Konten Media Partner

Kala Biarawati di Pertapaan Karmel, Malang, Melakukan Penyerahan Diri

Tugu Malangverified-green

clock
comment
11
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Seorang biarawati telah bersumpah untuk mengabdikan diri pada Tuhan mereka. (Foto: Bayu Eka Novanta/Tugumalang.id)
zoom-in-whitePerbesar
Seorang biarawati telah bersumpah untuk mengabdikan diri pada Tuhan mereka. (Foto: Bayu Eka Novanta/Tugumalang.id)

TUGUMALANG.ID - Setiap jam 12 siang, perempuan berjubah cokelat menuju bangunan kecil untuk menarik tali lonceng sebagai penanda waktu beribadah. Mereka adalah para biarawati yang tinggal dalam satu pertapaan, yakni yang bernama Pertapaan Karmel.

Lokasinya berada di timur Kota Malang, Jawa Timur. Mereka mengabdikan diri dan hidupnya untuk Tuhan mereka. Tak tergoda dengan gemerlapnya dunia, mereka memilih jalan terang mereka sendiri dengan menjadi pelayan Tuhan-nya.

Meninggalkan segala bentuk keduniawian termasuk pernikahan, dan hidup dalam kesederhanaan. Hanya jubah berwarna cokelat, pakaian yang mereka kenakan sehari-hari. Meninggalkan segala barang pribadi yang mereka miliki, apapun itu.

MENARA: Tampak salib menjulang dari sebuah menara di Pertapaan Karmel, Malang. (Foto: Bayu Eka Novanta/Tugumalang.id)

Untuk menjadi biarawati, bukanlah perjalanan yang singkat. Setidaknya membutuhkan waktu selama 7 hingga 9 tahun agar bisa menjadi pelayan Tuhan seutuhnya. Salah satunya seperti yang dilakukan oleh Suster Petra, biarawati yang tinggal di pertapaan ini.

Dia menceritakan, proses ini diawali dari kesadaran diri dengan mendaftarkan sebagai biarawati. Mereka kemudian harus menjalani kehidupan di pertapaan. Berdoa, melayani umat, dan beberapa kegiatan lain mereka lakoni.

Calon biarawati harus menjalani waktu yang panjang. Yakni sekitar 7-9 tahun. (Foto: Bayu Eka Novanta/Tugumalang.id)

Setelah melewati proses itu, barulah mereka akan diikat oleh sebuah cincin, sebagai penanda bahwa mereka telah menjadi biarawati sepenuhnya.

Sebelum mendapatkan cincin, yang menandakan mereka sudah terikat dengan gereja, mereka masih diberi kesempatan untuk memantapkan diri, yakni apakah tetap memilih sebagai biarawati atau kembali ke keluarga.

Sebagian besar dari mereka memilih kesederhanaan menjadi biarawati. Hidup di pertapaan layaknya orang yang telah menikah. Mereka mengibaratkan pemberian cincin sama dengan pengikat hubungan dalam suatu pernikahan. Ini juga sebagai penanda jika mereka harus setia, taat, patuh terhadap aturan gereja dan juga tidak menikah. (*)

Seorang biarawati membunyikan lonceng tanda waktu untuk beribadah. (Foto: Bayu Eka Novanta/Tugumalang.id)
YESUS dan BUNDA MARIA: Para biarawati ini mengabdikan dan menyerahkan diri pada Tuhan mereka dengan legawa dan ikhlas. (Foto: Bayu Eka Novanta/Tugumalang.id)
Seorang biarawati masuk ke dalam kapel di Pertapaan Karmel, Malang. (Foto: Bayu Eka Novanta/Tugumalang.id)
BERSAMA UMAT: Tampak seorang biarawati menyapa ramah, bertegur sapa dengan jemaat. (Foto: Bayu Eka Novanta/Tugumalang.id)
CINCIN IKATAN: Mereka mengibaratkan pemberian cincin sama dengan pengikat hubungan dalam suatu pernikahan. Ini juga sebagai penanda jika mereka harus setia, taat, patuh terhadap aturan gereja dan juga tidak menikah lagi. (Foto: Bayu Eka Novanta/Tugumalang.id)
JALAN TERANG: Menjadi biarawati membutuhkan proses. Ini merupakan perjalanan menuju pengabdian pada Tuhan dan jalan yang terang. (Foto: Bayu Eka Novanta/Tugumalang.id)
BERSIMPUH: Pada Tuhan Yesus biarawati tampak bersimpuh dan berserah diri. (Foto: Bayu Eka Novanta/Tugumalang.id)