Edukasi Pilot Drone Indonesia, Arya Dega Kolaborasi dengan Pegiat Luar Negeri

MALANG-Arya Dega, adalah salah satu aktivis drone Indonesia yang cukup populer kiprahnya. Tak hanya di Indonesia, tapi juga di luar negeri.
Semenjak pandemi COVID-19 ini, Dega sering melakukan diskusi lewat live Instagram di akunnya @aryadega bersama pegiat dan perusahaan drone dari luar negeri.
Tak tanggung-tanggung mulai dari perusahaan Drone Aviation asal India, DJI Malaysia dan Pix4D yang merupakan Drone Mapping Industry asal Swiss dan terbesar di dunia.
"Kemarin juga diskusi dengan komunitas drone asal Brazil yang semua anggotanya perempuan," imbuh Arya Dega saat dihubungi oleh tugumalang.id pada Jumat (19/06/2020).
Alumni Universitas Brawijaya (UB) ini mengatakan jika ia kebanyakan mendiskusikan terkait regulasi penerbangan drone di negara mereka masing-masing.
"Tujuannya untuk edukasi ke masyarakat dan juga pilot-pilot drone di Indonesia. Karena sama teman-teman saya dipandang sebagai aktivis drone Indonesia, jadi sebagai kontribusinya saya harus sharing pengetahuan," jelasnya bersemangat.
Setelah berbagai diskusi dengan narasumber dari beberapa negara, Dega menyadari bahwa regulasi penerbangan drone di seluruh dunia itu sama. "Karena mengacu pada regulasi penerbangan sipil sehingga semuanya sama," ujarnya.
Pria 42 tahun ini menjelaskan jika ketinggian drone maksimum adalah 120 meter atau 400 kaki dari permukaan tanah.
"Untuk sertifikasi pilot drone itu ketat di luar negeri, jadi kalau mau menerbangkan drone dan tidak punya sertifikat kita harus mengurus ijin tapi screeningnya lama," paparnya tegas.
"Jadi, harus tahu backgroundnya pilot drone ini seperti apa dan keperluannya apa. Sementara yang sudah punya sertifikat itu sudah cukup sebagai jaminan bahwa orang ini sudah berkompeten untuk menerbangkan drone dan sudah mengerti tentang regulasi," sambungnya.
Lebih lanjut, ia mengatakan jika Indonesia merupakan negara dengan jumlah komunitas drone terbesar di dunia."Dibandingkan dengan India, Malaysia, Brazil, Jepang, Swiss kita lebih besar jumlah komunitasnya," kata pria yang juga seorang vlogger ini.
Dega juga mengungkapkan jika di dunia saat ini edukasi mengenai regulasi penerbangan drone sudah sangat gencar.
"Mungkin kalau di Indonesia karena berbahasa Inggris jadi kendala disitu. Dan Juga belum ada kejelasan hukum mengenai penerbangan drone di Indonesia. Peraturannya sudah ada, tapi belum ada sanksi jelas," tutur pria yang juga dosen di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) ini.
Ia mengkisahkan kejadian di Singapura bahwa sempat ada orang yang menerbangkan drone di bandara, sehingga ia dituntut ke pengadilan.
"Nah, di Indonesia belum ada pihak yang menuntut, jadi masih bingung juga teman-teman," ungkapnya.
Dega juga memiliki harapan agar Indonesia tidak hanya menjadi konsumen drone saja, tapi juga bisa berinovasi membuat drone sendiri. Bukan hanya sekedar merakit, tapi mendesign mulai dari komponen elektroniknya.
"Mudah-mudahan kedepannya ada perusahaan yang bisa membuat drone sendiri. Di India saja sudah ada, dronenya sendiri drone kecil mainan itu, tapi sudah design mereka sendiri," tegasnya.
"Tentunya bisa dipasarkan secara Internasional, dengan aplikasinya sendiri di smartphone," sambungnya.
Terakhir ia berharap agar lebih banyak pilot drone yang belajar menguasai dronenya sendiri. "Karena kebanyakan mereka menerbangkan drone tapi tidak tahu kalau motornya mati satu itu bagaimana penyelesaiannya," tukasnya.
Reporter: Rizal Adhi Pratama
