Konten Media Partner

Usai Upacara Bendera, 8 Siswa SMP N 1 Wates Kesurupan

Tugu Jogjaverified-green

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Usai Upacara Bendera, 8 Siswa SMP N 1 Wates Kesurupan
zoom-in-whitePerbesar

Sejumlah siswa SMP N 1 Wates terlihat kesurupan usai mengikuti upacara pengibaran bendera, Senin (27/8). Mereka berteriak-teriak secara histeris dan sontak menghentikan proses belajar mengajar di SMP tersebut. Tak hanya siswa, ada beberapa guru yang juga terlihat mengalami hal yang sama.

Berdasarkan penuturan salah seorang wali murid yang enggan disebutkan namanya, peristiwa kesurupan tersebut bermula ketika siswa sedang beristirahat menunggu jam belajar usai upacara bendera dilaksanakan. Tiba-tiba ada salah satu siswa yang berada di unit I dan II SMP tersebut yang berteriak histeris. Tak berselang lama, siswa yang lain juga berteriak histeris sama dan terhitung ada 8 siswa di Unit I yang juga melakukan hal yang sama.

Para wali murid pun berdatangan ke sekolah tersebut lantaran peristiwa kesurupan ramai diperbincangkan di media sosial. Para Wali Murid khawatir dengan anak mereka akan mengalami hal yang sama.

"Kata anak saya, kesurupan ini sebenarnya sudah terjadi beberapa hari yang lalu," katanya.

Peristiwa kesurupan tersebut dikuatkan dengan datangnya tokoh agama yang memberikan doa-doa untuk para siswa tersebut. Meskipun ada peristiwa kesurupan, namun pihak sekolah tetap melanjutkan pembelajaran. Para wali murid yang khawatir dengan kondisi anaknya masih ada yang menunggu di lingkungan sekolah.

Kepala SMP N 1 Wates Tjatur Suratiningsih menampik jika di sekolahnya terjadi kesurupan massal. Karena yang terjadi hanyalah siswa yang sedang sakit karena kelelahan akibat mengikuti baris berbaris di sekolah tersebut. Ia menyebutkan siswa yang sakit tersebut berteriak-teriak karena kecapekan.

"Di unit I ada 7 orang yang berteriak-teriak, sementara di unit II ada satu orang siswa," katanya.

Kendati menampik adanya kesurupan massal, namun ia tidak membantah jika ada tokoh agama atau rohaniawan yang datang ke sekolah untuk menenangkan para siswa. Kedatangan rohaniawan tersebut bukan untuk mengobati yang kesurupan tetapi lebih memberikan wejangan kepada siswa. (erl/adn)