Transaksi di Pasar Hewan Gunungkidul Anjlok karena PMK
ยทwaktu baca 2 menit

Aktivitas transaksi jual beli di pasar-pasar hewan di Gunungkidul turun drastis. Akibatnya Pedagang hewan ternak mengaku kesulitan untuk mencari pembeli, padahal di satu sisi mereka ingin dagangan mereka cepat laku agar tidak terjangkit Penyakit Mulut dan Kuku (PMK).
Para pedagang nampaknya rela hanya mendapatkan untung sedikit atau bahkan merugi. Mereka terpaksa banting harga agar hewan ternak terutama sapi yang mereka miliki cepat terjual.
Jumat (17/6/2022) ini, giliran pasar hewan Siyonoharjo di Kapanewon Playen dibuka. Pasar yang dibuka lima hari sekali ini buka untuk yang kedua kalinya setelah sempat ditutup selama dua pekan oleh Dinas Perdagangan setempat.
Kali ini, kondisi pasar nampak lebih sepi dibanding dengan sebelum penutupan oleh pemerintah. Aktivitas jual beli juga tak banyak terjadi karena para pembeli mengaku khawatir dengan merebaknya PMK.
Seperti yang diungkapkan oleh pedagang sapi asal Playen, Edi Susanto. Ia datang ke pasar sengaja tidak membawa dagangannya karena khawatir sapinya justru nanti terjangkit PMK sepulang dari pasar. Terlebih sudah banyak kasus sapi dibawa ke pasar dalam kondisi sehat namun beberapa hari setelah dibawa ke rumah justru terjangkit PMK.
"Takutlah. Saya ada 4 sapi di rumah, tidak saya bawa ke sini. Nanti malah kena PMK rugi saya," ujar dia.
Ia mengakui jika saat ini para pedagang lebih memilih jual rugi ketimbang menanggung kerugian lebih besar karena terjangkit PMK. Mereka memilih dagangannya lebih cepat terjual meskipun harganya turun drastis.
Saat ini, harga jual sapi memang turun cukup drastis. Rata-rata sapi yang dijual turun Rp 2 juta hingga Rp 6 juta per ekornya. Kondisi ini berbanding terbalik dengan saat menjelang hari Raya Idul Adha tahun lalu.
"Kondisinya memang baru memprihatinkan sekarang," kata dia.
Pengelola Pasar Hewan Siyono di Kapanewon Playen, Isnaning Suindarti mengatakan aktivitas turun hingga separuhnya. Di mana pembeli maupun pedagang yang datang ke pasar turun sampai 50 persen.
"Ya karena PMK pasar jadi sepi," kata dia.
Alhasil, harga ternak yang diperjualbelikan pun ikut mengalami penurunan cukup signifikan. Bahkan Isnaning menyebut selisih penurunannya bisa sampai Rp 6 juta per ekor untuk jenis sapi.
"Sapi yang ukurannya besar biasanya bisa sampai Rp 30 juta, ini tadi saya tanya harganya sekarang jadi Rp 24 juta," ungkapnya.
