Konten dari Pengguna

Mahasiswa Datang ke Kampus, tetapi Benarkah Mereka Belajar?

Meki Suhendri

Meki Suhendri

Mahasiswa S1 Akuntansi Universitas Pamulang

·waktu baca 8 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Meki Suhendri tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

https://www.pexels.com/id-id/foto/belajar-pendidikan-universitas-perbedaan-8197534/
zoom-in-whitePerbesar
https://www.pexels.com/id-id/foto/belajar-pendidikan-universitas-perbedaan-8197534/

Setiap hari, jutaan mahasiswa datang ke kampus. Mereka duduk di ruang kelas, membuka laptop, mencatat materi, mengerjakan tugas, mengikuti ujian, lalu menunggu nilai keluar.

Semuanya tampak seperti proses pendidikan yang normal.

Tetapi ada satu pertanyaan yang jarang kita ajukan: benarkah mereka sedang belajar?

Pertanyaan ini terdengar sederhana, bahkan mungkin menyebalkan bagi sebagian mahasiswa. Sebab selama ini belajar seolah-olah sudah selesai didefinisikan: datang ke kelas, hadir dalam presensi, mengerjakan tugas, mengikuti ujian, memperoleh nilai, lalu lulus.

Padahal belajar jauh lebih besar daripada itu.

Belajar berarti mampu memahami sesuatu, mempertanyakannya, menghubungkan satu persoalan dengan persoalan lain, menguji informasi, menyusun argumen, dan berani mengatakan, “Saya tidak setuju, karena…”

Di sinilah persoalan pendidikan tinggi kita mulai terasa.

Indonesia memiliki jumlah perguruan tinggi dan mahasiswa yang sangat besar. BPS secara rutin mencatat perkembangan jumlah perguruan tinggi, dosen, dan mahasiswa sebagai bagian dari potret pendidikan nasional. Namun banyaknya mahasiswa yang duduk di bangku perguruan tinggi tentu tidak otomatis berarti banyak pula manusia yang sedang belajar berpikir.

Kampus bisa penuh, ruang kelas bisa ramai, tugas bisa menumpuk, tetapi budaya belajar tetap bisa sepi.

Kampus dan Obsesi Mengejar Nilai

Salah satu masalahnya adalah kita terlalu mudah menyamakan belajar dengan nilai.

Mahasiswa bertanya, “Ujiannya kapan?”

Bukan, “Materi apa yang perlu saya pahami?”

Mahasiswa bertanya, “Ini masuk ujian tidak?”

Bukan, “Mengapa teori ini penting?”

Mahasiswa bertanya, “Minimal berapa halaman?”

Bukan, “Seberapa kuat argumen yang harus saya bangun?”

Perlahan, belajar berubah menjadi transaksi.

Dosen memberikan tugas. Mahasiswa mengerjakan. Nilai diberikan. Semester selesai.

Siklus itu terus berulang.

Tidak mengherankan jika sebagian mahasiswa akhirnya belajar bukan karena ingin tahu, tetapi karena takut nilai jelek.

Padahal universitas seharusnya menjadi tempat ketika rasa ingin tahu justru tumbuh. Mahasiswa tidak semestinya hanya dilatih untuk menjawab pertanyaan dosen. Mereka juga harus dilatih untuk menciptakan pertanyaan sendiri.

Sebab dunia nyata tidak menyediakan lembar soal dengan pilihan A, B, C, atau D.

Ketika seseorang lulus dan masuk ke dunia kerja, masyarakat tidak akan bertanya berapa nilai ujian tengah semesternya. Yang dibutuhkan adalah kemampuan memecahkan masalah, membaca situasi, bekerja sama, mengambil keputusan, dan mempertanggungjawabkan gagasan.

Maka, pertanyaan pentingnya bukan lagi:

“Berapa IPK-mu?”

Melainkan:

“Apa yang bisa kamu pikirkan setelah empat tahun kuliah?”

Ketika Informasi Melimpah, Kemauan Berpikir Justru Menjadi Mahal

Ada ironi lain.

Generasi mahasiswa hari ini hidup dalam zaman ketika informasi tidak pernah semudah sekarang.

Dulu, mencari referensi berarti pergi ke perpustakaan, membuka buku, mencari jurnal, mencatat halaman, lalu membaca.

Sekarang, sebagian besar informasi bisa ditemukan dalam hitungan detik.

Tetapi kemudahan mendapatkan informasi tidak selalu berarti kemudahan memahami informasi.

Google dapat menemukan informasi.

Media sosial dapat menyajikan informasi.

AI dapat merangkum informasi.

Tetapi tidak satu pun dari semuanya dapat menggantikan tanggung jawab mahasiswa untuk berpikir.

Di sinilah kemampuan yang paling penting justru bukan sekadar kemampuan mencari informasi, tetapi kemampuan memilah mana informasi yang masuk akal, mana yang keliru, mana yang bias, dan mana yang perlu dipertanyakan.

Mahasiswa yang mampu menghafal seratus halaman belum tentu mampu menjelaskan satu persoalan dengan jernih.

Sebaliknya, mahasiswa yang mampu mempertanyakan satu persoalan secara mendalam bisa jadi sedang melakukan proses belajar yang jauh lebih penting.

AI: Teman Belajar atau Mesin Pengerjaan Tugas?

Kemunculan kecerdasan buatan membuat persoalan ini semakin mendesak.

AI dapat membantu mahasiswa mencari ide, memahami konsep, membuat kerangka, menerjemahkan istilah, bahkan memberikan penjelasan alternatif ketika materi kuliah terasa sulit.

Itu bukan sesuatu yang harus ditakuti.

UNESCO sendiri menekankan bahwa penggunaan AI dalam pendidikan perlu diarahkan pada pendekatan yang berpusat pada manusia, termasuk kemampuan berpikir kritis, etika, keamanan, dan penggunaan teknologi yang bermakna.

Masalahnya muncul ketika AI tidak lagi menjadi alat bantu belajar, tetapi menjadi pengganti proses belajar.

Mahasiswa mendapat tugas membuat tulisan.

AI yang mengerjakan.

Mahasiswa mendapat tugas menganalisis.

AI yang menganalisis.

Mahasiswa diminta menyimpulkan.

AI juga yang menyimpulkan.

Lalu mahasiswa tinggal mengumpulkan.

Secara administratif, tugas selesai.

Tetapi secara pendidikan, pertanyaan besarnya justru baru dimulai:

Siapa yang sebenarnya belajar?

Jangan sampai kita memiliki generasi mahasiswa yang semakin mahir menggunakan teknologi, tetapi semakin kehilangan kemampuan untuk berpikir tanpa teknologi.

Namun menyalahkan AI juga bukan jawaban. Teknologi tidak akan hilang hanya karena kampus melarang mahasiswa menggunakannya. Yang dibutuhkan adalah perubahan cara belajar dan cara menilai.

Jika tugas mahasiswa selalu bisa diselesaikan oleh mesin, mungkin masalahnya bukan semata-mata pada mahasiswa yang menggunakan AI.

Mungkin tugasnya memang sudah terlalu mudah untuk dikerjakan tanpa berpikir.

Jangan Salahkan Mahasiswa Saja

Tetapi mari berhenti menunjuk mahasiswa sebagai satu-satunya pihak yang harus disalahkan.

Tidak semua mahasiswa malas.

Ada mahasiswa yang harus bekerja sambil kuliah. Ada yang menghabiskan waktu berjam-jam di perjalanan. Ada yang menghadapi tekanan ekonomi. Ada yang aktif berorganisasi. Ada pula yang datang ke kelas dengan persoalan pribadi yang tidak pernah terlihat dari bangku dosen.

Karena itu, kalimat “mahasiswa sekarang malas membaca” terlalu mudah.

Pertanyaan yang lebih sulit adalah:

Apakah kampus sudah menyediakan alasan yang cukup kuat bagi mahasiswa untuk mencintai proses belajar?

Jika mahasiswa diminta membaca puluhan halaman, tetapi di kelas hanya mendengarkan dosen membacakan ulang isi materi, untuk apa mereka membaca?

Jika mahasiswa diminta berpikir kritis, tetapi pendapat berbeda dianggap mengganggu, bagaimana keberanian berpikir bisa tumbuh?

Jika mahasiswa diminta kreatif, tetapi setiap kesalahan langsung dianggap sebagai kegagalan, bagaimana kreativitas bisa berkembang?

Pendidikan bukan hanya soal bagaimana mahasiswa belajar.

Pendidikan juga soal bagaimana kampus membuat mahasiswa ingin belajar.

Dosen Bukan Mesin Presentasi

Pada titik ini, dosen juga perlu melakukan introspeksi.

Dosen tentu bukan satu-satunya penyebab persoalan. Tetapi peran dosen terlalu penting untuk diabaikan.

Dosen tidak seharusnya hanya menjadi mesin pemindah informasi dari buku ke slide PowerPoint.

Mahasiswa bisa mendapatkan informasi dari mana saja.

Yang semakin berharga justru adalah kemampuan dosen untuk membantu mahasiswa memahami mengapa informasi itu penting, bagaimana mengujinya, dan apa dampaknya terhadap kehidupan nyata.

Kelas yang baik bukan kelas ketika dosen berbicara paling lama.

Kelas yang baik adalah kelas ketika mahasiswa pulang dengan lebih banyak pertanyaan daripada ketika mereka datang.

Bayangkan jika dalam sebuah perkuliahan mahasiswa tidak hanya diminta menghafalkan teori, tetapi diberikan persoalan nyata.

Mengapa kemiskinan tetap terjadi?

Mengapa korupsi sulit diberantas?

Mengapa perusahaan melakukan PHK?

Mengapa masyarakat mudah percaya berita palsu?

Bagaimana AI mengubah pekerjaan?

Bagaimana kebijakan pemerintah memengaruhi kehidupan masyarakat?

Pertanyaan-pertanyaan semacam itu jauh lebih dekat dengan kehidupan mahasiswa dibanding sekadar menghafalkan definisi.

Barangkali Sistem Penilaiannya yang Perlu Diubah

Kita juga perlu berani mempertanyakan sistem penilaian.

Apakah nilai benar-benar menggambarkan kemampuan mahasiswa?

Apakah mahasiswa yang mendapatkan nilai A otomatis lebih mampu berpikir daripada mahasiswa yang mendapatkan nilai B?

Belum tentu.

Nilai tetap penting. Tetapi nilai tidak boleh menjadi satu-satunya ukuran keberhasilan pendidikan.

Kampus seharusnya lebih banyak mengukur kemampuan mahasiswa dalam menganalisis masalah, menyusun argumentasi, melakukan penelitian, bekerja sama, berkomunikasi, dan menghasilkan gagasan.

Dengan kata lain, kita perlu bergeser dari pertanyaan:

“Apakah mahasiswa sudah menyelesaikan tugas?”

menjadi:

“Apa yang berubah dalam kemampuan mahasiswa setelah mengerjakan tugas itu?”

Perubahan ini menjadi semakin penting di tengah perkembangan AI. UNESCO bahkan menyebut kemunculan AI generatif sebagai momentum yang memaksa dunia pendidikan memikirkan kembali cara mengajar dan cara mengukur pembelajaran.

Jika sebuah tugas dapat dikerjakan AI dalam beberapa detik, mungkin sudah waktunya dosen bertanya:

Apakah tugas tersebut masih mampu mengukur kemampuan berpikir mahasiswa?

Kampus Harus Menghidupkan Kembali Budaya Akademik

Solusinya bukan membuat mahasiswa semakin banyak tugas.

Bukan pula memperpanjang jam kuliah.

Yang dibutuhkan adalah menghidupkan kembali budaya akademik.

Mahasiswa perlu didorong membaca sebelum masuk kelas, bukan hanya membaca ketika ujian sudah dekat.

Mereka perlu diberi ruang untuk berbeda pendapat tanpa takut dianggap bodoh.

Mereka perlu diajak berdiskusi tentang persoalan nyata.

Mereka perlu belajar bahwa kesalahan dalam berpikir bukan sesuatu yang harus ditakuti, selama kesalahan itu diperbaiki melalui proses belajar.

Dosen pun perlu mendapatkan ruang untuk mengembangkan metode pembelajaran yang tidak melulu bergantung pada ceramah.

Kampus harus memperkuat perpustakaan, akses jurnal, forum diskusi, penelitian mahasiswa, seminar, dan ruang bertukar gagasan.

Dan dalam menghadapi AI, kampus tidak cukup hanya mengatakan “jangan gunakan AI”.

Mahasiswa perlu diajarkan bagaimana menggunakan AI secara bertanggung jawab.

AI harus ditempatkan sebagai alat untuk memperluas kemampuan manusia, bukan sebagai pengganti manusia.

Sebab teknologi boleh semakin pintar.

Tetapi manusia tetap harus menjadi pihak yang menentukan apa yang layak dipercaya, apa yang layak dilakukan, dan apa yang benar-benar penting.

Jangan Sampai Mahasiswa Hanya Lulus

Pada akhirnya, persoalan pendidikan tinggi bukan sekadar tentang berapa banyak mahasiswa yang berhasil lulus.

Pertanyaan yang jauh lebih penting adalah:

Setelah lulus, mereka menjadi manusia seperti apa?

Apakah mereka mampu membaca persoalan?

Apakah mereka mampu mempertanyakan informasi?

Apakah mereka berani menyampaikan pendapat?

Apakah mereka mampu membedakan fakta dan opini?

Apakah mereka bisa menggunakan teknologi tanpa diperbudak teknologi?

Apakah mereka masih memiliki rasa ingin tahu setelah ijazah berada di tangan?

Sebab kampus seharusnya tidak menjadi tempat mahasiswa belajar bagaimana mendapatkan nilai.

Kampus seharusnya menjadi tempat mahasiswa belajar bagaimana memahami dunia.

Mahasiswa tidak membutuhkan kampus yang hanya membuat mereka sibuk.

Mereka membutuhkan kampus yang membuat mereka berpikir.

Dan mungkin inilah saatnya kita berhenti bertanya berapa banyak mahasiswa yang hadir di ruang kelas.

Mari bertanya sesuatu yang jauh lebih penting:

Dari semua mahasiswa yang hadir itu, berapa banyak yang benar-benar sedang belajar?

Sebab pada akhirnya, pendidikan tinggi tidak boleh hanya menghasilkan orang yang lulus kuliah.

Pendidikan tinggi harus menghasilkan manusia yang tidak pernah berhenti belajar.