Sultan HB X Ajak Warga Bangkitkan Kebanggaan Akan Batik

Sepuluh tahun sudah UNESCO menetapkan batik sebagai warisan budaya dunia asli Indonesia. Organisasi di bawah naungan PBB yang berfokus di bidang pendidikan, keilmuan, dan kebudayaan itu menetapkannya pada 2 Oktober 2009. Tentunya menjadi kebanggan sekaligus tugas bersama untuk mencintai dan menjaga batik sebagai warisan budaya agar tidak diklaim oleh negara lain.
Mendunianya batik membawa dampak pada tumbuhnya usaha-usaha batik di DIY. Masing-masing empat kabupaten dan satu kotamadya di provinsi tersebut mempunyai produk batik khas daerah masing-masing. Di Yogyakarta sendiri saat ini diperkirakan terdapat 241 motif batik yang diproduksi oleh enam ribu perajin.
"Kota Yogyakarta mempunyai batik motif Parang Rusak, Udan Liris, Sido Mukti, dan sebagainya. Sleman khas dengan motif Parijotho serta Salak Pondoh, Bantul mempunyai motif Galaran serta Parang Gapit Seling Sekar Pete. Sementara Kulonprogo dan Gunungkidul mempunyai kekhasan pada motif Gringsing dan Tancep," tulis Gubernur DIY, Sri Sultan Hamengkubuwono X, dalam pembukaan Pameran Batik 2019 'Batik Nusantara Mendunia' di Jogja Expo Center, Rabu (9/10/2019).
Sultan menegaskan kebangkitan batik dalam berbagai kesempatan harus mampu menjadi momentum untuk lebih membangkitkannya kembali dengan kebanggan. Yogyakarta yang ditetapkan sebagai kota batik dunia oleh World Craft Council (WCC) sejak 2014 sejatinya tidak hanya sebagai pusat batik Indonesia, tetapi juga harus mewarisi sejarah dan seni terkait batik.
"Pusat kerajinan batik di Indonesia terpusat di Yogyakarta. Batik adalah Indonesia, batik adalah Yogyakarta. Batik Yogyakarta telah lama dikenal di Indonesia dan dunia, sehingga kita harus terus melestarikannya untuk memperkuat nilai-nilai yang terkandung di dalamnya sebagai identitas Indonesia dan Yogyakarta," tegas Ngarsa Dalem.
Melalui tulisannya tersebut Sultan menyebut batik adalah budaya adiluhung yang mewakili identitas Indonesia di mata dunia.
"Dalam selembar kain batik bukan saja terpotret identitas budaya lokal dan sejarah daerah tertentu, tetapi lebih jauh juga sudah terpatri citra dan identitas nasional Indonesia," tuturnya. (Dion)
