir mengungkapkan kegelisahannya yakni selama membangun Sakatoya sejak tahun 2011 tak menuai dampak yang berarti dalam keberlangsungan komunitasnya itu. Ia harus berfikir keras untuk menemukannya.

"Berawal dari kegelisahan kami, hingga awal 2018 kami mencari isu apa yang lebih dekat. Ya, sampah. Yang teman-teman concern itu perbedaan beberapa tahun lalu dan saat ini," kata Didin saat diwawancarai tim kumparan.com/tugujogja, Rabu (20/2/2019).

Sampah plastik yang dikumpulkan untuk membuat property pertunjukan teater. Foto: ken

Setelah mendapatkan titik kegelisahan tersebut, mulailah Sakatoya bangkit dan bersuara, menyerukan bebas sampah untuk bumi di masa depan. Sehingga mereka mengkampanyekan bebas sampah tersebut sebagai kapasitas mereka sebagai pelaku seni.

Salah satu kampanye sampah lewat seni yang disampaikan Sakatoya yakni pertunjukan teater bertajuk 'Octagon Syndrome'. Petunjukan tersebut menceritakan seorang ayah yang menjelaskan kepada anak-anaknya seperti apa bumi saat dahulu.

Sedangkan, bumi saat ini hanya dipenuhi oleh sampah-sampah yang menggunung sehingga menutupi semua permukaan bumi. Pertunjukan tersebut ingin menunjukkan bagaimana dampak dari sampah plastik ini bagi kehidupan manusia dimasa akan datang.

"Bagaimana plastik itu kami kemas menjadi instalasi, karena kami kapasitasnya sebagai komunitas seni nggak mungkin kami mengajukan diluar itu (seni). Maka kami mencoba menyuarakan itu lewat seni," kata Ninda Fillasputri, salah satu anggota aktif Sakatoya.

Wanita yang berhasil meproduseri pertunjukan teater itu mengatakan, dengan cara tersebut dinilai mampu menyinggung hati masyarakat dengan halus tanpa harus menyakiti ataupun memarahinya atas perlakuan yang masih saja tega membuang sampah disembarang tempat.

Sebab, lanjut dia, dengan menggunakan gaya-gaya bahasa yang ringan ataupun mudah dicerna oleh masyarakat merupakan sebuah cara yang dinilai lebih mudah untuk memahami hal apa yang ingin disampaikan. Atas penyampaian tersebut, masyarakat bisa dengan cepat menginterpretasikan hal-hal apa yang telah dilihat dan dirasakannya.

"Orang-orang yang menonton itu mengeluarkan ekspresi yang memang berbeda," ujarnya.

Sampah plastik untuk property pertunjukan teater. Foto: ken

Untuk lebih memberikan kesan yang lebih mendalam dan menyakinkan bagi yang menonton, Sakatoya pun menggunakan beragam instalasi yang terbuat dari bahan plastik, seperti botol minuman dan lain sebagainya. Memperagakan seolah-olah hal itulah yang terjadi dimasa yang akan datang.

"Jadi gimana botol plastik itu harus bisa jadi roket, kostum, pohon, gunungan sampah. Bahkan kami mengumpulkan botol-botol plastik itu sampai 10 ribu botol, untuk mendapatkannya kami keliling bawa karung ngumpulin sampah-sampah dijalan, ajak kumpulin botol gratis minum kopi, dan lainnya," paparnya.

Melalui cara tersebut, dengan kapasitas mereka sebagai para pelaku seni, Sakatoya ingin menunjukkan dan menyampaikan bahwa isu-isu yang memang jarang ataupun bahkan tidak pernah diperhatikan oleh orang-orang, ternyata memiliki suatu pembelajaran penting, terlebih bagi mereka yang selalu menebar sampah dimana-mana.

"Kami mencoba memberikan sisi lain dari isu-isu yang mereka anggap sederhana, tapi sebenarnya 'ini tuh (soal sampah) nggak sesederhana yang mereka anggap loh,'" imbuh Diajeng Persahabatan Jogja 2016 ini. (ken/adn)