Kayutangan Heritage di Kota Malang Bawa Harapan

Konten Media Partner
1 April 2022 18:21
·
waktu baca 6 menit
sosmed-whatsapp-whitecopy-link-circlemore-vertical
Kayutangan Heritage di Kota Malang Bawa Harapan (78014)
zoom-in-whitePerbesar
Kayutangan Heritage. Foto: Instagram @dodoo.aldo_
ADVERTISEMENT
Penataan kawasan Jalan Basuki Rahmat atau kini lebih dikenal dengan nama Kayutangan Heritage tak ayal membawa perubahan. Pendar sinar Kayutangan yang sempat meredup, kini mulai menyala. Harapan besarnya, titik ini bisa menjadi titik kumpul manusia dari berbagai penjuru. Lalu kembali berjaya, seperti sejarah awalnya dulu
Kayutangan Heritage di Kota Malang Bawa Harapan (78015)
zoom-in-whitePerbesar
Kayutangan Heritage. Foto: Ulul Azmy
MALANG - Di sudut jalan kawasan legendaris Kota Malang, Jawa Timur, yang bernama Kayutangan, di depan bedak rokok dan aneka macam jajanan, berdiri seorang pria dengan tangan menyilang di belakang. Pandangannya menerawang, memandang lalu-lalang orang di depannya.
ADVERTISEMENT
Pria itu merasa jalanan yang dia lihat sejak kecil itu ramai sekali, tak seperti sebelumnya. Ingatannya jauh melayang pada tiga tahun lalu, di tempat yang sama. Waktu itu, suasana di sana tampak gelap, tidak banyak pejalan kaki yang lewat.
Kawasan yang dulunya menjadi lambang kejayaan; sebagai pusat bisnis dan hiburan itu, seolah jadi kota mati. Banyak gedung dan pertokoan beraksitektur lawas mangkrak tak terawat, tanpa penghuni.
Hanya beberapa pengusaha yang konsisten tetap berkecimpung di sana. Pedagang kaki lima (PKL) saja bahkan jarang memilih Kayutangan untuk mangkal, saking sepinya. Hanya ada beberapa pedagang kopi yang memilih bertahan. Salah satunya adalah Ivan (40).
Ivan bersama ibunya memutuskan berjualan kopi ala kadarnya di sana pada 2019. Mereka menggelar tikar seadanya untuk pelanggan menikmati kopi dan jajanan ringan. Sehari-hari, mereka melayani pembeli yang rata-rata adalah tetangga, tukang becak, dan kalau beruntung, anak-anak muda pesepeda yang sedang nongkrong.
ADVERTISEMENT
''Sekarang udah beda, banyak orang ke sini. Akhirnya saya putuskan buka rombong kecil-kecilan. Sewa di tanah milik kampung. Alhamdulillah ikut kecipratan rejeki sejak Kayutangan Heritage ini dibangun,'' kata Ivan kepada Tugu Malang ID.
Sejak dibukanya Kayutangan Heritage dengan wajah baru pada Desember 2021, penghasilan Ivan ikut bertambah. Dari yang semula paling banter menjual 15-25 gelas semalam, kini dia bisa menjual hingga 30-an lebih gelas kopi dalam sehari.
''Alhamdulilah, Mas. Semoga bisa rame terus disini,'' harapnya.
Seperti diketahui, kawasan bernilai historis tinggi ini punya wajah baru. Paling ikonik terletak pada wajah pedestriannya yang kini ditata rapi, lengkap dengan bangku duduk yang tersebar di tiap sudut. Warga juga disuguhi latar pemandangan pertokoan yang berpadu dengan sederetan lampu hias berornamen gaya lawas.
ADVERTISEMENT
Sejak dibuka, wajah baru Kayutangan atau 'Houten Hand' dalam bahasa Belanda ini, mendapat respon positif. Perlahan, banyak masyarakat berkunjung untuk sekedar duduk-duduk, jalan-jalan, berswafoto, hingga menikmati kudapan dari berbagai unit usaha kuliner yang mulai bermunculan.
Kayutanganpun kembali mendapatkan tempat di benak masyarakat. Sebelumnya, masyarakat enggan jalan-jalan ke Kayutangan karena kondisi pedestrian yang tidak memadai. Belum lagi karena faktor kondisi deretan bangunan lawas yang tidak terawat sehingga memunculkan kesan angker.
''Kalau dulu saya takut mau jalan-jalan ke sana. Sore sampai malem di sanakan sepi, gelap lagi. Apalagi bangunan-bangunannya gak kerawat, jadi kayak angker gitu. Dulukan gitu, kalau sekarang ya sudah banyak kafe dan PKL,'' kata Rahma (25), pejalan kaki di Kayutangan Heritage.
ADVERTISEMENT
Rahma menyambut penataan kawasan Kayutangan ini dengan positif karena menjadi alternatif baru warga untuk berjalan-jalan. Rahma sendiri sering ke sini dan betah duduk berlama-lama, bahkan sampai petang sekalipun.
''Apalagi anak-anak muda sekarang lagi gandrung bikin konten TikTok ya. Saya seneng sih jalan-jalan ke sini, rame. Bisa sambil cuci mata. Syukur-syukur dapat kenalan,'' ungkapnya, cengengesan.
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Selain menjadi ruang publik, Kayutangan Heritage diharapkan juga membawa angin segar bagi para pelaku seni dan budaya. Kayutangan yang terletak di jantung kota ini, bisa menjadi panggung seni yang menjadi magnet menarik pengunjung.
Seperti dikatakan Cipto (28) yang berpendapat jika langkah penataan kawasan Kayutangan ini dinilai menjadi pancingan awal agar kawasan ini kembali pada fitrahnya. Menjadi ruang publik. Seperti sejarah kejayaannya dulu, di era kolonial yang jadi pusat perniagaan dan bertemunya pebisnis dan kalangan termasuk insan kreatif dari berbagai penjuru.
ADVERTISEMENT
Seiring waktu, Kayutangan menjadi pusat kegiatan hiburan publik. Dulu di sini ada gedung bioskop yang artinya banyak insan muda-mudi dari berbagai latar belakang dan wilayah Kota Malang datang untuk menonton film. Dari pertemuan itu, kemudian lahirlah ide-ide kreatif nan bernas datang dari anak muda.
Atmosfer kreatif seperti itulah yang diimpikan Cipto. Bukan tidak mungkin nanti Kayutangan Heritage ini dapat memunculkan seniman-seniman baru, para pegiat seni yang bersinergi dalam membangun iklim kesenian yang riuh beriringan dengan pariwisata dan ekonomi masyarakat.
''Harapan saya sih Kayutangan yang baru ini bisa jadi panggung. Maksudnya jadi pusat kegiatan publik yang diisi dengan berbagai kegiatan kreatif anak muda. Jadi ramaikan nanti, pedagang juga akan dapat untungnya. Secara iklim kan jadi positif, ya?,'' paparnya.
ADVERTISEMENT
Hidupkan Gairah Investasi Kayutangan
Penataan di sepanjang koridor Kayutangan ini diakui dapat menjadi magnet baru pertumbuhan investasi di Kota Malang. Selama ini, gedung dan bangunan pertokoan tidak lagi memiliki daya jual karena untuk menata ulang bangunan lama butuh waktu dan biaya yang tak sedikit.
Tokoh pengusaha Malang, Donny Kris Puriyono ikut angkat bicara perihal ini. CEO Malang Strudel itu optimistis Kayutangan punya daya pikat sendiri dibanding kawasan lain. Dengan ditata ulang, tentu bisa menjadi awal kebangkitan Kayutangan yang dulunya dikenal sebagai kawasan elite itu.
''Saya kira di sana hanya tinggal tunggu waktu saja. Langkah penataan sudah tepat. Tinggal pemerintah nanti mengenalkan grand design-nya seperti apa dan semua pihak akan menyesuaikan agar tidak ada tumpang tindih,'' ungkap Donny Kris.
ADVERTISEMENT
Menurut Donny, penataan Kayutangan Heritage yang semula digagas Kementerian PUPR senilai Rp 23 miliar ini, harus digarap lebih serius lagi oleh daerah. Apalagi, Kayutangan adalah salah satu kawasan ikonik Kota Malang yang juga mendapat perhatian banyak pihak.
''Jadi tinggal ditata lagi grand design-nya, sambil jalan. Saya yakin nanti kalau jadi, maka dampak multiplier effect-nya akan ada. Kawasan jadi hidup, pengunjung dan wisatawan berdatangan, akhirnya ekonomipun bertumbuh,'' kata pria kelahiran Malang 20 April 1982 ini.
Donny yang juga tumbuh besar di Malang dari daerah Lawang itu menuturkan bahwa riak pro kontra yang terjadi sekarang adalah hal yang lumrah. Sejak dipasangnya sederet lampu jalan hias bergaya klasik di sana, kawasan ini sering disebut mengekor gaya penataan di Malioboro, Yogyakarta atau Kota Lama, Semarang.
ADVERTISEMENT
Namun Presiden TDA 6.0 ini menganggap bahwa itu hanya kesan di awal saja. Pada akhirnya, Kayutangan akan menemukan wajahnya sendiri. Saat ini masih terlalu dini untuk menilai Kayutangan karena sebenarnya penataan itu belum rampung sepenuhnya.
''Malioboro untuk bisa dikenal sampai sekarang itukan sudah puluhan tahun. Nanti, Kayutangan juga begitu. Prosesnya masih panjang,'' paparnya.
Pada akhirnya, penataan di sepanjang koridor Jalan Basuki Rahmat ini sedikit besar mampu membawa perubahan. Pendar sinar Kayutangan yang sempat meredup, kini mulai menyala lagi. Harapan besarnya, titik ini bisa menjadi titik kumpul manusia dari berbagai penjuru. Lalu kembali berjaya, seperti sejarah awalnya dulu.(*)
Baca Lainnya
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020