Mengenal Simon Bambang, Peneliti yang Abdikan Ilmu untuk Masyarakat

MALANG - Sosoknya tegas namun tetap bersahaja. Begitulah kesan pertama dari sosok Guru Besar Universitas Brawijaya (UB), Prof Dr Ir Simon Bambang Widjanarko MApp Sc, saat ditemui di rumahnya, pada Kamis lalu (2/7/2020).
Usianya memang sudah tidak muda lagi, namun semangat Simon sebagai seorang peneliti masih terus menyala dalam dirinya.
Guru besar yang akrab dipanggil Profesor Simon ini telah menekuni bidang food technology selama program pendidikan magister dan doktor di University of New South Wales, Sydney.
Selama 12 tahun terakhir ini, Simon mengungkapkan bahwa saat ini penelitiannya fokus pada pemrosesan umbi porang menjadi tepung porang dan ekstrak glukomanan.
Umbi porang ini sendiri memang dikenal mengandung glukomanan yang merupakan serat alami yang larut dalam air dan biasa digunakan sebagai aditif makanan dan berfungsi sebagai pengental.
“Kalau di dunia internasional porang ini disebutnya konjac dan umbi ini bisa menjadi bahan pengental untuk produk makanan terutama banyak digunakan pada produk jelly, seperti produk Okky Jelly Drink oleh Garudafood,” terang Profesor Simon antusias.
Lebih lanjut, guru besar sekaligus Ketua Laboratorium Pilot Plant Fakultas Teknologi Pertanian (FTP) UB ini mengungkapkan, bahwa penelitiannya sudah berada di level produksi. Proses produksi ini juga dilakukan di Laboratorium Pilot Plant itu sendiri yang berada di Desa Kepuharjo, Kabupaten Malang.
“Jadi ini sudah berupa industri. Nanti tepung porangnya untuk bahan baku makanan seperti mi, olahan daging, dan bakso. Kapasitas produksi untuk saat ini kira-kira 1 ton selama 4 hari. Prosesnya dimulai dari pengolahan umbi menjadi chip lalu diolah lagi menjadi tepung yang bisa digunakan untuk industri pangan,” jelas Profesor Simon.
Melalui penelitiannya ini, Profesor Simon berharap bahwa hasil budidaya umbi porang ini bisa lebih bermanfaat kepada para petani Indonesia khususnya. Industri-industri kecil dan menengah juga diharapkan dapat tumbuh dari adanya hasil riset yang dilakukannya.
“Masih banyak masyarakat yang belum tahu apa manfaat dan cara pengolahan dari umbi porang. Jadi, melalui hasil riset ini publikasi tepung porang bisa lebih meluas kepada masyarakat Indonesia,” tuturnya.
Berkaitan dengan harapannya tersebut, sosok dosen dan peneliti ini mengungkapkan kedekatannya dengan petani di desa dan pelaku UMKM.
Dengan antusias, dia menjelaskan bahwa melalui kedua proses tersebut, dia menemukan beragam gagasan untuk penelitiannya.
“Saya sering kali pergi ke desa dan ngobrol dengan para petani. Selain itu juga banyak tamu-tamu dari UMKM yang menemui saya untuk berbagi cerita dan hambatannya. Dari situ saya berpikir apa yang bisa saya buat sebagai solusi dan sebelum membuat tentu saya harus melakukan riset terlebih dahulu,” ungkapnya.
Keinginan untuk terus berkarya dan mengabdikan ilmunya kepada masyarakat, senantiasa mengisi kesibukan Profesor Simon dalam kesehariannya. Dia bertekad untuk memberikan sosok akademisi yang mencerminkan bahwa usia tidak menghentikan seseorang untuk terus berkarya dan melakukan penelitian.
“Meskipun sudah menjadi doktor maupun guru besar tetap tidak boleh berhenti berkarya,” pesannya.
Sikap ini pun terbukti dari deretan penghargaan yang diperolehnya sebagai seorang peneliti yang terus aktif dalam mempublikasikan karya-karya penelitiannya.
Tercatat, Profesor Simon memperoleh penghargaan Rangking 1 Dosen Terbaik se-Universitas Brawijaya kategori Science dan Technology pada tahun 2018 dari Rektor UB.
Selain itu, dia juga meraih CIVA AWARD Dosen Terdisiplin sejak tahun 2014 sampai dengan 2018 dari Himpunan Mahasiswa Teknologi Hasil Pertanian.
Melalui kesempatan ini, sosok profesor kelahiran Kediri ini mengungkapkan bahwa dia juga tengah merencanakan gagasan untuk penelitian selanjutnya yang akan memanfaatkan walur.
“Walur ini sampai saat ini masih belum ada manfaatnya dan tidak punya nilai. Jadi saya ingin menggunakannya untuk bahan baku plastik karena plastik inikan mencemari lingkungan dan saya ingin bikin bioplastik dari walur ini,” jelasnya penuh antusias.
Reporter : Andita Eka Wahyuni
