Saatnya Negara Percaya Otonomi Digital Sekolah

Kepala SMP Islam Plus An Nahdliyah Gobang, Nganjuk. Penggiat literasi, inovasi pendidikan, dan pemanfaatan teknologi kecerdasan buatan (AI) untuk pembelajaran bermakna.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Dian Wijaya tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pendidikan Indonesia kerap terjebak dalam ironi yang melelahkan. Di satu sisi, para pemangku kebijakan sering kali melontarkan wacana membandingkan kualitas literasi dengan standar global atau mendengungkan pentingnya material pembelajaran yang serba "wah" dari pusat. Namun, di sisi lain, negara justru kerap menutup mata terhadap potensi luar biasa yang sudah bertunas di akar rumput. Mentalitas birokrasi kita masih gemar meragukan kemampuan guru sendiri, lalu memilih mengguyur sekolah dengan proyek logistik kertas yang kaku.
Kontradiksi Antara Kurikulum Merdeka dan Proyek Massal
Dunia pendidikan hari ini dihadapkan pada kontradiksi kebijakan yang cukup pelik. Di satu sisi, Kurikulum Merdeka digelorakan untuk menuntut fleksibilitas, kontekstual lokal, serta kemandirian penuh bagi setiap satuan pendidikan. Sekolah didorong lincah merancang strategi pembelajarannya sendiri.
Namun, realitas di lapangan sering kali berkata sebaliknya. Pusat masih kerap menggulirkan proyek pengadaan buku cetak fisik secara sentralistik. Alih-alih menjadi solusi, kebijakan logistik konvensional ini kerap datang terlambat, kaku, dan gagal menjawab kebutuhan riil siswa di berbagai daerah yang karakternya sangat beragam.
Evaluasi Efisiensi: Mengapa Pengadaan Fisik Pusat Kerap Kurang Efektif
Keinginan menyeragamkan bahan ajar melalui proyek fisik berskala besar menyimpan sejumlah kelemahan mendasar dalam tata kelola pendidikan:
Rentan Kendala Distribusi: Pengadaan fisik berskala masif terbukti sering terhambat rantai pasok, sehingga buku kerap tiba di sekolah jauh setelah tahun ajaran berjalan.
Ketidaksesuaian Konteks: Buku seragam nasional kerap gagal merangkum kearifan lokal, mengabaikan disparitas kecepatan belajar di tiap daerah, serta kurang adaptif terhadap dinamika kebutuhan siswa yang cepat berubah.
Kurangnya Optimalisasi Anggaran: Negara harus mengeluarkan anggaran besar untuk barang cetakan yang cepat usang, sementara pengembangan ekosistem digital yang jauh lebih mendesak bagi masa depan siswa justru kurang tersentuh.
Kedaulatan Sekolah: Ketika Akar Rumput Bergerak Mandiri
Di saat birokrasi pusat masih sibuk berwacana soal rantai pasok logistik kertas, sekolah-sekolah di akar rumput sebenarnya sudah melangkah jauh ke depan.
Mengapa kita harus terus bergantung pada buku teks cetak atau modul statis dari pusat, padahal hari ini para guru dapat mengembangkan bahan ajar secara mandiri dengan memanfaatkan teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence)?
Banyak satuan pendidikan kini membuktikan bahwa otonomi dapat diterjemahkan secara radikal. Tanpa harus menunggu kiriman modul dari pusat, guru mampu merancang perangkat pembelajaran secara instan untuk meramu visi-misi sekolah, 8 dimensi profil lulusan, model pembelajaran, pendekatan pembelajaran dan lintas disiplin ilmu, gamifikasi hingga kearifan lokal langsung menjadi bahan ajar digital yang siap pakai.
Tentu saja, kemandirian ini bukan berarti berjalan tanpa arah. Di sinilah peran pengawas sekolah harus bergeser: dari sekadar "pemeriksa administrasi kaku" menjadi kurator profesional yang mendampingi dan memvalidasi modul digital tersebut agar tetap berada dalam koridor mutu nasional serta nilai-nilai kebangsaan.
Ubah Arah Anggaran dari "Proyek Fisik" ke "Ekosistem Digital"
Jika kita ingin pendidikan Indonesia benar-benar berdaulat dan adaptif, paradigma pengadaan harus dirombak total melalui langkah-langkah taktis berikut:
Kurangi Ketergantungan Pengadaan Sentralistik: Alihkan porsi anggaran yang selama ini tersedot untuk distribusi fisik menuju penguatan kapasitas digital sekolah.
Perkuat Infrastruktur dan Otonomi Digital: Berikan dukungan penuh bagi sekolah untuk membangun perangkat digital serta memperkuat literasi pemanfaatan AI secara mandiri bagi guru.
Fasilitasi Kurator Lokal: Berikan ruang dan pelatihan bagi pengawas serta guru untuk bersama-sama menyusun, mengkurasi, dan membagikan modul ajar digital yang kontekstual secara kolaboratif.
Saatnya Negara Percaya pada Kemandirian Sekolah
Sudah saatnya negara berhenti memandang rendah kemampuan domestik dan berhenti memperlakukan sekolah sebagai sekadar objek pengadaan proyek logistik. Satuan pendidikan harus diposisikan sebagai subjek yang berdaulat penuh atas kurikulum dan bahan ajarnya sendiri.
Pendidikan yang bermutu tinggi tidak pernah lahir dari tumpukan paket buku kiriman pusat yang datang terlambat, melainkan dari rahim otonomi, sentuhan teknologi, serta kreativitas guru yang dikurasi secara bijak di ruang-ruang kelas. Saatnya negara percaya pada kedaulatan digital sekolah!
