Konten dari Pengguna

AI Bisa Mengubah Dunia Kerja, Tapi Siapa yang Siap Berubah?

Meki Suhendri

Meki Suhendri

Mahasiswa S1 Akuntansi Universitas Pamulang

·waktu baca 7 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Meki Suhendri tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

https://images.pexels.com/photos/5324853/pexels-photo-5324853.jpeg
zoom-in-whitePerbesar
https://images.pexels.com/photos/5324853/pexels-photo-5324853.jpeg

Dulu, ketika mendengar kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI), banyak orang mungkin membayangkan robot yang berjalan seperti manusia.

Sekarang tidak lagi.

AI sudah masuk ke pekerjaan sehari-hari. Membuat tulisan, merangkum dokumen, menerjemahkan bahasa, menganalisis data, membuat gambar, membantu pemrograman, sampai menjawab pertanyaan pelanggan.

Bagi sebagian orang, AI adalah alat untuk bekerja lebih cepat.

Bagi sebagian lainnya, AI justru menimbulkan pertanyaan yang lebih mengkhawatirkan:

Kalau pekerjaan saya bisa dibantu AI, apakah suatu hari pekerjaan saya masih dibutuhkan?

Pertanyaan itu bukan lagi sekadar cerita tentang masa depan.

Perubahan dunia kerja sudah mulai berlangsung.

AI Tidak Selalu Menghilangkan Pekerjaan

Ketika membicarakan AI dan pekerjaan, kita sering terjebak pada satu pertanyaan: pekerjaan apa yang akan hilang?

Padahal, pertanyaan yang tidak kalah penting adalah: pekerjaan apa yang akan berubah?

International Labour Organization (ILO) dalam kajian 2025 memperkirakan sekitar satu dari empat pekerja di dunia berada dalam pekerjaan yang memiliki tingkat paparan terhadap Generative AI.

Namun, ILO juga menekankan bahwa hasil yang paling mungkin bukan seluruh pekerjaan digantikan, melainkan pekerjaan tersebut mengalami transformasi karena sebagian tugasnya dapat dibantu AI.

Artinya, seorang pekerja mungkin tidak kehilangan pekerjaannya.

Tetapi cara dia mengerjakan pekerjaan tersebut bisa berubah total.

Seorang staf administrasi mungkin masih dibutuhkan, tetapi tidak lagi menghabiskan sebagian besar waktunya untuk pekerjaan administratif yang berulang.

Seorang pekerja pemasaran tetap diperlukan, tetapi pembuatan ide awal, analisis data, atau materi promosi tertentu dapat dibantu AI.

Seorang akuntan tetap dibutuhkan, tetapi proses pengolahan data dan pekerjaan rutin bisa semakin banyak dibantu teknologi.

Jadi masalah sebenarnya bukan sekadar “AI menggantikan manusia”.

Masalahnya adalah manusia yang tidak beradaptasi bisa tertinggal dari manusia lain yang mampu menggunakan AI.

Dunia Kerja Sedang Bergerak Lebih Cepat

Perubahan ini bukan sekadar prediksi.

World Economic Forum (WEF) dalam Future of Jobs Report 2025 memperkirakan bahwa hingga 2030, berbagai perubahan ekonomi, teknologi, dan sosial dapat menciptakan sekitar 170 juta pekerjaan baru, tetapi juga menyebabkan sekitar 92 juta pekerjaan terdampak hingga mengalami displacement.

Secara bersih, laporan tersebut memperkirakan adanya peningkatan sekitar 78 juta pekerjaan.

Angka tersebut menunjukkan sesuatu yang menarik.

Teknologi tidak hanya menciptakan pengangguran.

Teknologi juga menciptakan kebutuhan baru.

Pekerjaan di bidang data, AI, teknologi informasi, keamanan digital, dan berbagai pekerjaan yang membutuhkan kemampuan teknologi diperkirakan tumbuh.

Namun pada saat yang sama, pekerjaan yang tugasnya sangat rutin dan mudah didigitalisasi menghadapi perubahan lebih besar.

Artinya, dunia kerja tidak sedang bergerak menuju kondisi “tidak ada pekerjaan”.

Dunia kerja sedang bergerak menuju kondisi jenis pekerjaan dan keterampilan yang dibutuhkan semakin berbeda.

Masalahnya: Tidak Semua Orang Berubah dengan Kecepatan yang Sama

Di sinilah persoalan yang lebih serius muncul.

AI bisa berkembang sangat cepat.

Tetapi kemampuan manusia untuk mempelajari teknologi baru tidak selalu bergerak dengan kecepatan yang sama.

Ada pekerja yang sudah terbiasa menggunakan AI untuk membantu pekerjaan.

Ada yang baru mulai mengenal chatbot.

Ada pula yang bahkan belum mendapatkan kesempatan untuk belajar menggunakannya.

Perbedaan ini dapat menciptakan kesenjangan baru.

Bukan hanya kesenjangan antara orang yang memiliki akses internet dan yang tidak.

Tetapi juga antara orang yang mampu memanfaatkan teknologi dan orang yang hanya menjadi pengguna pasif.

BPS sendiri terus memantau kondisi ketenagakerjaan Indonesia melalui berbagai indikator pekerjaan layak. Publikasi Indikator Pekerjaan Layak di Indonesia 2025 yang dirilis pada April 2026 menggambarkan kondisi ketenagakerjaan Indonesia melalui data Sakernas.

Ini penting karena transformasi AI seharusnya tidak hanya dibicarakan dari sisi teknologi.

Kita juga harus bertanya:

Apakah pekerja Indonesia sudah mendapatkan kesempatan yang cukup untuk ikut berubah?

Yang Terancam Bukan Hanya Pekerjaan “Biasa”

Ada anggapan bahwa AI hanya akan mengganggu pekerjaan sederhana.

Anggapan tersebut semakin sulit dipertahankan.

AI generatif sekarang dapat membantu pekerjaan yang sebelumnya dianggap sangat bergantung pada kemampuan manusia, seperti menulis, membuat desain, mengolah informasi, menerjemahkan, membuat kode, dan menganalisis berbagai jenis data.

ILO bahkan menunjukkan bahwa pekerjaan administratif atau clerical occupations termasuk kelompok pekerjaan dengan tingkat paparan GenAI yang relatif tinggi. Pekerjaan profesional dan teknis yang sangat terdigitalisasi juga semakin terpapar seiring kemampuan AI berkembang.

Namun bukan berarti semua orang harus menjadi programmer.

Justru di sinilah kita perlu berhenti berpikir bahwa kemampuan AI hanya berarti kemampuan membuat perintah kepada chatbot.

Kemampuan yang dibutuhkan jauh lebih luas.

Mampu memeriksa informasi.

Mampu berpikir kritis.

Mampu memahami data.

Mampu berkomunikasi.

Mampu memecahkan masalah.

Dan yang paling penting, mampu mengetahui kapan AI boleh digunakan dan kapan keputusan tetap harus berada di tangan manusia.

Bukan Siapa yang Paling Pintar, Tapi Siapa yang Mau Belajar

Ada kemungkinan seseorang kalah bersaing bukan karena dirinya kurang pintar.

Tetapi karena dia berhenti belajar ketika dunia di sekitarnya terus berubah.

WEF memperkirakan perubahan teknologi akan membuat kebutuhan keterampilan pekerja berubah secara signifikan hingga 2030. Kemampuan teknologi memang semakin penting, tetapi keterampilan manusia seperti berpikir kreatif, kolaborasi, dan kemampuan kognitif juga tetap menjadi bagian penting dari dunia kerja masa depan.

Ini berarti masa depan bukan sekadar milik orang yang paling menguasai teknologi.

Masa depan lebih mungkin menjadi milik orang yang mampu menggabungkan teknologi dengan kemampuan manusia.

AI bisa membuat tulisan.

Tetapi manusia harus menentukan apakah tulisan tersebut masuk akal.

AI bisa menganalisis data.

Tetapi manusia harus memahami konteksnya.

AI bisa memberikan banyak pilihan.

Tetapi manusia tetap harus menentukan keputusan.

Di situlah nilai manusia belum selesai.

Perusahaan Juga Harus Berubah

Pembicaraan mengenai kesiapan menghadapi AI tidak boleh hanya dibebankan kepada pekerja.

Perusahaan juga memiliki tanggung jawab.

Jika perusahaan membeli teknologi baru tetapi tidak memberikan pelatihan kepada pekerjanya, teknologi tersebut justru dapat menciptakan kesenjangan di dalam organisasi.

Pekerja yang sudah mampu menggunakan AI akan semakin produktif.

Pekerja yang tidak mendapatkan pelatihan bisa semakin tertinggal.

Pada akhirnya, persoalannya bukan lagi sekadar teknologi apa yang dimiliki perusahaan.

Tetapi seberapa siap manusia di dalam perusahaan menggunakan teknologi tersebut.

WEF mencatat bahwa 86 persen pemberi kerja yang disurvei memperkirakan AI dan teknologi pemrosesan informasi akan mentransformasi bisnis mereka hingga 2030.

Angka tersebut seharusnya menjadi peringatan bagi perusahaan.

AI bukan lagi sesuatu yang cukup dibicarakan dalam seminar.

Perusahaan perlu memikirkan bagaimana pekerjanya dapat beradaptasi.

Pemerintah Juga Tidak Bisa Hanya Menjadi Penonton

Perubahan dunia kerja dalam skala besar membutuhkan kebijakan.

Pemerintah perlu memastikan bahwa perkembangan AI tidak hanya menguntungkan perusahaan yang memiliki modal dan teknologi, tetapi juga membuka kesempatan bagi pekerja untuk meningkatkan kemampuan.

Hal ini mulai terlihat dalam perhatian pemerintah terhadap dampak AI terhadap tenaga kerja.

Pada Agustus 2026, Kementerian Komunikasi dan Digital menekankan pentingnya kesiapan tenaga kerja Indonesia menghadapi perubahan dunia kerja akibat AI. Pemerintah juga menyoroti bahwa AI generatif membawa peluang peningkatan produktivitas sekaligus kekhawatiran terhadap perubahan struktur pekerjaan.

Artinya, pemerintah pun melihat bahwa persoalannya bukan sekadar bagaimana Indonesia menggunakan AI.

Tetapi bagaimana masyarakat Indonesia dipersiapkan untuk hidup dan bekerja di tengah perubahan tersebut.

Pelatihan, pendidikan, peningkatan keterampilan, dan akses terhadap teknologi akan menjadi semakin penting.

Karena teknologi yang canggih tidak banyak membantu jika manusianya tidak diberi kesempatan untuk belajar.

Jadi, Siapa yang Siap Berubah?

Pertanyaan terbesar tentang AI mungkin bukan:

“Pekerjaan apa yang akan hilang?”

Tetapi:

“Siapa yang siap ketika pekerjaannya berubah?”

Jawabannya tidak bisa hanya ditentukan oleh usia, gelar pendidikan, atau jenis profesi.

Seorang pekerja yang mau belajar menggunakan teknologi baru bisa memiliki peluang lebih besar dibanding seseorang yang merasa pekerjaannya akan selalu aman.

Begitu pula mahasiswa.

Kuliah tidak cukup hanya untuk mendapatkan ijazah.

Di tengah perubahan teknologi, mahasiswa juga perlu membangun kemampuan yang membuatnya tetap relevan: berpikir kritis, berkomunikasi, memahami teknologi, bekerja sama, dan mampu belajar hal baru.

Karena setelah lulus, dunia kerja mungkin tidak lagi menanyakan:

“Kamu bisa menggunakan AI atau tidak?”

Pertanyaannya bisa menjadi lebih sederhana sekaligus lebih sulit:

“Apa yang bisa kamu lakukan dengan AI yang tidak bisa dilakukan orang lain?”

Jangan Menunggu AI Mengubah Kita

AI kemungkinan akan terus berkembang.

Teknologinya akan semakin mudah digunakan.

Pekerjaan akan terus berubah.

Beberapa tugas mungkin hilang. Tugas baru akan muncul. Sebagian pekerjaan akan menjadi lebih cepat, sementara sebagian lainnya membutuhkan kemampuan manusia yang lebih tinggi.

Kita tidak bisa menghentikan perubahan hanya karena takut menghadapinya.

Tetapi kita juga tidak boleh menerima teknologi tanpa memikirkan dampaknya bagi manusia.

Yang dibutuhkan adalah kesiapan.

Pekerja perlu belajar.

Perusahaan perlu melatih.

Kampus perlu menyesuaikan pendidikan.

Pemerintah perlu menyiapkan kebijakan.

Dan masyarakat perlu memahami bahwa belajar tidak berhenti ketika seseorang mendapatkan ijazah.

Sebab di era AI, mungkin bukan teknologi yang paling menakutkan.

Yang lebih menakutkan adalah ketika dunia berubah, tetapi kita memilih untuk tetap sama.

AI memang bisa mengubah dunia kerja.

Namun pada akhirnya, pertanyaan terbesarnya bukan apakah AI akan berubah.

AI pasti berubah.

Pertanyaannya adalah:

Apakah kita juga siap berubah bersamanya?