Konten Media Partner

Warga Jogja Diajak Refleksikan Perwira yang Gugur pada 30 September 1965

Tugu Jogjaverified-green

ยทwaktu baca 3 menit

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Makam pahlawan asal Jogja yang gugur pada 30 September 1965. Foto: M Wulan/Tugu Jogja
zoom-in-whitePerbesar
Makam pahlawan asal Jogja yang gugur pada 30 September 1965. Foto: M Wulan/Tugu Jogja

Peristiwa Gerakan 30 September 1965 atau yang dikenal G30S PKI ditandai sebagai salah satu sejarah hitam dan tragedi nasional yang pernah terjadi di Indonesia.

Pasalnya dalam peristiwa itu terjadi penculikan dan pembunuhan terhadap para Pahlawan Revolusi, dimana dua di antaranya adalah Kolonel Infanteri Anumerta Sugiyono dan Brigadir Jenderal TNI Anumerta Katamso gugur di Yogyakarta.

Untuk mengenang peristiwa G30S PKI di Yogyakarta sekaligus sebagai penghormatan atas jasa kedua Pahlawan Revolusi itu, pengurus DPW PKS DIY melakukan ziarah ke Taman Makam Pahlawan Kusumanegara, Sabtu (30/09/2023).

Ketua DPW PKS DIY, Agus Mas'udi mengaku setiap tahun pihaknya memang rutin berziarah ke TMP Kusumanegara untuk memperingati jasa para pahlawan Revolusi G30 September. Ia pun mengajak masyarakat untuk tidak melupakan sejarah yang pernah terjadi di Indonesia.

"Kami ingin mengingatkan pada segenap masyarakat Yogyakarta untuk tak melupakan sejarah, jas merah jangan sekali-sekali melupakan sejarah. Di TMP Kusumanegara ini dimakamkan dua pahlawan revolusi yang gugur pada upaya kudeta Gerakan 30 September 1965 yakni Brigjen Katamso dan Kolonel Sugiyono," kata Ketua DPW PKS DIY, Agus Mas'udi usai melakukan ziarah di TMP Kusumanegara, Sabtu (30/9/2023).

Pengurus DPW PKS DIY melakukan ziarah ke Taman Makam Pahlawan Kusumanegara, untuk refleksikan kedua jasa pahlawan revolusi yakni olonel Infanteri Anumerta Sugiyono dan Brigadir Jenderal TNI Anumerta Katamso yang gugur di Jogja. Foto: M Wulan/Tugu Jogja

Mas'udi mengatakan ada pemaknaan tersendiri yang diresapi terhadap peristiwa G30S PKI itu. Kedua pahlawan revolusi itu melindungi Yogyakarta lantaran kala itu PKI ingin menguasai kekuasaan di Jogja.

Jika menilik sejarah, saat itu mulai muncul lah aksi pemberontakan yang menargetkan Katamso yang menjabat sebagai Komandan Korem 072/Pamungkas Jogja. Katamso dipaksa menandatangani surat yang berisi dukungan terhadap Dewan Revolusi.

Ia pun menolak dan memanggil sejumlah perwira untuk melakukan rapat terkait situasi terkini waktu itu. Namun, sejumlah perwira yang datang justru membawa senjata dan melakukan penangkapan terhadap Katamso. Katamso dibawa ke kompleks Batalyon L di Desa Kentungan, Condongcatur, Depok, Sleman dengan menggunakan mobil, namun ketika ia melangkah keluar mobil, ia diserang menggunakan kunci mortir nomor 8 dan ia pun tersungkur lalu gugur pada malam hari tanggal 2 Oktober 1965.

Begitu pula dengan Sugiyono yang juga diculik, lalu dibunuh. Saat kejadian Sugiyono masih berpangkat Letnan Kolonel Infanteri dan menjabat sebagai Kepala Staf Korem 72. Ia diculik oleh anggota Batalyon L di ruang kerjanya Makoren 72.

Sugiyono dibunuh dengan menggunakan kunci martil nomor 8, dan saat itu jenazah Sugiyono dimasukkan ke lubang yang sama dengan Katamso, ketika Sugiyono dimasukkan ke lubang masih terdengar suara dengkur. Untuk menghilangkan nyawa Sugiyono, dilempari batu hingga Sugiyono gugur.

"Kami mengingatkan kader dan simpatisan PK untuk mengenang pahlawan bangsa, untuk menghormati jasa mereka yang luar biasa. Kami rutin menggelar, ini murni untuk mengenang jasa para pahlawan, tahun lalu juga kami melaksanakan tepat 30 September," ucap dia.

Lebih lanjut, Mas'udi menuturkan bahwa Gerakan 30 September 1965 menjadi sebuah peringatan yang harus direfleksikan bersama agar tak terjadi lagi di kemudian hari.

Sehingga ia mengingatkan Indonesia yang saat ini sebagai negara demokrasi, tak seharusnya menempuh jalan pergantian kekuasaan melalui kudeta.

"G30 September adalah gerakan untuk mengkudeta pemerintah yang sah, kita harus ingat jangan sampai peristiwa seperti itu terulang lagi. Kita negara demokrasi, pemindahan kekuasaan harus lewat pemilu bukan lewat kudeta. Kami mengingatkan masyarakat akan hal itu," pungkasnya.

(M Wulan)