Konten Media Partner

Warga Gejayan Tolak Aksi Demo karena Ganggu Ketenteraman

Tugu Jogjaverified-green

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Spanduk yang dipasang warga Gejayan. Foto: Tangkapan Layat Youtube/Macul Channel.
zoom-in-whitePerbesar
Spanduk yang dipasang warga Gejayan. Foto: Tangkapan Layat Youtube/Macul Channel.

Belakangan kawasan pertigaan di Jalan Gejayan sudah beberapa kali dijadikan sebagai lokasi menggelar aksi demo. Tak tercatat banyaknya massa yang turun ke jalan hingga memblokade area pertigaan tersebut. Rupanya adanya aksi demo tersebut mendapat kritik dari warga setempat hingga terjadilah pemasangan spanduk berisikan protes.

Dalam spanduk berwarna kuning, terdapat tulisan yang berbunyi begini:

Kami paguyuban parkir Gejayan mendukung Gejayan Ayem Tentrem menolak aksi demo di wilayah Gejayan

Paguyuban Gejayan Ayem Tentrem

#gejayanayemtentrem

Seorang warga bernama Purwanto mengatakan bahwa aksi demo yang belakangan digelar di Gejayan dinilai meresahkan dan mengganggu ketentraman warga di wilayah tersebut. Belum lagi di masa pandemi seperti ini, kerumunan massa juga dinilai menciptakan rasa takut.

Informasi selengkapnya klik di sini.

"Itu meresahkan warga apa lagi di situasi yang sulit seperti ini. Dan alasan demonya itu juga nggak jelas dan membuat masyarakat semakin bingung dan panik. Dan biasanya demo juga menciptakan rasa takut terhadap masyarakat terutama pengguna lalu lintas," kata Purwanto seperti dikutip dari kanal YouTube Macul Channel pada Selasa (18/8/2020).

Informasi selengkapnya klik di sini.

"Silakan kalau mau demo, di tempat lain. Jangan ngganggu ketentraman warga Mrican," imbuhnya.

Informasi selengkapnya klik di sini.

Sementara itu Ketua PGAT, Desi Setiawan sebetulnya tak melarang segala bentuk aksi yang dilakukan oleh mahasiswa, LSM, ormas, atau bahkan kelompok yang mengkritisi kebijakan pemerintah. Alasan penolakan lainnya yakni pedagang, tukang parkir, serta warga masyarakat Gejayan merasa terganggu dan khawatir jika aksi yang melibatkan banyak masa tersebut berujung ricuh dan mengancam keselamatan serta kenyamanan.

“Kami Paguyuban Gejayan Ayem Tentren yang merupakan pedagang, tukang parkir, warga masyarakat Gejayan meminta kepada kelompok-kelompok mahasiswa, kelompok LSM, Ormas, dan kelompok lainnya untuk tidak menjadikan wilayah Gejayan sebagai tempat ajang dan aksi yang melibatkan banyak masa, karena kami ingin Gejayan adem ayem atau tenang,” katanya, Senin (17/8/2020).

Dukuh Mrican, Caturtunggal, Depok, Sleman, Sumarji mengatakan Gwjayan sendiri merupakan salah satu kawasan perekonomian mengingat banyaknya ruang usaha dan juga akses jalan yang cukup vital. Apabila massa berkumpul dan memblokade jalan, tentunya akan memberikan dampak kepada pelaku usaha di jalan tersebut. Berawal dari keresahan warga sekitar, pihaknya menolak Gejayan dijadikan tempat untuk pengerahan aksi masa.

“Silahkan mereka melakukan aksinya dimana saja, asalkan tidak di Gejayan,” pungkasnya.