Konten dari Pengguna

Wiji Thukul: Sastra Merupakan Alat Perjuangan

Tutur Literatur

Tutur Literatur

O Captain, My Captain. (Whitman, 1865)

clock
comment
5
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Tutur Literatur tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Wiji Thukul: Sastra Merupakan Alat Perjuangan
zoom-in-whitePerbesar

Ketika rekan-rekan senimannya masih diliputi kegamangan untuk terlibat dalam perjuangan politik, Thukul lantang berseru bahwa seniman adalah korban dari sistem antidemokrasi dan wajib merebut kemerdekaannya sendiri.

Tak sedikit yang menyayangkan bergabungnya Thukul dalam politik praktis, termasuk guru Thukul di Teater Jagat. Meurut sang guru, seniman tak seharusnya terlibat politik praktis karena karena dengan begitu akan membahayakan keselamatan diri Thukul sendiri. Lawu, sang guru berpesan pada Thukul:

Thukul, hati-hati memilih kalau sudah di politik praktis. Ada kemungkinan kamu ditangkap, dibunuh, dibuang, dan dikejar-kejar.

Namun, Thukul sudah siap menanggung segala risikonya. Baginya, sastra merupakan salah satu alat perjuangan.

Meski tubuhnya kurus kerempeng, keberanian Thukul bisa diumpamakan dengan keberanian seekor singa. Ia menjadi peggerak demokrasi besar di Kedungomba, Sritex. Selalu berada di garda barisan terdepan, Thukul menjadi serangan aparat yang secara membabi-buta menyerbu para demonstran. Thukul dipukuli, disiksa hingga tuli dan nyaris buta, meninggalkan cacat di mata kanannya. Semenjak saat itu, Thukul dicurigai sebagai dalang demonstrasi, puisi-puisinya dianggap sebagai penggerak rakyat kecil menyuarakan protes mereka. Ia pun menjadi salah satu aktivis yang paling diincar saat itu.

Puncak kerusuhan terjadi pada 27 Juli 1996. PRD yang juga didirikan Thukul dibubarkan secara paksa dan anggotanya menjadi buronan. Demi menyelamatkan diri, Thukul pun harus rela meninggalkan anak serta istri dengan berpindah dari satu kota ke kota lain, dan dari satu persembunyian ke persembunyian lain. Dalam persembunyiannya, Thukul masih sempat menulis Aku Masih Utuh dan Kata-kata Belum Binasa!

Namun, ketika akhirnya pemerintahan Soeharto berhasil dilengserkan, ia tak juga keluar dari persembunyiannya dan hingga kini tak tentu di mana rimbanya.

embed from external kumparan

Ciri Khas Karya Wiji Thukul

Puisi Wiji Thukul, oleh kalangan intelek seringkali dianggap mendobrak nilai-nilai sastra. Akan tetapi ketika seni diartikan sebagai suatu hal yang indah, ia memberikan penafsiran yang berbeda.

Hidup dalam keadaan ekonomi yang serba sulit, membuatnya merasa tak masuk akal jika menuliskan puisi dengan kata-kata yang indah dan 'nyastra'. Bagaimana mungkin dari got, pemukiman kumuh, dan penderitaan yang sehari-hari dilihatnya bisa ditransformasikan ke dalam suatu karya seni yang romantis dan mendayu-dayu.

Thukul adalah seorang penyair yang menjadikan puisi sebagai sarana ekspresi yang menyuarakan isi hati serta mampu menggambarkan apa yang dilihat dan dirasakannya secara realistis. Diksi yang dipilihnya pun merupakan kata-kata sederhana yang tak hanya bisa dimengerti oleh kaum intelek, namun juga dipahami oleh semua kalangan dari berbagai latar belakang sosial dan pendidikan.

Sejalan dengan kesederhanaan bahasa yang digunakan, dalam puisi-puisinya, Thukul mengupas kehidupan rakyat kecil yang merasakan pahit kemiskinan dan penderitaan di bawah kepemimpinan rezim otoriter Order Baru. Tak dinyana, penggalan-penggalan puisi Thukul masih digaungkan sampai sekarang oleh kaum buruh dan kelompok marjinal yang menyuarakan aspirasi mereka.

Mungkin puisi-puisi Thukul tak indah, tapi baginya untuk menyatakan protes dan penderitaan tak perlu perumpamaan.

Waktu aku jadi buronan politik karena bergabung dengan Partai Rakyat Demokratik namaku diumumkan di koran-koran rumahku digrebek – biniku diteror dipanggil Koramil diinterogasi diintimidasi (anakku –4 th—melihatnya!) masihkah kau membutuhkan perumpamaan untuk mengatakan : AKU TIDAK MERDEKA

Jakarta, 1 Nopember 1997