Konten dari Pengguna

Injeksi Rp200 Triliun dan Moneter Longgar: Resep Melesatkan Ekonomi ala Purbaya

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Sarah Putri Romansyah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sumber Foto: Freepik.com
zoom-in-whitePerbesar
Sumber Foto: Freepik.com

Perubahan arah kebijakan moneter–fiskal Indonesia kembali menjadi sorotan sejak Purbaya Yudhi Sadewa menjabat sebagai Menteri Keuangan. Dalam Rapat Kerja Komisi XI DPR RI di Jakarta pada 10 September 2025, Purbaya menegaskan bahwa demonstrasi yang muncul pada akhir Agustus adalah hasil dari tekanan ekonomi yang panjang. Ia menyampaikan, “Yang kemarin demo itu karena tekanan ekonomi berkepanjangan” (diberitakan oleh Bisnis Indonesia, 11 September 2025). Pernyataan ini sekaligus menjadi fondasi atas strategi baru yang ia dorong: meningkatkan pertumbuhan secara agresif melalui kebijakan moneter dan fiskal yang lebih longgar.

Target yang disampaikan Purbaya tidak kecil. Dalam beberapa kesempatan, termasuk pernyataannya yang dikutip oleh Jakarta Globe (September 2025), ia menegaskan bahwa Indonesia perlu mencapai pertumbuhan 6–7% untuk meredam gejolak sosial dan memulihkan daya beli masyarakat. Untuk mendukung itu, berbagai media ekonomi nasional juga melaporkan bahwa pemerintah menyiapkan instrumen likuiditas dan injeksi fiskal besar—termasuk rencana injeksi sekitar Rp200 triliun untuk memperkuat permintaan dan sektor perbankan (diberitakan Ipotnews, 10 Oktober 2025).

Dalam kerangka Purbaya, pelonggaran moneter–fiskal bukanlah pilihan ekstrem, melainkan strategi yang dianggap perlu untuk “menghidupkan sektor riil” dan menyerap tenaga kerja dengan cepat.

Taruhan: Pertumbuhan Cepat vs Risiko Inflasi dan Stabilitas Keuangan

Secara teori, pelonggaran moneter memang dikenal mampu meningkatkan likuiditas, mendorong ekspansi kredit, dan pada akhirnya mendorong konsumsi serta investasi. Namun, kebijakan seperti ini selalu membawa risiko. Literatur ekonomi moneter, termasuk penelitian IMF (2020) mengenai transmisi kebijakan moneter di negara berkembang, menegaskan bahwa stimulus yang terlalu besar dapat meningkatkan volatilitas harga dan melemahkan stabilitas sektor keuangan bila tidak diimbangi pengawasan yang ketat.

Penelitian World Bank dalam Inflation in Emerging and Developing Economies (2019) juga memperlihatkan bahwa negara berkembang memiliki sensitivitas inflasi yang lebih tinggi terhadap ekspansi likuiditas dibandingkan negara maju. Artinya, pelonggaran moneter besar-besaran bisa menaikkan inflasi jika kapasitas produksi tidak bergerak secepat permintaan.

Di sisi teori pertumbuhan jangka panjang, studi berjudul Inflation, Liquidity, and Long-Run Growth (dipublikasikan di SSRN) menjelaskan bahwa injeksi likuiditas hanya meningkatkan output bila diarahkan pada sektor produktif. Sebaliknya, bila stimulus mengalir ke konsumsi non-produktif, dampaknya hanya sementara dan berpotensi menciptakan “inflationary spiral”.

Kutipan Kebijakan Purbaya

1. “Yang kemarin demo itu karena tekanan ekonomi berkepanjangan.”

— Purbaya Yudhi Sadewa, Rapat Kerja Komisi XI DPR RI, Jakarta, 10 September 2025 (Bisnis Indonesia).

2. “Pertumbuhan 6–7% diperlukan untuk meredam ketidakstabilan sosial.”

— Pernyataan publik Purbaya yang dikutip oleh Jakarta Globe, September 2025.

3. Pemerintah menyiapkan injeksi likuiditas sekitar Rp200 triliun untuk memperkuat sektor riil.

— Dilaporkan oleh Ipotnews, 10 Oktober 2025.

Pernyataan-pernyataan di atas menggarisbawahi satu pesan utama: Purbaya sedang menempatkan pertumbuhan ekonomi sebagai instrumen stabilitas sosial. Dan itu mencerminkan taruhan yang sangat besar, baik secara politik maupun teknis.

Analisis: Apakah Taruhan Itu Layak?

Jika dinilai dari sisi tujuan, strategi Purbaya cukup jelas: menaikkan pertumbuhan secara cepat untuk menekan pengangguran dan menjaga daya beli. Dalam kondisi tekanan sosial, strategi ini memang logis.

Namun, tantangannya tidak kecil:

1. Target 6–7% bukan angka yang mudah dicapai.

Pertumbuhan Indonesia selama satu dekade terakhir sering berada pada level 4–5%. Untuk melompat ke 6–7%, dibutuhkan investasi besar, produktivitas yang meningkat, serta situasi eksternal yang mendukung. Tanpa itu, target berpotensi menjadi sekadar harapan politis.

2. Risiko inflasi sangat nyata.

Pelonggaran likuiditas berskala besar dapat meningkatkan tekanan inflasi lebih cepat daripada output. Hal ini selaras dengan temuan World Bank bahwa emerging markets lebih rawan overheating.

3. Stabilitas perbankan harus diawasi ketat.

Jika ekspansi kredit dilakukan terlalu cepat, perbankan berpotensi menaikkan porsi kredit berisiko tinggi. IMF merekomendasikan penegakan kebijakan makroprudensial yang ketat agar ekspansi tidak berubah menjadi krisis keuangan.

4. Belanja produktif adalah kunci.

Arah stimulus harus fokus pada sektor padat karya dan investasi produktif—bukan hanya konsumsi. Jika salah sasaran, pertumbuhan akan bersifat “jangka pendek dan rapuh”.

Kesimpulan

Purbaya mengambil taruhan besar: menggunakan kebijakan moneter dan fiskal yang longgar untuk mendorong pertumbuhan secara cepat. Taruhan ini wajar bila tujuannya meredam ketidakstabilan sosial dan memulihkan ekonomi. Namun, keberhasilan strategi ini sangat bergantung pada tiga syarat: pengawasan makroprudensial yang kuat, alokasi fiskal yang produktif, dan koordinasi erat antara Kementerian Keuangan dan Bank Indonesia.

Jika ketiga syarat tersebut terpenuhi, peluang untuk mencapai pertumbuhan tinggi memang terbuka. Namun jika salah satu gagal, risiko inflasi, kerentanan keuangan, dan pertumbuhan yang tidak berkelanjutan dapat menjadi konsekuensi yang tidak bisa dihindari.

Daftar Pustaka

Sumber Kebijakan & Pernyataan Purbaya

• Bisnis Indonesia. (2025). Laporan Rapat Kerja Komisi XI DPR RI, 10 September 2025.

• Jakarta Globe. (2025). Liputan pernyataan Purbaya tentang target pertumbuhan 6–7%.

• Ipotnews. (2025). Laporan rencana injeksi likuiditas Rp200 triliun, 10 Oktober 2025.

Literatur Akademik & Jurnal

• IMF. (2020). Monetary Policy Transmission in Emerging Markets and Developing Economies.

• World Bank. (2019). Inflation in Emerging and Developing Economies: Evolution, Drivers, and Policies.

• Narayan, P. (SSRN). Inflation, Liquidity, and Long-Run Growth.

• BIS. (2020). Macroprudential Frameworks and Financial Stability in Emerging Markets.