Ketika IPK Menjadi Ukuran Harga Diri

Mahasiswi Universitas Pamulang Program Studi Akuntansi
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari AZAHRA AZKA JUHAIDAH tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Dulu, saya pernah berpikir bahwa satu-satunya cara membuktikan saya tidak sebodoh anggapan orang adalah dengan mendapatkan nilai yang bagus.
Sejak kecil, saya kerap merasa paling tertinggal di keluarga. Anggapan itu perlahan membentuk cara saya memandang diri sendiri. Nilai bagus bukan lagi sekadar pencapaian yang menyenangkan, melainkan sebuah ajang pembuktian.
Saat mendapat nilai tinggi, ada rasa lega seolah berhasil membungkam penilaian orang lain. Sebaliknya, saat nilai anjlok, yang muncul bukan hanya rasa kecewa, melainkan pertanyaan personal: “Apa memang saya sebodoh itu?”
Dari Nilai Rapor ke Angka IPK
Di perguruan tinggi, perburuan nilai itu berganti wujud menjadi Indeks Prestasi Kumulatif (IPK). Kita terbiasa menjadikan IPK sebagai indikator utama keberhasilan. Semakin tinggi angkanya, semakin besar rasa bangga. Namun saat angka itu merosot, rasa malu dan takut diremehkan langsung menghampiri.
Masalahnya tentu bukan pada ambisi meraih prestasi. Sangat wajar jika kita menginginkan hasil terbaik dari usaha yang dikerahkan. Masalah baru muncul ketika IPK mulai menentukan bagaimana kita menghargai diri sendiri.
Ketika deretan nilai A membuat kita merasa berharga dan nilai jelek membuat kita merasa gagal, angka telah merampas ruang yang terlalu besar dalam cara kita memandang diri sendiri.
Apa yang Tidak Tercatat di Transkrip
Padahal, kapasitas seorang manusia tidak mungkin dirangkum hanya oleh beberapa digit angka desimal.
Ada mahasiswa yang IPK-nya biasa saja, tetapi memiliki keterampilan komunikasi dan kepemimpinan yang luar biasa. Ada yang butuh waktu lebih lama untuk memahami materi, tetapi memiliki daya juang yang pantang menyerah.
Hal-hal esensial tersebut tidak pernah tercatat di dalam transkrip nilai.
Begitu pula dengan perjuangan di belakangnya. Tidak ada kolom yang mencatat berapa malam kita terjaga, berapa kali kita mengulang materi rumit, atau seberapa keras kita memaksakan diri kuliah saat kondisi fisik dan mental sedang berada di titik terendah.
Kita Bukan Sekadar Angka
Tentu, IPK tetap penting sebagai syarat administrasi beasiswa maupun karier. Kita tetap boleh mengejar IPK tinggi dan bangga atas pencapaian tersebut. Namun, kita harus tahu kapan harus berhenti—terutama sebelum kekecewaan itu berubah menjadi kebencian pada diri sendiri.
Ada perbedaan besar antara menyadari, “Nilai saya semester ini jelek,” dengan menghakimi, “Saya ini bodoh.” Gagal dalam satu matakuliah tidak lantas membuat kita menjadi sebuah kegagalan seutuhnya.
Jika suatu hari IPK saya turun, saya ingin belajar untuk tidak membiarkan harga diri ikut anjlok bersamanya. IPK adalah angka yang fluktuatif setiap semester, sedangkan harga diri manusia terlalu berharga untuk tunduk pada sistem penilaian akademis.
Pada akhirnya, saya bukanlah IPK saya.
Saya adalah seseorang yang masih belajar, masih bertumbuh, sangat mungkin untuk gagal, dan selalu punya kesempatan untuk mencoba lagi.
