Konten Media Partner

Wisatawan Keluhkan Tarif Ziarah ke Makam Raja Imogiri Capai Ratusan Ribu Rupiah

29 April 2024 17:18 WIB
·
waktu baca 4 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Suasana kawasan wisata Makam Raja di Imogiri, Bantul. Foto: istimewa
zoom-in-whitePerbesar
Suasana kawasan wisata Makam Raja di Imogiri, Bantul. Foto: istimewa
ADVERTISEMENT
sosmed-whatsapp-green
kumparan Hadir di WhatsApp Channel
Follow
Publik di jagat maya media sosial X kembali dihebohkan dengan adanya keluhan wisatawan saat berkunjung ke makam Raja-raja Imogiri, Bantul.
ADVERTISEMENT
Wisatawan itu mengeluh usai dikenakan besaran tarif yang cukup besar yakni mencapai ratusan ribu saat hendak masuk ke destinasi wisata religi di Yogyakarta itu. Padahal biasanya, biaya masuk bagi wisatawan yang mau berziarah ke makam ini bersifat sukarela dengan mengisi kotak infak yang sudah disediakan.
Jika ingin menyewa pakaian tradisional maka harus merogoh kocek sebesar Rp10.000 saja.
"Bisakah admin mengangkat berita tentang makam Raja di Imogiri. Soalnya saya punya pengalaman yang sangat tidak baik," tulis unggahan ulang wisatawan itu di akun @merapi_uncover, dikutip Senin (29/4/2024).
"Kronologi dan kejadian nya. Saya rutin setiap tahun minimal sekali ziarah ke makam Pajimatan Imogiri. Pengalaman tahun ini sungguh diluar kebiasaan dan sangat mencoreng nama baik Jogja yang istimewa.
ADVERTISEMENT
Begini Min, saya sejak awal tahun 2000 sudah rutin ziarah ke makam raja-raja Mataram di pajimatan Imogiri artinya sudah 20 taun lebih. Tidak pernah ada masalah sbelumnya. Saya biasa bawa rombongan maksimal sampai 14 (2 mobil). Setelahnya bagi peziarah yang belum punya baju peranakan (baju khusus masuk ke makam disediakan persewaan harganya terakhir 15k per-orang baik pria maupun wanita," sambung keluhan tersebut.
Wisatawan itu mengaku sebelumnya juga pernah mendatangi makam Raja-raja itu, namun biaya yang dikenakan tidak sebesar itu. Selama ini, ia tidak mempermasalahkan biaya yang dikenakan meskipun seharusnya sukarela. Namun untuk kali ini, menurut dia sudah dibatas ketidakwajaran.
"Setelah prosesi ziarah selesai langsung kita turun dan membereskan segala hal termasuk berapa yang harus dibayarkan. Diluar dugaan kita serombongan harus membayar masing-masing wilayah @250k untuk para petugas (kuncennya) artinya 500k SANGAT KAGET SAYA MENDENGARNYA. Saya tidak bisa berbuat apa-apa karena kesalahan saya tidak menanyakan terlebih dahulu karena saya anggap masih seperti sebelumnya (biasanya sebelum nya setelah kita tanya berapa semuanya dijawab Kuncen "Sumonggo kerso" Dan kita juga paham ada berapa petugasnya saya sebenarnya tidak pernah kurang dari 300k kita kasih. Ketika harus membayar (ada Celetukan dalam hati saya ke makam kok bayar, setelah itu pengurus juga menyampaikan "Jangan ada istilah masuk makam bayar" Sambil meringis atau nyengir gitu," cerita wisatawan tersebut.
ADVERTISEMENT
Ia menjelaskan biaya tersebut baru di Sultan Agung saja, sementara di area makam lain juga dikenakan @100k.
"Total 700k (versi resmi lisan) belum persewaan baju peranakan. Dari ketiga pasarean yang saya kunjungi tersebut saya dikawal oleh orang yang sama ya min. Hanya personil paling banyak di area Sultan agung klo tidak salah sekitar 5-7 orang," jelasnya.
"Ini yang sangat "MEMALUKAN NAMA BAIK JOGJA". Ketika tidak sanggup mungkin juga karena tidak siap (tidak ada ATM) atau tidak punya kemudian dinegosiasikan dan hanya bayar seikhlasnya saja klo tidak salah 200 atau 300 gitu," pungkasnya.
Menanggapi kejadian itu, Plt Kundo Kabudayan Bantul, Slamet Pamuji mengaku pihaknya tidak bisa berbuat banyak dengan keluhan tersebut.
ADVERTISEMENT
Sebab, untuk urusan Makam Raja Imogiri itu menjadi kewenangan dari pengelola dan yang mengelola tidak berhubungan dengan Dinas Kebudayaan atau Pemerintah Kabupaten Bantul. Makam raja-raja Imogiri itu dikelola langsung oleh abdi dalem, dimana untuk kadipaten Ngayogyakarto dikelola Abdi Dalem Keraton Yogyakarta dan untuk yang Surakarta dikelola abdi dalem surokarto.
"Yang mengelola itu tidak langsung berhubungan dengan dinas kebudayaan atau dinas pariwisata kabupaten Bantul. Kalau retribusinya retribusi ya mungkin itu hanya berdasarkan Perda dan itu untuk pendapatan asli daerah kabupaten," ujar dia, saat dikonfirmasi, Senin (28/4/2024)
Sementara Panewu (Camat) Imogiri, Slamet Santosa menyesalkan adanya peristiwa tersebut. Meskipun sudah merupakan kewajiban dari Abdi dalam atau pengelola, seharusnya tidak boleh memberatkan para pengunjung dengan mengenakan biaya yang besar seperti kejadian tersebut.
ADVERTISEMENT
"Sangat disayangkan ya karena ada kejadian seperti itu bukan pertama kali," tambahnyam
Kendati demikian, kebijakan terkait tarif masuk ataupun tarif untuk menyewa pakaian dan tata cara berziarah merupakan urusan internal dari pengelola makam.
"Saya sudah berkomunikasi dengan pengageng yang berwenang memberikan informasi. Namun belum direspon atas kejadian itu ya memang disayangkan," pungkasnya.
(M Wulan)