Konten Media Partner

Tradisi Ruwatan, Ritual Jawa yang Diduga Picu Tewasnya Anak di Temanggung

Tugu Jogjaverified-green

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi tradisi Ruwat. Foto: Dispar Demak.
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi tradisi Ruwat. Foto: Dispar Demak.

Masyarakat Temanggung digegerkan dengan penemuan jasad seorang anak yang diduga meninggal usai diruwat. Diduga, anak tersebut telah meninggal 4 bulan sebelum ditemukan.

Tradisi ruwatan adalah salah satu ritual penyucian yang hingga kini masih dilakukan oleh sebagian besar masyarakat Jawa. Pada umumnya, tradisi ruwatan dilakukan dengan media wayang kulit.

Tradisi Ruwatan biasa dilakukan orang Jawa saat mengalami kesialan hidup. Ruwat dalam bahasa Jawa sama dengan kata luwar, berarti lepas atau terlepas. Diruwat artinya dilepaskan atau dibebaskan.

Upacara ruwat yang biasa dilakukan orang hingga sekarang biasanya menjadi sarana yang dijalankan oleh seseorang supaya dapat terhindar dari marabahaya yang diramalkan akan menimpa diri seseorang.

Ngruwat berarti menetralisir kekuatan gaib yang dapat mendatangkan bencana bagi diri seseorang ataupun lingkungannya. Tradisi ngruwat dipimpin oleh seorang dalang yang memiliki kemampuan khusus dalam bidang ruwat. Dalam hal ini, seorang dalang memiliki tanggung jawab atas kesialan dan kemalangan karena orang yang diruwat sudah menjadi anak dalang.

Dikutip dari Jurnal Filsafat yang ditulis oleh Dinna (2020), Ruwatan bermula berkembang di dalam suatu cerita Jawa kuno yang pada pokoknya memuat masalah penyucian diri.Penyucian ini menyangkut pembebasan yang terkena kutukan atau tidak suci.