Bertemu Fakhri, Difabel yang Sukses Merintis Usaha Kafe di Malang

Fakhri terlihat sigap ketika tahu salah seorang pengunjung kafe menumpahkan minuman. Dia langsung ambil alat pel, lalu membersihkan sisa tumpahan itu.
Meski dia menjadi pemilik di kafe itu, tapi Fakhri tidak segan-segan untuk turun tangan langsung. "Kafe ini milik saya dan kakak saya, tapi yang bertanggungjawab saya, karena kakak saya cuma menanam saham saja," kata Fakhri membuka pembicaraan saat ditemui tugumalang.id di kafenya yang bernama Suaco, di daerah Merjosari, Kota Malang, beberapa hari lalu.
Fakhri memang memiliki keterbatasan fisik. Dia adalah difabel tuna daksa. Tangan kirinya, lebih kecil dibanding tangan kanannya. Kendati mempunyai kekurangan fisik, Fakhri tidak patah semangat. "Saya tidak pernah merasa minder, kalau diolok-olok tidak sering, cuma saat SMA, itupun tidak lama," kata pria asli Gresik, Jawa Timur itu.
Dia lantas bercerita asal mula dirinya merintis kafe yang didirikan sejak 1 Mei 2019 itu. Dua tahun sebelum mendirikan kafe itu, dia bekerja sebagai pegawai outsourcing di salah satu perbankan milik Badan Usaha Milik Negara (BUMN). "Saat itu saya diminta perusahaan penyedia jasa outsourcing, mereka butuh karyawan dari unsur difabel," imbuh pria 25 tahun itu.
Karena tawaran itulah, sejak 2017 dia bekerja sebagai staf di perbankan tersebut. "Selama bekerja ya seperti orang normal, dan tidak mendapat perlakuan khusus," imbuhnya.
Menurut dia, bekerja di perusahaan besar, menjadikan dia belajar soal kedisiplinan dan manajemen. "Nah, karena saya rasa sudah cukup, saya resign dan mendirikan kafe ini," jelas alumnus Universitas Brawijaya (UB) ini.
Dari awal, dia memang menaruh minat pada dunia wirausaha. Alasannya, menurut dia sederhana, yakni dia ingin bermanfaat bagi orang lain. "Selain itu, saya tidak begitu suka diperintah-perintah, dari awal memang ikut orang untuk belajar," imbuhnya.
Untuk membangun kafe, sewa tanah, dan membeli peralatan, menurut dia dirinya butuh dana Rp 500 juta. Karena itulah, dia patungan dengan kakaknya. "Kalau saya ambil uang dari tabungan, dan pinjam orang tua, tapi nanti akan dikembalikan," ucapnya.
Berjalan enam bulan, menurut Fakhri, kafenya cukup menjanjikan. Rata-rata, ada total 170 item makanan dan minuman yang terjual. "Omzetnya sehari sekitar dua juta lima ratus rupiah," imbuhnya.
Jumlah omzet tersebut menurut dia sudah untung. Lantaran, targetnya sehari sekitar Rp 2 juta. "Karena inilah, selama satu tahun setengah sudah balik modal. Untuk tempat ini saya sewa tanahnya saja, dan membangun sendiri. Kita sewa lima tahun," imbuhnya.
Ke depan, dia ingin mempekerjakan para difabel. Lantaran, dia ingin difabel bisa berdaya, dan disepelehkan orang lain. "Kalau sekarang, pekerja saya ada empat, dan itu belum ada yang difabel," katanya.
Untuk kunci suksesnya berwirausaha, menurut dia setidaknya ada tiga kunci sukses. Pertama adalah ibadah, lalu sedekah, dan yang ketiga bersungguh-sungguh. "Kenapa beribadah, karena yang mengatur rezeki itu adalah Allah," kata alumnus SMAN 1 Manyar, Gresik ini.
Dalam berbisnis, dia mengaku terinspirasi dari pengusaha Bob Sadino. "Karena beliau benar-benar dari nol, dan bisa sukses," pungkas anak ketiga dari tiga bersaudara ini," lanjutnya.
Reporter : Irham Thoriq
