Konten dari Pengguna

Berkembang Baik Sebelum Berkembang Biak, Apa Kata Gen Z?

Ajeng Wiko Rimadani

Ajeng Wiko Rimadani

Mahasiswa Univeraitas Amikom Purwokerto

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Ajeng Wiko Rimadani tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sumber : istockphoto.com
zoom-in-whitePerbesar
Sumber : istockphoto.com

Pengertian “Berkembang Baik Sebelum Berkembang Biak”

Istilah ini merujuk pada gagasan bahwa seseorang sebaiknya fokus pada pengembangan diri dan pencapaian stabilitas sebelum memutuskan untuk memiliki anak atau berkeluarga. Bagi Gen Z, yang sering dihadapkan pada realitas dunia yang penuh tantangan, konsep ini bukan hanya soal finansial, tapi juga terkait dengan kesehatan mental, kematangan emosional, dan pemenuhan diri.

Perspektif Gen Z

Gen Z, yang tumbuh di era teknologi dan akses informasi yang cepat, cenderung memiliki pandangan yang lebih pragmatis dan individualistis. Mereka melihat pentingnya mencapai stabilitas dalam berbagai aspek kehidupan sebelum mengambil keputusan besar seperti berkeluarga. Beberapa alasan yang mendasari pandangan ini antara lain:

1. Ketidakpastian Ekonomi: Gen Z menyadari kondisi ekonomi yang tidak menentu, biaya hidup yang tinggi, serta tantangan dalam mencapai kestabilan finansial. Mereka lebih memilih untuk fokus pada pendidikan, karier, dan mencapai kestabilan ekonomi sebelum memikirkan untuk memiliki anak.

2. Kesadaran Kesehatan Mental: Kesadaran akan pentingnya kesehatan mental semakin meningkat di kalangan Gen Z. Mereka memahami bahwa kesehatan mental yang baik sangat diperlukan untuk membina keluarga yang sehat. Oleh karena itu, banyak yang memilih untuk memperbaiki kondisi psikologis mereka sebelum memikirkan tanggung jawab yang lebih besar.

3. Prioritas Pencapaian Pribadi: Gen Z cenderung menempatkan pencapaian pribadi dan kebebasan sebagai prioritas utama. Mereka ingin mengeksplorasi dunia, mencapai karier impian, dan menikmati hidup sebelum mengambil tanggung jawab yang besar seperti memiliki anak.

Stigma Masyarakat

Meskipun semakin banyak orang yang memahami dan menerima konsep ini, stigma sosial masih ada, terutama di masyarakat yang lebih tradisional. Beberapa stigma yang muncul di antaranya:

1. Tuntutan Usia: Dalam banyak budaya, terdapat tekanan untuk menikah dan memiliki anak di usia tertentu. Mereka yang menunda atau memilih untuk fokus pada pengembangan diri sering kali dianggap “telat” atau tidak mengikuti norma sosial.

2. Anggapan Egois: Keputusan untuk tidak segera memiliki anak kadang dianggap egois oleh sebagian orang yang memegang nilai-nilai tradisional. Mereka menganggap bahwa membentuk keluarga dan memiliki anak adalah tujuan utama dalam hidup.

3. Kekhawatiran akan Masa Depan: Ada anggapan bahwa jika seseorang terlalu lama menunda, mereka mungkin akan kesulitan untuk memiliki anak di kemudian hari. Kekhawatiran ini sering dijadikan alasan untuk menekan individu agar segera berkeluarga.

Tantangan dan Solusi

Konsep “berkembang baik sebelum berkembang biak” memang relevan, tetapi pelaksanaannya bisa menghadapi tantangan, terutama terkait dengan stigma masyarakat. Untuk mengatasi hal ini, diperlukan:

1. Edukasi dan Kesadaran: Mengedukasi masyarakat tentang pentingnya kesehatan mental, stabilitas finansial, dan kematangan emosional sebelum memiliki anak. Kesadaran ini bisa mengurangi stigma dan mendorong penerimaan terhadap keputusan pribadi seseorang.

2. Pendukung Sosial: Dukungan dari teman, keluarga, dan komunitas sangat penting. Memiliki jaringan sosial yang memahami dan menghargai keputusan individu dapat membantu mengurangi tekanan sosial.

3. Menghargai Keberagaman Pandangan: Setiap orang memiliki jalan hidup dan prioritas yang berbeda. Masyarakat perlu belajar untuk menghargai pilihan hidup orang lain, termasuk keputusan untuk menunda memiliki anak.