Dampak Pandemi, Sumsel Masuk Daftar 10 Daerah Termiskin di Indonesia

Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel) berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), pada September 2020 masuk 10 daftar penduduk miskin di Indonesia. Dampak pandemi corona (COVID-19) yang terjadi sejak Maret 2020 memicu tingkat persentase penduduk miskin mencapai 12,98 persen.
Kepala BPS Provinsi Sumsel, Endang Tri Wahyuningsih mengatakan, persentase penduduk miskin di Sumatera Selatan sebesar 12,98 % pada September 2020 dengan laju pertumbuhan atau perlambatan 0,32 persen selama pandemi, dan ini lebih rendah dari rata-rata nasional yang mencapai 0,41 persen.
“Tahun lalu sebenarnya Sumsel juga berada di peringkat 10 di Indonesia, dan dampak pendemi terhadap kemiskinan juga menyerang seluruh daerah di Indonesia, semua daerah naik," katanya, Kamis (18/2).
Endang menyebut, sejumlah program sudah dijalankan dengan baik, pertumbuhan ekonomi mengalami perbaikan, namun tetap COVID-19 juga membuat tingkat kemiskinan meningkat.
Endang membeberkan, Sumsel masih cukup baik jika dilihat dari laju pertumbuhannya, bahkan lebih baik dari rata-rata nasional. Pada level 12 persen juga ada Lampung dan Yogyakarta, sedangkan di atas Sumsel ada Sulawesi Tengah yang mencapai 13,06 persen.
“Usia kerja di Sumsel yang terdampak pandemi mencapai 9,8 persen, rata-rata masalah yang terjadi karena PHK. Sedangkan dalam kondisi tertentu seperti sudah tua dan sakit atau sudah tidak produktif mencapai 5 hingga 6 persen,” tutur Endang.
Sementara itu, persentase penduduk miskin di daerah perkotaan pada September 2019 sebesar 11,94 persen naik menjadi 12,16 persen pada Maret 2020 dan naik menjadi 12,52 persen pada September 2020. Sementara persentase penduduk miskin di daerah perdesaan naik dari 12,93 persen pada September 2019 menjadi 12,96 persen pada Maret 2020 dan naik menjadi 13,25 persen pada September 2020.
Peranan kelompok makanan terhadap Garis Kemiskinan jauh lebih besar dibandingkan peranan kelompok bukan makanan seperti perumahan, sandang, pendidikan dan kesehatan. Sumbangan Garis Kemiskinan Makanan (GKM) terhadap Garis Kemiskinan (GK) September 2020 tercatat sebesar 74,49 persen sama dengan kondisi Maret 2020 dan sedikit turun jika dibandingkan kondisi September 2019 yang sebesar 74,71 persen.
Komoditas makanan yang berpengaruh besar terhadap Garis Kemiskinan di perkotaan relatif sama dengan di perdesaan, diantaranya adalah beras, rokok kretek filter, telur ayam ras, cabe merah, daging ayam ras, mie instan, gula pasir, roti, kue basah, kopi bubuk & kopi instan (sachet), dan bawang merah. Sedangkan komoditas bukan makanan adalah perumahan, bensin, listrik, pendidikan, perlengkapan mandi dan pakaian jadi perempuan dewasa. (eno)
