Konten dari Pengguna

Teknologi Canggih Saja Tak Cukup untuk Menjamin Keberhasilan Bisnis

UM Bandung

UM Bandung

Akun resmi Universitas Muhammadiyah Bandung

·waktu baca 3 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari UM Bandung tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Teknologi canggih saja tak cukup untuk menjamin keberhasilan bisnis (Sumber: Humas UM Bandung).***
zoom-in-whitePerbesar
Teknologi canggih saja tak cukup untuk menjamin keberhasilan bisnis (Sumber: Humas UM Bandung).***

Bandung – Perkembangan teknologi, perubahan perilaku konsumen, dan ketidakpastian ekonomi membuat perusahaan harus semakin cepat beradaptasi.

Untuk menghadapi kondisi tersebut, dunia usaha tidak cukup hanya mengandalkan teknologi, tetapi juga harus meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM).

Hal itu disampaikan Direktur Compliance & Human Capital PT Bank Syariah Indonesia (BSI) Arief Adhi Sanjaya dalam Stadium Generale Executive Insight Series (EIS) Volume 1 yang digelar di Auditorium KH Ahmad Dahlan, Universitas Muhammadiyah (UM) Bandung, Jalan Soekarno-Hatta Nomor 752, Rabu (28/10/2026).

Dalam kegiatan bertema “Strategi Inovasi dan Resiliensi Menuju Masa Depan Bisnis Berkelanjutan” tersebut, Arief mengatakan bahwa inovasi dan kemampuan beradaptasi menjadi faktor penting bagi perusahaan untuk tetap bertahan dan berkembang di tengah persaingan bisnis.

Menurutnya, perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI), perubahan kebutuhan pelanggan, hingga kondisi ekonomi yang tidak menentu menuntut perusahaan untuk terus memperbarui cara kerja dan meningkatkan kemampuan pegawainya.

Arief mengutip laporan Deloitte 2026 yang menyebutkan bahwa 85 persen pemimpin perusahaan menganggap kemampuan beradaptasi sebagai keterampilan yang sangat penting.

Namun, hanya 7 persen yang menilai organisasinya sudah mampu membantu pegawai untuk terus beradaptasi dan berkembang.

Data tersebut, menurutnya, menunjukkan adanya kesenjangan antara kesadaran perusahaan terhadap pentingnya perubahan dan kesiapan mereka dalam menghadapinya.

Oleh karena itu, perusahaan perlu melakukan langkah nyata, mulai dari meningkatkan keterampilan pegawai, memperbaiki sistem kerja, hingga membangun budaya organisasi yang terbuka terhadap perubahan.

Arief menjelaskan bahwa inovasi tidak selalu berarti menciptakan teknologi baru. Inovasi juga dapat dilakukan dengan menemukan cara yang lebih efektif untuk menyelesaikan masalah, meningkatkan pelayanan, dan memberikan manfaat bagi pelanggan maupun masyarakat.

Selain inovasi, ia menekankan pentingnya resiliensi atau kemampuan perusahaan untuk tetap tangguh saat menghadapi tekanan.

Kemampuan tersebut diperlukan agar kegiatan usaha tetap berjalan, risiko dapat dikendalikan, dan perusahaan mampu kembali berkembang setelah menghadapi kesulitan.

Ia mencontohkan transformasi yang dilakukan BSI. Menurutnya, perubahan dalam perusahaan membutuhkan tujuan yang sama, kerja sama antardivisi, serta budaya kerja yang kuat agar seluruh pegawai dapat bergerak ke arah yang sama.

Arief menilai keberhasilan transformasi bisnis tidak hanya bergantung pada penggunaan teknologi canggih. Kepemimpinan, integritas, kualitas pegawai, dan kemampuan bekerja sama juga memiliki peran besar dalam menjaga keberlanjutan usaha.

Dalam kesempatan itu, Arief turut mengingatkan mahasiswa agar mulai mempersiapkan diri menghadapi perubahan dunia kerja.

Penguasaan teknologi digital, kreativitas, kemampuan berpikir kritis, serta kemauan untuk terus belajar menjadi keterampilan yang semakin dibutuhkan perusahaan.

“Dengan bekal tersebut, saya berharap generasi muda mampu melihat perubahan bukan sebagai ancaman, melainkan sebagai peluang untuk berinovasi, berkembang, dan memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat,” tegas Arief.

Sementara itu, Rektor UM Bandung Herry Suhardiyanto mengapresiasi Program Studi Magister Manajemen yang telah menghadirkan praktisi industri perbankan dalam kegiatan tersebut.

Menurut Herry, kegiatan ini menjadi kesempatan bagi mahasiswa untuk memahami kondisi dunia bisnis secara langsung, terutama terkait perkembangan ekonomi, industri keuangan syariah, dan kebutuhan tenaga kerja pada masa mendatang.

Ia mengatakan bahwa pengalaman praktisi industri dapat melengkapi pengetahuan yang diperoleh mahasiswa selama perkuliahan. Dengan begitu, mahasiswa bisa memahami bagaimana teori manajemen diterapkan untuk menghadapi persoalan nyata di perusahaan.

Herry juga menilai inovasi menjadi kebutuhan bagi seluruh pelaku usaha, baik perusahaan besar maupun usaha berskala kecil. Di tengah perkembangan teknologi dan kondisi ekonomi yang sulit diprediksi, kemampuan mencari peluang baru menjadi salah satu cara untuk menjaga keberlangsungan bisnis.

Selain itu, Herry mengingatkan bahwa sektor perbankan memiliki standar yang tinggi dalam merekrut dan mengelola tenaga kerja.

Perusahaan membutuhkan pegawai yang tidak hanya menguasai bidang keilmuannya, tetapi juga memiliki keterampilan, kedisiplinan, dan integritas.

Oleh karena itu, ia mendorong mahasiswa UM Bandung untuk terus meningkatkan kompetensi agar memiliki daya saing dan mampu memenuhi kebutuhan industri, termasuk apabila ingin berkarier di sektor perbankan.