Betapa Sulitnya Menyaingi Mereka?

Dosen FEB Univeraitas Muhammadiyah Palembang. Pengamat ekonomi Sumatera Selatan
·waktu baca 7 menit
Tulisan dari Amidi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pesaing dalam dunia bisnis tidak bisa dianggap “reme”, pesaing harus dihadapi dengan cara/langkah positif bukan dengan cara/langkah negatif untuk menjatuhkan mereka dan harus dihadapi dengan berbagai strategi pemasaran dan atau strategi promosi yang harus dilakukan oleh pihak pelaku bisnis yang menghadapinya.
Apalagi jika pesaing tersebut mempunyai kekuatan tertentu, baik dari sisi modal, maupun dari sisi manajemen. Untuk menghadapi pesaing yang demikian memang tidak mudah. Jangankan pelaku bisnis yang menghadapinya untuk memenangkan persaingan atau mengalahkan pesaing tersebut, untuk bertahan pun terkadang pihak pelaku bisnis yang menghadapinya susah setengah mati.
Ritel Modern Marak
Kini kita tahu bahwa pasar di negeri ini sudah dikepung oleh pelaku bisnis bidang ritel modern, baik ritel modern yang satu group maupun non group. Mereka berlomba-lomba memperbanyak gerai/toko, sesuai dengan program 1.000 gerai yang mereka usung, sesuai dengan konsep pengembangan yang mereka rencanakan.
Kini sudah banyak pemilik ritel modern yang hadir di negeri ini, ada Alfamart, Alfamidi, Indomaret , Super Indo, seven days, dan lainnya termasuk ritel modern dan atau supermarket lokal yang dimiliki anak negeri ini. Mereka berlomba-lomba memperbanyak gerai/toko diberbagai kota di negeri ini, di berbagai sudut kota di daerah bahkan mereka pun sudah masuk ke perkampungan dan desa-desa. Tidak heran, jika di desa terpencilpun ada mereka.
Kondisi ini menunjukkan bahwa mereka memang mereka akan merebut pasar atau memburu konsumen sampai ke pelosok-pelosok, selain mereka juga mendapat berbagai fasilitas dan kemudahan dari peringgi negeri ini dan petinggi di daerah, baik dari segi perizinan maupun dari sisi kemudahan lainnya.
Penantang Collpas!
Bila di simak, sebenarnya beberapa tahun yang lalu, ritel modern sejenis milik anak negeri ini sudah pernah hadir, misalnya 212 mart. Memang awal berdirinya ritel modern milik anak negeri ini tersebut terlihat berjalan dengan baik dan menunjukkan perkembangan yang cukup signifikan bahkan ikut memadati sudut-sudut kota di negeri ini. Namun, lama kelamaan, ritel modern milik anak negeri ini tersebut mulai “nyunsep” dan lama kelamaan satu per satu mulai collaps, sampai akhirnya semua collpas, hanya menyisahkan kisah dan memori saja.
Bila dtilik dari konsep pengelolaan ritel modern milik anak negeri ini tersebut (212 mart) cukup baik. Mereka menjalankan konsep sharing atau penyertaan modal, dan menajaring konsumen/pelanggan sebanyak-banyaknya termasuk penyerta modal pun akan mereka jadikan konsumen/pelanggan. Ditambah lagi adanya konsep atau rencana untuk mengimbangi pesaing pemilik ritel modern yang sudah eksis (Alfamart dan Indomaret).
Artinya, ritel modern 212 mart yang ada waktu itu secara langsung akan mendapatkan pelanggan tetap dari kalangan penyerta modal tersebut, ditambah adanya simpati dari konsumen kalangan muslim yang akan berbelanja di sana. Seiring dengan berjalannya sang waktu, ritel modern milik anak negeri ini tersebut kberadaannya mulai redup, volume penjualan mulai “merosot”, dan akhirnya mereka collpas.
Bila dipelajari mengapa mereka collaps?, secara umum karena mereka tidak mampu bersaing dengan pendahulunya yang mempunyai jaringan yang kuat, modal yang “gede” dan manajemen yang mapan. Sehingga, dari sisi harga saja mereka belum bisa bersaing, belum lagi dari sisi pelayanan atau manajemen.
Yang Lain Eksis Kok?
Kemudian, dengan collaps nya ritel modern milik anak negeri ini tersebut, bukan berarti pendatang baru akan menghadapi kondisi yang sama atau akan ikut collaps juga, tidak?.
Pendatang baru baik yang tergabung dalam satu group maupun non group justru bertahan dan ikut maju dan berkembang, seperti Alfamidi, Super Indo Seven Days dengan konsep manajemen baru mulai melejit. Mereka berdiri kokoh ditengah persaingan riitel modern yang semakin sengit di negeri ini.
Begitu juga ritel modern lokal yang ada di daerah, seperti “JM Plaza Palembang”, yang pemiliknya non pribumi yang sudah lama bermukim di Palembang dan sudah menjadi warga Palembang yang sudah men-nasionalis. Ritel modern JM Plaza tersebut terus berkembang, walaupun memang pada awalnya mereka harus berjuang sekuat tenaga untuk bangkit dan bangkit kembali. Kini mereka sudah mempunyai gerai/toko yang tersebar diberbagai kecamatan dalam Kota Palembang dan akan mengembangkan sayap ke berbagai daerah di Provinsi Sumatera Selatan dan di berbagai penjuru negeri in, sesuai dengan visi dan misi yang mereka usung.
Bagi pemilik ritel modern di luar group mereka, terutama ritel mmodern lokal yang belum eksis, diakui memang sulit untuk memenangkan persaingan. Dengan kata lain, ritel modern yang belum eksis tidak mudah menyaingi ritel modern yang sudah memiliki brand terkenal dan eksis tersebut.
Namun, setidaknya pemilik ritel modern yang belum eksis atau sebagai pendatang baru dan pemilik ritel modern lokal setidaknya harus dapat bertahan. Untuk itu, tidak salah jika mereka belajar dan atau mempelajari sisi kesuksesan ritel modern yang memiliki brand terkenal dan sudah eksis terseut.
Bila di simak, mengapa mereka bisa bertahan, tetap maju dan berkembang?.
Stidaknya ada beberapa langkah dan atau strategi yang mereka lakukan selama ini. Mereka senantiasa fokus pada startegi harga, terus memperbaiki manamejen, mengedepankan pelayanan prima, senantiasa melakukan strategi pemasaran dan atau promosi yang untuk menjawab kebutuhan konsumen, menerapkan konsep waralaba dengan melibatkan pemodal lokal, dan berupaya mendekatkan diri dengan konsumen, termasuk menawarkan penjualan online.
Jangan heran, jika antara mereka (Alfamart,Alfamidi dan Indomaret) menetapkan harga suatu produk yang sejenis berbeda, ada yang lebih murah dan ada yang lebih mahal. Itu strategi harga yang mereka mainkan, sehingga konsumen tergoda. Padahal harga suatu produk yang dipatok pada salah satu ritel modern yang lebih murah tersebut, hanya untuk satu atau beberapa barang saja, sementara barang lain harganya justru lebih mahal.
Kemudian, ada lagi strategi produk, mereka menjual berbagai produk yang akan dibutuhkan konsumen, termasuk ada yang menjual sayur dan buah. Ditambah lagi mereka menjual produk yang berlebel merek ritel modern mereka. Tdak heran, jika konsumen mencari produk merek lain (bukan merek ritel modrn mereka) tidak tersedia, semua produk yang dicari konsumen sudah berlebel merek ritel modern mereka.
Belum lagi, strategi promosi yang mereka lakukan. Ada istilah tebus murah, ada istilah beli satu dapat dua, dan seterusnya. Tidak hanya itu, dari sisi jarak pun merupakan suatu strategi yang mereka lakukan. Dengan jarak yang tidak berjauhan, membantu konsumen untuk memilih atau tinggal pilih. Mau berbelanja di Alfamart atau di Alfamidi atau di Indomaret, tinggal pilih. Toh pada akhirnya sama juga, karena mereka dalam satu group.
Bersaing, Bersaing dan Bersaing?
Kini sesama mereka, sesama Alfamart, sesama Alfamidi, sesama Indomaret, sesama Super Indo pun kini bersaing ketat. Jika sebelumnya Indomaret hanya bersaing dengan Alfamart, kini Indomaret harus bersaing dengan Super Indo, dan bersaing dengan Alfamidi yang merupakan group Alfamart dibawah payung manajemen PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk. Namun, mereka tidak gusar dan tidak gentar. Mereka tetap enjoy dan berjalan normal serta tetap mempunyai pelanggan yang setia.
Mereka memburu konsumen dengan konsep bisnis yang mereka ramu sendiri, konsep bisnis seperti di atas semua mereka jalankan.
Di sini terlihat betul, betapa sulit nya untuk menyaingi ritel modern yang sudah memiliki brand yang kuat dan terkenal tersebut ditambah mereka dinaungi oleh group mereka dalam hal pasokan barang yang harganya memang memungkinkan untuk dijual kembali lebih murah, karena unit grosir pemasok barang adalah group mereka.
Sebenarnya walaupun ritel modern pendatang baru dan lokal sulit untuk bisa menyaingi mereka, sebenarnya masih ada peluang bagi ritel modern pendatang baru dan lokal agar tetap eksis dan berdampingan dengan mereka.
Selain berbagai startegi bisnis/pemasaran/promosi yang harus kita lakukan, pola manajemen khas pun harus dapat kita usung. Kemudian yang tidak kalah penrntingnya adalah ciptakan pangsa pasar tersendiri dan berikan pelayanan prima kepada konsumen.
Di pihak konsumen harus ada kemauan untuk ikut menghidupkan, membesarkan ritel modern, terutama ritel modern lokal milik anak negeri ini. Tidak ada salahnya untuk barang tertentu kita membeli di ritel modern yang memiliki brand yang sudah terkenal, namun untuk barang tertentu lainnya kita juga harus membeli pada ritel modern lokal milik anak negeri ini dan atau ritel konvensional (warung) yang tersebar dikampung-kampung tempat kita tinggal.
