News
·
4 Februari 2021 14:18

Dentuman di Malang, BMKG: Itu Fenomena Thunderstorm

Konten ini diproduksi oleh Tugu Malang
Dentuman di Malang, BMKG: Itu Fenomena Thunderstorm (19778)
Ilustrasi petir. Foto: Pixabay
MALANG - Suara dentuman misterius masih terjadi di Malang Raya hingga Kamis dini hari (4/2/2021). Meski frekuensinya sudah tak serapat sebelumnya. Namun hingga saat ini, sumber suara itu belum dapat dipastikan mengingat tidak terdeteksi dalam alat sensor manapun.
ADVERTISEMENT
Kepala Stasiun Geofisika Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Karangkates - Malang, Makmuri, masih mendalami sumber suara itu. Dugaan sementara, bahwa suara itu bersumber dari aktivitas petir. Mengingat, kondisi cuaca ekstrem yang tengah berlangsung.
"Kalau dilihat dari cuacanya kan hujan turun cukup lebat disertai angin kencang. Bisa jadi, dugaan kita, cuaca ekstrem itu yang menimbulkan petir dan menghasilkan suara seperti dentuman,'' terangnya, pada Kamis (4/2/2021).
Dia menambahkan, cuaca ekstrem diprediksi masih akan berlangsung hingga beberapa hari ke depan. Jadi, fenomena alam itu juga artinya masih akan dijumpai.
Hal senada juga disimpulkan Kepala Mitigasi Gempa dan Tsunami BMKG, Daryono. Bahwa, suara dentuman itu muncul dari fenomena thunderstorm alias badai petir di tengah cuaca ekstrem ini.
ADVERTISEMENT
''Soal itu kita sudah pegang peta datanya. Jelang tengah malam sekitar jam 01.00 WIB hingga 04.00 WIB. Pada jam 01.00 WIB itu peta (intensitas) petirnya memang banyak,'' ungkapnya.
Jika dirincikan, gelombang petir mulai terjadi pukul 00.00 WIB di timur laut sekitaran Bangil, Jatim. Pada jam 02.00 WIB, petir juga berada di wilayah Lawang, Kabupaten Malang, Kota Malang, hingga Mojokerto.
Terkait sebab gelombang petir hingga menimbulkan suara gema dentuman, kata dia, juga akibat cuaca ekstrem. Saat ini, adalah puncak-puncaknya. ''Kalau malam itu kan hening. Itu kalau dari kondisi cuaca dan jarak tertentu memang bisa terjadi dentuman petir. Jadi lebih jelas, apalagi dari jauh terdengarnya seperti dentuman yang menggema," paparnya.
Dia menambahkan, memang ada kemungkinan lain. Tapi dipastikan dari kemungkinan yang ada itu bukan jawaban. Mulai meteor jatuh, letusan gunung, gempa dangkal, hingga bahan peledak militer.
ADVERTISEMENT
''Meteor jatuh seperti pernah terjadi di Bali, itu ada lintasannya terlihat di seismograf. Gempa dangkal juga pernah di Jogja tahun 2006, di Merbabu tahun 2014. Yang paling sering memang karena petir," tegasnya.
Sebab itu, Daryono mengimbau masyarakat untuk tidak panik dan khawatir. ''Itu sudah pasti badai petir (thunderstorm). Ada aktivitas kelistrikan udara. Jadi masyarakat tidak perlu cemas," pungkasnya.