Konten Media Partner

Viral Curhatan Wisatawan di Tamansari Ditarik Rp 250 Ribu karena Bawa Kamera

Tugu Jogjaverified-green

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Objek wisata Tamansari Yogyakarta. Foto: Dinas Pariwisata Kota Yogyakarta
zoom-in-whitePerbesar
Objek wisata Tamansari Yogyakarta. Foto: Dinas Pariwisata Kota Yogyakarta

Sebuah postingan di grup Facebook tentang keluhan seorang wisatawan yang datang ke Tamansari Yogyakarta tengah viral. Pasalnya wisatawan tersebut mengeluhkan tarif membawa kamera di Tamansari.

Postingan keluhan wisatawan akan tarif bawa kamera di Tamansari tersebut diunggah oleh seorang pengguna Facebook yang merupakan rekan wisatawan di Pecinta Obyek Wisata Yogyakarta pada Minggu (13/3/2022). Dalam grup tersebut, sang pengunggah menanyakan kepada netizen terkait tarif yang berlaku.

"Sedikit curhatan dari temen saya lur.. Harus membayar tarif poto sejumlah 250 jika makek kamera pro di tamansari. Sek tau nang taman sari bawa kamera ngalamin kayak temen saya nggak ya..," tulis akun Destanta seperti dikutip Tim Tugu Jogja.

Berdasarkan unggahan tangkapan layar, rekan pengunggah mengaku tengah berwisata bersama dengan keluarganya ke Tamansari. Menurut pengakuan, wisatawan itu membawa peralatan kamera layaknya sekelas fotografer professional.

"Posisi saya disitu adalah diajak wisata sama keluarga untuk ngefotoin perjalanan mereka. Nahh.. Aku kan yo bawa gear saya apa adanya, tp cuma kamera aja sama lensa," tulis wisatawan itu.

Namun petugas yang berjaga disebutnya meminta dirinya membatar sesuai dengan tarif masuk untuk foto session karena melihat gear yang dibawanya.

kumparan post embed

"Nahh mereka menstop saya untuk membaya tari foto sesion, karena ngelihat gear saya yg sekelas potografer, bkn org biasa. Mereka nanya, mas nya sbg Fg pasti tau kan perbedaan foto sesion sama perjalanan domestik. Yaudah takjelasin panjang lebar, tp tetep nyuruh saya keluar, nek mau lanjut silahkan bayar tarif foto sesion," imbuhnya lagi.

Wisatawan tersebut mengaku terus berusaha menjelaskan pada petugas bahwa foto hasil jepretannya nantinya tidak dijualbelikan melainkan hanya dokumentasi untuk keluarga. Namun ketika dia mencoba untuk menitipkan kamera, penjaga disebut enggan menerimanya. Diapun bahkan berusaha menjelaskan perbandingannya dengan fotografer. Namun petugas tetap memintanya membayar sesuai tarif.

"Bahkan kamera sya mau sya kasihkan ke mereka tak suruh mengamankan dan sya mau lanjut foto pake hp jg gak diijinkan, tetep harus suruh bayar dulu tarif foto session. Dengan embel-embel saya Fg bukan wisatawan biasa," tutupnya.

Unggahan tersebut terus menuai perbincangan di media sosial. Banyak yang mempertanyakan persoalan terkait dengan tarif wisatawan tersebut lantaran peralatan yang dibawanya.

Kejadian hampir mirip juga pernah dialami oleh Kar, salah satu wartawan foto komunitas pariwisata. Ia pun mengaku menyayangkan hal itu.

"Saya sendiri pernah ditangkap oleh petugas ketika hunting foto. Disuruh hapus, tapi saya tipu-tipu dengan pura-pura hapus. Kalo saya menyayangkan, tugas wartawan kan malah bantu ekspos. Wisatawan dengan wartawan kan beda dengan fotografer urusan prewedding," tandasnya.

Pihak Keraton Yogyakarta melalui Penghageng Kawedanan Hageng Punakawan Nityabudaya, Gusti Kanjeng Ratu (GKR) Bendara angkat bicara terkait hal itu. Ia menejelaskan bahwa sudah ada keterangan terkait tarif salah satunya jika ada wisatawan membawa kamera profesional. Dimana dalam keterangan tertulis tarif kamera profesional memang Rp 250 ribu.

“Memang menurut peraturan demikian, bahwa wisatawan yang membawa kamera profesional untuk sesi foto kepentingan apapun itu harus membayar lebih. Memang Tamansari ini wilayah berbeda ya, sama seperti lokasi-lokasi wisata lain yang menerapkan hal serupa. Di situ jelas ada aturan bahwa yang membawa kamera profesional untuk potret apapun,” ujar GKR Bendara.

Bahkan jika ada sesi foto khusus, pihak pengelola bakal mendampingi. GKR Bendara menjelaskan hal itu lantaran tidak sembarang tempat bisa difoto.

Dalam kasus terkait alat yang dibawa, ia mengatakan bahwa petugas sudah menjelaskan kepada wisatawan. Ia menduga ada kesalahpahaman sehingga pengunjung tidak mengetahui terkait aturan itu. Ia mnjelaskan bahwa perlu ada penjelasan terkait acuan alat yang dibawa.

"Kami mungkin perlu memperbarui jenis peralatan yang dibawa," ujarnya