Catatan Kamabigus: Saatnya Pramuka Keluar dari Seremonial Tradisi lama

Kepala SMP Islam Plus An Nahdliyah Gobang, Nganjuk. Penggiat literasi, inovasi pendidikan, dan pemanfaatan teknologi kecerdasan buatan (AI) untuk pembelajaran bermakna.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Dian Wijaya tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sebagai seorang Kepala Sekolah yang juga otomatis diamanahi sebagai Ketua Majelis Pembimbing Gugus Depan (Kamabigus), jujur ada satu pertanyaan yang sering bikin saya termenung setiap kali hari Sabtu tiba. Waktu bel berbunyi dan anak-anak mulai pakai seragam Pramuka lengkap dengan hasduk merah-putih di leher, mata saya sering menangkap dua hal yang kontras. Kerapian atribut di badan mereka, tapi juga kejenuhan yang jelas terpancar dari sorot mata mereka.
Di era anak-anak Gen Alpha sekarang yang terbiasa dengan serba cepat, gawai, dan informasi yang dinamis, kenapa ya kegiatan Pramuka di banyak sekolah masih sering jalan di tempat? Baris-berbaris yang kaku, yel-yel hafalan lama, dan upacara lapangan yang panjang sering kali bikin esensi kepramukaan bergeser. Alih-alih jadi kegiatan yang ditunggu-tunggu, ujung-ujungnya malah jadi rutinitas wajib yang sekadar menggugurkan kewajiban.
Misi yang Kehilangan Jiwa Lapangan
Bukannya nilai luhur Pramuka itu luntur. Tri Satya dan Dasadarma jelas masih jadi fondasi moral yang luar biasa kuat. Masalah utamanya justru ada di cara kita menyampaikannya.
Sering kali materi kepramukaan dicekokin lewat cara-cara administratif yang kering. Ujian Tanda Kecakapan Umum (TKU) berubah wujud jadi urusan isi-mengisi buku saku di dalam kelas yang pengap. Materi-materi kepramukaan yang usang. Padahal, hakikat dasarnya kan scouting. Sebuah kegiatan di alam terbuka, melatih mental agar tangguh, dan memupuk kepekaan sosial. Di pangkalan kami, sandi-sandi pramuka konvensional mulai bertransformasi jadi koding PictoBlox lewat perangkat teknologi tepat guna yang membantu petani bawang merah. Pramuka memang harus diremajakan supaya mengikuti perkembangan zaman agar anak-anak tidak merasa terbebani.
Keluar dari Kungkungan Tradisi Lama: Revitalisasi Pramuka Berbasis Aksi Nyata
Di usianya yang sudah matang, Gerakan Pramuka akan mati suri kalau dibiarkan jalan di tempat. Sudah saatnya pangkalan sekolah berani keluar dari seremonial tradisi lama yang membosankan.
Di sekolah kami, latihan Pramuka sengaja kami rombak agar dampaknya langsung kena ke masyarakat. Karena pangkalan kami juga menyandang predikat Sekolah Siaga Kependudukan (SSK), kegiatan Pramuka dilebur dengan aksi sosial dan agraris. Anak-anak tidak cuma dilatih hormat bendera, tapi juga diajak turun tangan membantu kader posyandu di kampung sekitar. Semangat mandiri itu bahkan kami bawa langsung waktu Jambore Kwarcab Nganjuk. Gugus depan kami memperkenalkan PLTS portable sebagai sumber energi mandiri untuk perkemahan yang ramah lingkungan.
Lebih jauh lagi, jiwa kepramukaan kita padukan dengan sains untuk membantu petani lokal yang sering ketakutan tiap musim ancaman gagal panen. Lewat proyek inovasi siswa, mereka dilibatkan mengoperasikan alat Suryabhumi, Perangkap hama serangga bertenaga surya yang aman karena pakai arus DC serta dilengkapi sensor otomatis. Ada juga E-Wing (Early Warning Fungus Infection Gokils), teknologi deteksi dini kondisi tanah pada lahan bawang merah menggunakan koding PictoBlox buat mendeteksi jamur Fusarium sp. penyebab penyakit moler. Sekarang, Pramuka di tempat kami bukan lagi cuma urusan tongkat dan sandi, tapi wadah nyata buat anak-anak muda jadi solusi di tengah masyarakatnya.
Refleksi Seorang Pemimpin
Sebagai Kamabigus, saya sadar betul perubahan ini tidak bakal terjadi kalau kepala sekolah kerjanya cuma duduk diam di belakang meja. Kita sebagai pemimpin harus mau turun tangan, memberikan kebebasan buat para pembina untuk bereksperimen, merombak modul latihan, dan menyelaraskan nilai lama Pramuka dengan kebutuhan zaman sekarang.
Pramuka itu dari dulu tidak pernah didesain buat mencetak barisan robot berseragam yang penurut tanpa nalar kritis. Mereka dipersiapkan jadi tunas-tunas muda yang tangguh, peka sosial, dan inovatif. Kalau kita pengen anak-anak jatuh cinta sama Pramuka, ya kita sendiri yang harus berani mengembalikan Pramuka jadi petualangan yang hidup dan membumi.
