kumparan
31 Jan 2019 15:37 WIB

Takmir Masjid Jogokoariyan : Kasus Ricuh Depan Masjid Telah Selesai

Takmir Masjid Jogokariyan, Yogyakarta Muhammad Fanni Rahman menyatakan kasus kericuhan di depan masjid Jogokariyan Kecamatan Mantrijeron, Yogyakarta yang terjadi Minggu (27/1/2019) lalu telah selesai. "Kasus kejadian di depan Masjid Jogokariyan dan sekitarnya pada hari Ahad lalu telah selesai," ujar Fanni Kamis (31/1/2019). Fanni menuturkan, pasca kericuhan takmir masjid Jogokariyan dan Ketua PDI Perjuangan Kecamatan Mantrijeron Junianto Budi Purnomo bertemu untuk melakukan mediasi dan membuat surat kesepakatan bersama yang isinya meliputi dua hal. Pertama, adanya permintaan maaf dari pengurus PDI P Kecamatan Mantrijeron Yogyakarta kepada Ketua Takmir Masjid Jogokariyan yang telah dilakukan pada pertemuan pertama tersebut. Kesepatakan kedua, untuk mendatangkan tokoh simpatisan yang terlibat kericuhan itu untuk menuntaskan permasalahan tersebut. Pertemuan kedua yang melibatkan simpatisan yang terlibat kericuhan itu telah dipenuhi dengan diadakannya pertemuan lanjutan pada hari Rabu (30/1/2019) di Kantor Kecamatan Mantrijeron sekitar pukul 21.00 WIB yang difasilitasi oleh Kapolsek, Camat, dan Danramil Kecamatan Mantrijeron. "Takmir Masjid Jogokariyan menyatakan bahwa kasus kejadian di depan Masjid Jogokariyan dan sekitarnya telah selesai," ujarnya. Takmir Jogokariyan pun juga mengucapkan terimakasih kepada Kapolres Kota Yogyakarta, Kapolsek Mantrijeron, Danramil Mantrijeron, dan Camat Mantrijeron yang telah membantu mediasi itu.
"Kepada ummat Islam dan laskar-laskar Islam di seluruh Indonesia yang telah menunjukkan solidaritas dan simpati kepada Masjid Jogokariyan, kami ucapkan terimakasih dan semoga Allah menjaga keistiqamahan kita dalam perjuangan," ujar Fanni. Takmir Jogokariyan juga mendesak kepada pemerintah, khususnya KPU dan Bawaslu untuk mengutamakan format kampanye yang penuh kesejukan dan ketentraman bagi masyarakat luas. "Kami juga menghimbau kepada semua partai peserta Pemilu untuk mengedepankan cara-cara kampanye yang kreatif, edukatif, santun, dan tidak provokatif," ujar Fanni. (atx/fra)
ADVERTISEMENT
Tulisan ini adalah kiriman dari publisher, isi tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan