Merantau Itu Bukan Cuma Jauh dari Rumah, Tapi Belajar Mengurus Diri Sendiri

Mahasiswa S1 Akuntansi Universitas Pamulang
·waktu baca 7 menit
Tulisan dari Meki Suhendri tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ada satu hal yang biasanya baru terasa setelah seseorang menjadi anak rantau: ternyata hidup sendiri tidak sesederhana yang dibayangkan.
Saat masih tinggal bersama orang tua, banyak hal terasa otomatis. Bangun tidur, ada makanan. Baju kotor tinggal dicuci. Kalau kamar berantakan, mungkin ada yang mengingatkan. Ketika sedang sakit, ada keluarga yang bertanya sudah makan atau belum.
Namun, semuanya berubah ketika kita mulai tinggal jauh dari rumah.
Tidak ada lagi yang mengingatkan untuk makan. Tidak ada yang memaksa tidur ketika sudah terlalu malam. Tidak ada yang membereskan kamar ketika kita malas. Bahkan ketika uang mulai menipis di akhir bulan, kita sendiri yang harus memikirkan bagaimana caranya bertahan sampai kiriman berikutnya.
Di situlah sebenarnya proses merantau dimulai.
Merantau Bukan Sekadar Pindah Kota
Banyak orang menganggap merantau hanya sebagai kegiatan berpindah dari satu daerah ke daerah lain untuk kuliah atau bekerja.
Padahal, merantau lebih dari itu.
Merantau berarti meninggalkan lingkungan yang selama ini membuat kita nyaman. Kita harus beradaptasi dengan tempat baru, orang baru, kebiasaan baru, bahkan dengan kehidupan yang mungkin jauh berbeda dari rumah.
Bagi mahasiswa, misalnya, kehidupan perantauan sering dimulai dari kamar kos sederhana.
Kamar yang mungkin hanya berisi kasur, meja kecil, lemari, dan beberapa barang pribadi.
Di tempat itulah seseorang mulai belajar bahwa tidak semua masalah bisa diserahkan kepada orang tua.
Kamar harus dibersihkan sendiri. Pakaian harus dicuci sendiri. Makanan harus dicari sendiri. Uang bulanan harus diatur sendiri.
Hal-hal sederhana tersebut sebenarnya sedang mengajarkan sesuatu yang jauh lebih besar: tanggung jawab.
Dari Bangun Sendiri sampai Mengatur Uang Sendiri
Salah satu pelajaran terbesar menjadi anak rantau adalah belajar mengatur kehidupan sehari-hari.
Dulu, mungkin kita tidak pernah benar-benar memikirkan berapa biaya makan dalam sehari. Setelah menjadi anak kos, satu kali membeli makanan bisa membuat kita mulai menghitung kembali sisa uang di dompet.
“Kalau hari ini makan di luar, besok masih cukup tidak?”
Pertanyaan seperti itu mungkin terdengar sederhana.
Namun, dari situlah seseorang mulai belajar mengatur keuangan.
Uang bulanan harus dibagi untuk makan, transportasi, kebutuhan kuliah, pulsa atau internet, laundry, dan berbagai kebutuhan lainnya.
Masalahnya, godaan juga banyak.
Ajakan nongkrong, pesan makanan online, membeli barang yang sebenarnya tidak terlalu dibutuhkan, sampai keinginan mengikuti gaya hidup teman.
Pada awalnya mungkin terasa biasa.
Tetapi ketika tanggal tua datang, barulah kita sadar bahwa pengeluaran kecil yang dilakukan berkali-kali ternyata bisa menjadi besar.
Menjadi anak rantau akhirnya mengajarkan bahwa memiliki uang dan mampu mengelola uang adalah dua hal yang berbeda.
Tidak Ada yang Menyuruh Kita Menjadi Dewasa
Di rumah, mungkin ada orang yang mengingatkan.
“Jangan tidur terlalu malam.”
“Sudah makan?”
“Besok kuliah jangan kesiangan.”
“Jangan lupa bereskan kamar.”
Ketika tinggal sendiri, suara-suara itu tiba-tiba menghilang.
Tidak ada yang benar-benar tahu apakah kita tidur tepat waktu atau tidak. Tidak ada yang tahu apakah kita makan teratur atau justru sering melewatkan waktu makan karena sibuk.
Kebebasan seperti ini memang menyenangkan.
Tetapi kebebasan juga datang bersama tanggung jawab.
Kita mulai menyadari bahwa menjadi dewasa bukan soal usia saja. Menjadi dewasa juga berarti mampu mengambil keputusan untuk diri sendiri dan siap menerima akibat dari keputusan tersebut.
Kalau bangun kesiangan dan terlambat kuliah, kita yang harus menanggung akibatnya.
Kalau uang habis karena terlalu boros, kita yang harus mencari solusi.
Kalau kamar berantakan, tidak ada orang lain yang bisa disalahkan.
Itulah sekolah kehidupan yang sering kali tidak ada di dalam ruang kelas.
Merantau Juga Mengajarkan Kita untuk Tidak Selalu Mengandalkan Orang Lain
Bukan berarti menjadi anak rantau harus menolak bantuan.
Justru, kita tetap membutuhkan orang lain.
Teman kos bisa menjadi tempat bertanya. Teman kampus bisa membantu ketika ada masalah. Dosen bisa memberikan arahan. Keluarga tetap menjadi tempat pulang.
Namun, ada perbedaan antara membutuhkan bantuan dan selalu bergantung pada orang lain.
Merantau perlahan membuat kita belajar menyelesaikan masalah sendiri.
Ketika sakit, kita harus tahu harus pergi ke mana.
Ketika barang rusak, kita harus mencari cara memperbaikinya.
Ketika ada masalah dengan pemilik kos, kita harus berkomunikasi dengan baik.
Ketika tugas kuliah menumpuk, kita harus mengatur waktu.
Hal-hal tersebut mungkin terlihat kecil.
Tetapi jika dilakukan terus-menerus, semuanya membentuk kemampuan untuk menghadapi kehidupan yang lebih besar.
Tidak Semua Hari di Perantauan Berjalan Baik
Menjadi anak rantau juga tidak selalu tentang kebebasan dan pengalaman menyenangkan.
Ada hari ketika kita merasa sangat lelah.
Ada malam ketika kita merindukan rumah.
Ada saat ketika melihat teman pulang bersama keluarganya membuat kita teringat dengan suasana rumah sendiri.
Ada pula masa ketika masalah datang bersamaan: tugas kuliah menumpuk, uang mulai menipis, badan lelah, sementara kita tidak tahu harus bercerita kepada siapa.
Perasaan seperti itu sangat manusiawi.
Merantau bukan berarti seseorang harus selalu terlihat kuat.
Justru, salah satu pelajaran dari hidup jauh dari keluarga adalah memahami bahwa kita boleh merasa lelah, rindu, bingung, atau kecewa.
Yang penting adalah belajar menghadapinya dan mencari bantuan ketika memang diperlukan.
Karena mandiri bukan berarti harus melakukan semuanya sendirian.
Kamar Kos Bisa Menjadi Tempat Belajar yang Sesungguhnya
Ada banyak orang yang mungkin menganggap kamar kos hanya sebagai tempat tidur setelah menjalani aktivitas seharian.
Padahal, bagi anak rantau, kamar kos bisa menjadi tempat belajar yang sangat penting.
Di sana kita belajar mengatur waktu.
Belajar menjaga kebersihan.
Belajar memasak makanan sederhana.
Belajar mengatur pengeluaran.
Belajar menghadapi kesepian.
Belajar bertanggung jawab terhadap keputusan sendiri.
Bahkan mungkin belajar mengenal diri sendiri.
Ketika tidak ada keluarga yang terus-menerus berada di dekat kita, kita mulai mengetahui seperti apa diri kita sebenarnya.
Apakah kita bisa disiplin tanpa diawasi?
Apakah kita bisa mengatur uang?
Apakah kita bisa menyelesaikan masalah tanpa langsung panik?
Apakah kita bisa tetap menjalankan tanggung jawab meskipun sedang tidak ada yang menyemangati?
Pertanyaan-pertanyaan seperti itu perlahan membentuk karakter.
Jangan Bandingkan Perjalananmu dengan Anak Rantau Lain
Satu hal yang sering menjadi masalah di zaman media sosial adalah kebiasaan membandingkan kehidupan.
Melihat teman yang bisa tinggal di apartemen, sering nongkrong di tempat bagus, membeli barang baru, atau bepergian ke berbagai tempat bisa membuat seseorang merasa hidupnya tertinggal.
Padahal, kondisi setiap anak rantau berbeda.
Ada yang mendapat uang bulanan lebih besar. Ada yang harus bekerja sambil kuliah. Ada yang tinggal di kos sederhana. Ada yang harus benar-benar menghemat setiap pengeluaran.
Tidak semua perjalanan harus terlihat mewah.
Ada anak rantau yang setiap hari hanya memikirkan bagaimana kuliah tetap berjalan, kebutuhan tetap terpenuhi, dan uang cukup sampai akhir bulan.
Itu juga sebuah perjuangan.
Karena tujuan merantau bukan untuk terlihat lebih sukses daripada orang lain.
Tujuannya adalah bertumbuh.
Pulang dengan Versi Diri yang Berbeda
Mungkin suatu hari nanti kita akan pulang ke rumah.
Namun, orang yang pulang setelah bertahun-tahun merantau biasanya tidak lagi sama dengan orang yang dulu berangkat.
Ada banyak hal yang berubah.
Kita mungkin menjadi lebih bisa menghargai uang. Lebih menghargai makanan yang dibuat di rumah. Lebih memahami betapa repotnya mengurus rumah. Lebih menghargai waktu bersama keluarga.
Hal-hal yang dulu dianggap biasa ternyata memiliki nilai yang besar setelah kita hidup tanpanya.
Mungkin dulu kita menganggap makanan di rumah sebagai sesuatu yang selalu tersedia.
Setelah merantau, kita baru sadar bahwa ada kasih sayang di balik makanan tersebut.
Mungkin dulu kita menganggap nasihat orang tua sebagai sesuatu yang mengganggu.
Setelah hidup sendiri, kita justru mulai memahami alasan di balik nasihat itu.
Jarak terkadang membuat kita lebih menghargai apa yang sebelumnya terlalu dekat untuk disadari.
Merantau Adalah Proses Menjadi Mandiri
Pada akhirnya, merantau bukan hanya tentang seberapa jauh kita pergi dari rumah.
Merantau adalah tentang seberapa jauh kita berkembang setelah meninggalkan rumah.
Kita belajar bangun sendiri, mengatur uang sendiri, menyelesaikan masalah sendiri, dan membuat keputusan sendiri.
Kita juga belajar bahwa hidup tidak selalu sesuai rencana.
Ada masa mudah, ada masa sulit. Ada hari ketika semuanya berjalan lancar, ada hari ketika rasanya ingin segera pulang.
Namun, semua pengalaman itu memiliki satu kesamaan: membuat kita perlahan menjadi lebih siap menghadapi kehidupan.
Karena mungkin, tujuan terbesar dari merantau bukan sekadar mendapatkan gelar atau pekerjaan.
Bisa jadi, tujuan terbesarnya adalah pulang sebagai seseorang yang lebih mandiri, lebih bertanggung jawab, dan lebih menghargai rumah yang pernah kita tinggalkan.
Sebab pada akhirnya, merantau bukan cuma soal pergi jauh.
Merantau adalah tentang belajar mengurus diri sendiri sebelum suatu hari nanti kita harus mengurus kehidupan yang lebih besar.
