Konten Media Partner

Aliran Lahar Gunung Semeru Pernah Makan Korban Jiwa di Tahun 1994

Tugu Malangverified-green

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Cerita Warga Lumajang

Kondisi Sungai Sumbersari di Desa Supiturang, Kecamatan Pronojiwo, Kabupaten Lumajang, pasca diterjang lahar panas Gunung Semeru, pada Selasa (1/12/2020). Foto: Ben
zoom-in-whitePerbesar
Kondisi Sungai Sumbersari di Desa Supiturang, Kecamatan Pronojiwo, Kabupaten Lumajang, pasca diterjang lahar panas Gunung Semeru, pada Selasa (1/12/2020). Foto: Ben

LUMAJANG - Sungai bekas aliran lahar panas di Dusun Sumbersari, Desa Supiturang, Kecamatan Pronojiwo, Kabupaten Lumajang, tampak mengepulkan asap tebal. Kepulan asap itu muncul dari kondisi material endapan lava yang masih panas disertai bunyi-bunyi serupa rebusan air.

Ya, bekas sungai besar yang sudah mati alias tak teraliri air lagi itu, kini memutih akibat longsoran lahar dari kawah Jonggring Saloka, Gunung Semeru. Seperti diketahui, gunung berapi tertinggi di Pulau Jawa itu memuntahkan lahar panas disertai suara letusan, pada Selasa dini hari (1/12/2020), sekitar pukul 02.00 WIB.

Dibarengi hujan lebat, guguran lava panas ini meluncur hingga sejauh 2 ribu meter menyusuri daerah aliran sungai yang tidak jauh dari pemukiman warga. Persisnya, mencapai hingga Sungai Besuk Kobokan, Desa Curah Kobokan dan Sungai Sumbersari, Desa Supiturang, Kabupaten Lumajang di sisi timur gunung.

Pemandangan ini rupanya tak asing bagi warga sekitar. Terutama yang sudah berusia 40-an ke atas. Karena kejadian serupa sudah pernah mereka alami, yakni pada medio 1994 silam.

Seperti dituturkan Ketua RT 12 Dusun Sumbersari, Zaenal Abidin. Dia menceritakan, dulu sewaktu dia kecil, tepatnya pada tahun 1994, juga pernah merasakan hal yang sama. Bedanya, kejadian pada 1994 silam itu memakan korban jiwa.

"Dulu soalnya di seberang sungai Sumbersari itu ada pemukiman warga. Saat lahar turun, akhirnya mereka kena juga,'' kisah dia, sembari menunjuk arah di seberang sungai.

Dia menceritakan, dulu namanya Dusun Supit Timur yang terletak dipunggungan yang terjepit dipertemuan antara sungai Besuk Bang dan Besuk Supit. Lokasi ini adalah lokasi yang sama dimana ada 4 sapi dan 3 kambing ternak milik warga jadi korban guguran lava panas Semeru, pada Selasa kemarin (1/12/2020).

''Ketujuh ternak ini mati terpanggang mengenaskan. Itu milik kakak saya, kandang ternak dekat sungai itu,'' ucap Mistar (40), adik kandung pemilik ternak.

Merunut data Dasar Gunung Api di Indonesia dari Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral Badan Geologi Indonesia, sejarah letusan Gunung Semeru ini sudah tercatat pertama kali di tahun 1811, persisnya pada 8 November.

Selang bertahun-tahun berikutnya, aktivitas vulkanik di kawah Jonggring Seloka terjadi secara fluktuatif. Dimana saat terjadi letusan eksplosif, biasanya diikuti aliran awan panas yang mengalir ke daerah lebih rendah sesuai bukaan kawah dan lembah-lembah di Gunung Semeru.

Saat ini, arah bukaan kawah cenderung mengarah ke arah tenggara atau ke hulu Besuk Kembar, Besuk Bang, dan Besuk Kobokan di Kabupaten Lumajang.

Tahun 1994 masuk salah satu aktivitas tertinggi Semeru sepanjang sejarah. Persisnya pada 3 Februari guguran awan panas meluncur hingga sejauh 11,5 km dengan volume mencapai 6,8 juta m3. Akibatnya, memakan korban 7 orang dan 2 orang hanyut diterjang lahar pada 13 Februari 1994.

Guguran awan panas terakhir tercatat pada 29-30 Desember 2002, dimana aliran awan panas guguran turun sejauh 9000 m mendekati dusun Supit Timur di sisi barat Besuk Bang, dan dusun Rawabaung di sisi timur Besuk Bang, masing-masing di ketinggian 750 mdpl.

Seismograf di Pos Pengamatan di Gunung Sawur, juga mencatat adanya gempa banjir diperkirakan memasuki Besuk Bang dan Besuk Kembangan. Sejauh ini, tidak terjadi korban jiwa maupun kerusakan rumah atau fasilitas umum baik di dusun Supit Timur maupun di dusun Rawabaung.

Sejak itu, Dusun Supit Timur telah dikosongkan oleh sebagian penduduknya. Hingga kini tidak lagi boleh ada pemukiman lantaran menjadi aliran lahar paling aktif. Hingga kemudian, aliran lahar dengan volume besar kembali dimuntahkan pada Selasa kemarin.

Dari informasi yang dihimpun, aliran lahar mengaliri Sungai Besuk Kobokan, tak jauh dari lokasi aliran lahar di Dusun Sumbersari. Disana, didapati ada banyak pekerjaan tambang pasir di DAS Rejali, DAS Besuk Semut, dan DAS Besuk Sat.

Diketahui, ada sejumlah alat berat pertambangan ikut diterjang lava panas ini. Diidentifikasi ada 2 unit backhoe, 2 unit louder, 2 unit dump truck, dan 1 unit bus pariwisata. Semua milik perusahaan tambang pasir.

"Informasinya, saat kejadian masih ada sejumlah masyarakat penambang yang masih bekerja dini hari itu. Dari 10 pekerja yang terdata, ada 1 orang yang belum diketahui hingga kini. Lebih pastinya, kita masih tunggu informasi lebih lanjut,'' ungkap Koordinator Tagana Lumajang, M Eko Santoso.

Hingga berita ini ditulis, sebagian warga memilih kembali memulai aktivitas bertani seperti biasa. Namun, statusnya masih level 2 Waspada. Penduduk sekitar pada malam hari masih ada yang bertahan di posko aman pengungsian, terutama anak, ibu dan wanita lansia hingga situasi vulkanik gunung berapi benar-benar dinyatakan kondusif.