Konten dari Pengguna

Jangan Cari Bisnis yang Viral, Cari Masalah yang Mau Dibayar Orang

Meki Suhendri

Meki Suhendri

Mahasiswa S1 Akuntansi Universitas Pamulang

·waktu baca 5 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Meki Suhendri tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

https://images.pexels.com/photos/29530642/pexels-photo-29530642.jpeg
zoom-in-whitePerbesar
https://images.pexels.com/photos/29530642/pexels-photo-29530642.jpeg

Banyak orang ingin menjadi pengusaha.

Ketika ingin memulai, pertanyaan pertama yang muncul biasanya sederhana: “Jualan apa yang sedang viral?”

Lalu mulailah berburu.

Kopi kekinian? Bisa.

Makanan pedas? Bisa.

Minuman yang sedang ramai di TikTok? Ikut.

Reseller? Boleh.

Bisnis online? Mengapa tidak?

Masalahnya, kalau semua orang berpikir dengan cara yang sama, kita bukan sedang membangun bisnis. Kita sedang berlari mengejar tren yang sama.

Padahal ada pertanyaan yang jauh lebih penting sebelum mengeluarkan modal:

“Masalah apa yang dialami orang di sekitar saya, dan apakah mereka mau membayar untuk solusinya?”

Jangan Terlalu Terobsesi dengan Bisnis Viral

Bisnis viral memang menggoda. Produk terlihat ramai, pelanggan antre, media sosial penuh dengan kontennya.

Tetapi yang terlihat di layar hanya bagian depannya.

Kita jarang melihat berapa banyak orang yang gagal setelah mengikuti tren yang sama. Kita juga tidak selalu tahu berapa besar biaya produksi, biaya sewa, ongkos promosi, atau margin keuntungan di balik sebuah bisnis.

Akibatnya, calon pengusaha sering terjebak dalam satu kesalahan: mengira sesuatu yang ramai berarti pasti menguntungkan.

Padahal ramai belum tentu laku di tempat kita.

Produk yang laris di pusat kota belum tentu laris di lingkungan perumahan. Makanan yang digemari mahasiswa belum tentu cocok untuk pekerja kantoran. Harga yang dianggap murah oleh satu kelompok bisa dianggap mahal oleh kelompok lainnya.

Bisnis bukan soal meniru apa yang sedang ramai.

Bisnis adalah soal menemukan siapa yang membutuhkan sesuatu dan memberikan solusi yang bersedia mereka bayar.

Masalah Sederhana Bisa Menjadi Bisnis

Coba lihat lingkungan sekitar.

Ada mahasiswa yang kesulitan mencetak tugas ketika sudah malam. Mungkin itu peluang jasa print antar kos.

Ada pekerja yang tidak sempat sarapan sebelum berangkat kerja. Mungkin peluangnya bukan membuka restoran besar, tetapi menyediakan sarapan praktis yang bisa dipesan lebih awal.

Ada ibu rumah tangga yang membutuhkan makanan siap masak karena tidak sempat memasak setiap hari. Bisa jadi peluangnya adalah makanan beku rumahan.

Tidak ada yang terdengar terlalu keren.

Tidak ada yang harus viral.

Tetapi semuanya berangkat dari masalah nyata.

Di sinilah calon pengusaha pemula perlu mengubah cara berpikir.

Jangan mulai dengan:

“Saya mau jual apa?”

Mulailah dengan:

“Orang-orang di sekitar saya sedang kesulitan apa?”

Pertanyaan kedua jauh lebih produktif.

Modal Penting, tetapi Bukan Segalanya

Sering kali calon pengusaha merasa tidak bisa memulai karena modalnya kecil.

Padahal memulai bisnis tidak selalu berarti langsung menyewa tempat, membeli banyak peralatan, membuat stok besar, dan memasang papan nama.

Justru untuk pemula, memulai dari skala kecil bisa menjadi cara untuk menguji apakah ide tersebut benar-benar dibutuhkan.

Jual sedikit.

Tawarkan kepada lingkungan terdekat.

Dengarkan komentar pelanggan.

Perbaiki produk.

Kemudian lihat apakah orang kembali membeli.

Ini penting karena persoalan usaha kecil di Indonesia bukan hanya soal keberanian memulai. BPS mencatat industri mikro dan kecil masih menghadapi sejumlah tantangan, termasuk keterbatasan akses dan modal, kualitas SDM dan manajemen, serta aspek legalitas.

Artinya, keberanian memang dibutuhkan.

Tetapi keberanian tanpa perhitungan bisa berubah menjadi kerugian.

Jangan Sampai AI Membuat Kita Semakin Malas Mengenal Pelanggan

Di era AI, mencari ide bisnis menjadi semakin mudah.

Tinggal bertanya kepada AI:

“Berikan 10 ide bisnis dengan modal kecil.”

Dalam beberapa detik, puluhan ide bisa muncul.

Tetapi ada satu hal yang tidak bisa digantikan oleh daftar ide tersebut: memahami pelanggan.

AI bisa membantu membuat konsep promosi.

AI bisa membantu menyusun nama produk.

AI bisa membantu membuat konten.

Tetapi calon pengusaha tetap harus keluar rumah, melihat lingkungan, berbicara dengan calon pelanggan, dan memahami apa yang benar-benar mereka butuhkan.

Sebab bisnis bukan sekadar permainan ide.

Bisnis adalah permainan memahami manusia.

Jangan Tunggu Ide yang Sempurna

Kesalahan lain calon pengusaha adalah terlalu lama mencari ide yang sempurna.

Padahal tidak ada ide yang bisa dijamin berhasil sebelum diuji.

Ide bagus bisa gagal karena harga tidak cocok.

Produk bagus bisa gagal karena lokasinya salah.

Bisnis sederhana bisa berkembang karena ternyata menyelesaikan masalah yang benar-benar dirasakan pelanggan.

Karena itu, daripada menghabiskan waktu berbulan-bulan mencari “bisnis paling menjanjikan”, lebih baik mulai mengamati lingkungan sendiri.

Lihat apa yang sering dikeluhkan orang.

Perhatikan apa yang membuat mereka repot.

Cari sesuatu yang mereka butuhkan berulang kali.

Kemudian tanyakan satu hal:

“Kalau saya memberikan solusi untuk masalah ini, apakah mereka bersedia membayar?”

Jika jawabannya iya, di situlah sebuah ide bisnis mulai memiliki alasan untuk hidup.

Bisnis Tidak Harus Viral untuk Bertahan

Kita terlalu sering menganggap kesuksesan bisnis harus terlihat di media sosial.

Padahal bisnis yang sehat tidak selalu ramai di Instagram atau TikTok.

Ada warung kecil yang pelanggannya itu-itu saja, tetapi setiap hari ada transaksi.

Ada jasa rumahan yang tidak pernah masuk FYP, tetapi pelanggan terus datang.

Ada pedagang kecil yang tidak punya logo mewah, tetapi produknya dicari.

Mereka mungkin tidak viral.

Tetapi mereka dibutuhkan.

Dan dalam bisnis, dibutuhkan pelanggan sering kali jauh lebih penting daripada sekadar dikenal banyak orang.

Pemerintah sendiri menempatkan pengembangan UMKM dan kewirausahaan sebagai bagian dari agenda 2025–2029, termasuk mendorong kewirausahaan dan ekonomi digital.

Namun, digitalisasi tidak boleh membuat calon pengusaha lupa pada prinsip paling dasar: kenali pasar sebelum menjual.

Jadi, Mau Memulai Bisnis?

Tidak perlu buru-buru mencari bisnis yang sedang viral.

Mulailah dengan berjalan keluar dan memperhatikan kehidupan di sekitar.

Cari masalah.

Dengarkan keluhan.

Amati kebiasaan orang.

Temukan kebutuhan yang belum terlayani dengan baik.

Kemudian buat solusi sederhana dan uji.

Sebab bisnis yang besar tidak selalu dimulai dari modal besar.

Dan bisnis yang bertahan tidak selalu dimulai dari ide yang viral.

Kadang-kadang, bisnis terbaik justru lahir dari masalah kecil yang dialami banyak orang, tetapi belum ada yang serius menyelesaikannya.

Jadi, sebelum bertanya “Saya mau jualan apa?”, mungkin sudah waktunya kita bertanya:

“Masalah siapa yang bisa saya bantu selesaikan?”

Dari situlah bisnis seharusnya dimulai.