Konten Media Partner

Kurikulum Merdeka Untuk SMK, Dirjen Vokasi: Cetaklah Entrepreneur, Bukan Tukang

Tugu Malangverified-green

ยทwaktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Dirjen Vokasi Kemendikbudristek RI, Wikan Sakarinto. Foto: tangkapan layar
zoom-in-whitePerbesar
Dirjen Vokasi Kemendikbudristek RI, Wikan Sakarinto. Foto: tangkapan layar

MALANG - Menghadapi era revolusi industri 4.0, pemerintah tengah getol menggaungkan konsep merdeka belajar. Konsep pembelajaran yang fokus pada pengembangan talenta siswa ini, juga tengah diterapkan di lingkup pendidikan vokasi dan yang paling mendasar adalah di jenjang SMK (Sekolah Menengah Kejuruan).

Konsep Merdeka Belajar tentu sangat bertolak belakang dengan konsep pembelajaran gaya lama di Indonesia yang mengadopsi konsep pembelajaran di Jerman era 1970-an. Sementara, di negeri Panzer itu, kini sudah mereformasi gaya itu dan Indonesia justru masih menerapkan pola yang sama.

Perubahan ini tentu membutuhkan waktu yang tidak sebentar. Saat ini, kurikulum merdeka belajar butuh sosok guru yang revolusioner, terutama di lingkup SMK dan Vokasi. Di mana selama ini SMK mendapat stigma sebagai lembaga pencetak tukang alias pekerja. Ini menjadi tantangan besar pemerintah dalam mengubah citra pendidikan itu.

Dirjen Vokasi Kemendikbudristek RI, Wikan Sakarinto (kiri) dan Direktur GWPP, Nurcholis MA Basyari (kanan). Foto: tangkapan layar

'Tantangan terbesar saat ini ada pada guru, kepala sekolah, dan tenaga pendidik lainnya. Soal kesiapan mindset, mindset untuk berubah,'' tegas Dirjen Vokasi Kemendikbudristek RI, Wikan Sakarinto, saat menjadi pembicara dalam program Fellowship Jurnalisme Pendidikan Batch IV yang digagas Gerakan Wartawan Peduli Pendidikan berkolaborasi dengan PT Paragon Technology and Innovation, pada Senin 28 Maret 2022.

Upaya yang dilakukan Kemendikbudristek dalam hal ini juga terus dilakukan lewat pelatihan guru-guru SMK. Bahkan, sebut dia, upaya mengubah mindset lama ini sudah memakan anggaran hingga ratusan miliar rupiah.

"Kami menganggarkan ratusan miliar itu untuk training guru dan dosen. Terutama training mindset. Link and match. Tidak hanya sekadar teori, tapi juga lebih pada practical based, pada project based learning, kemudian unsur pedagogi," ungkapnya.

Menurut Wikan, fungsi guru hari ini sudah harus berubah. Dari tadinya guru merupakan sosok yang ditakuti dan dihormati, kini sudah harus mengubah fungsinya menjadi seorang fasilitator atau coach. Sekat-sekat dalam dunia pendidikan sudah harus dijebol.

Sosok guru sebagai fasilitator ini nanti akan selaras dalam penerapan kegiatan belajar sesuai kurikulum baru yang berbasis pada project based learning atau Teaching Factory (TeFa).

Penerapan TeFa di SMK ini nantinya akan berfokus pada pembelajaran terhadap siswa didik untuk menciptakan produk atau jasa sesuai minat dan bakatnya masing-masing.

''Jadi nanti sejak kelas dua itu dia sudah kita beri tanggung jawab untuk mengerjakan projek. Project riil (nyata) atas permintaan konsumen betulan. Siswa sendiri yang nyari konsumen. Dari situlah dia belajar dan memperkaya pengalaman,'' jelasnya.

Dari penerapan TeFa ini, kata dia, sosok guru masa depan memiliki peran yaitu dengan membekali siswa didik dengan karakter leadership yang baik, mempertajam daya literasi, numerasi, kreativitas, dan berpikir kritis.

''Dengan begitu, SMK nanti tidak akan menciptakan tukang tapi melahirkan seorang entrepreneur sejati, seorang pembelajar sepanjang hayat. Sekarang tinggal mindset itu tadi. Saya kira sudah banyak berubah. Kita tinggal hanya mengawalnya terus,'' ujarnya.(*)