Dari Kagum Menjadi Iri: Mengapa Keberhasilan Orang Lain Bisa Mengganggu Kita?

saya adalah seorang mahasiswa semester pertama di universitas pamulang, hobi saya membaca dan menulis
·waktu baca 7 menit
Tulisan dari Ulfia Zikra tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Awalnya kita kagum kepada seseorang karena melihat sesuatu yang tidak kita miliki. Ia berprestasi, aktif, percaya diri, atau berhasil mendapatkan kesempatan yang selama ini kita inginkan. Kita melihatnya sebagai sosok yang patut diapresiasi. Bahkan, tidak jarang kita menjadikannya inspirasi.
Namun, perasaan itu bisa berubah ketika orang tersebut semakin dekat dengan kehidupan kita.
Teman yang awalnya kita kagumi karena prestasinya perlahan menjadi seseorang yang tanpa sadar kita bandingkan dengan diri sendiri. Ketika ia mendapatkan nilai lebih tinggi, kita mulai memperhatikan nilai kita. Ketika ia memenangkan perlombaan, kita mulai bertanya mengapa belum mendapat kesempatan yang sama. Ketika ia dipercaya dalam sebuah kegiatan, muncul pertanyaan lain: mengapa bukan kita?
Pada titik tertentu, rasa kagum dapat berubah menjadi rasa tidak nyaman. Kita mungkin tidak membenci orang tersebut, tetapi keberhasilannya mulai terasa mengganggu.
Di sinilah iri bekerja.
Iri sering kali tidak muncul karena kita benar-benar ingin melihat orang lain gagal. Ia bisa muncul karena keberhasilan orang lain membuat kita semakin sadar terhadap sesuatu yang belum berhasil kita capai.
Keberhasilan orang lain sebagai cermin
Ada alasan mengapa keberhasilan teman sendiri terkadang terasa lebih mengganggu dibandingkan keberhasilan orang yang tidak kita kenal.
Kita mengenal teman tersebut.
Kita tahu bagaimana ia belajar, bagaimana kemampuannya, apa yang pernah ia lakukan, bahkan mungkin kita pernah berada dalam posisi yang menurut kita tidak jauh berbeda darinya. Karena itu, ketika ia tiba-tiba melangkah lebih jauh, pencapaiannya terasa dekat dengan kehidupan kita.
Kita tidak lagi sekadar melihat seseorang yang berhasil. Kita melihat seseorang yang mungkin menjadi pembanding bagi diri sendiri.
Di dalam kelas, misalnya, mahasiswa berada dalam lingkungan yang relatif sama. Mengikuti mata kuliah yang sama, mendapatkan tugas dari dosen yang sama, menghadapi ujian yang sama, dan memiliki kesempatan untuk mengikuti kegiatan yang kurang lebih serupa.
Situasi seperti ini membuat perbandingan menjadi hampir tidak terhindarkan.
Ketika seorang teman mendapat nilai tinggi, kita mengetahui nilainya. Ketika ia mendapat penghargaan, kita melihatnya. Ketika namanya sering disebut karena prestasi tertentu, kita mendengarnya.
Lalu kita mulai menghitung pencapaian.
Bukan lagi sekadar, “Dia hebat.”
Tetapi, “Kalau dia bisa, kenapa saya belum?”
Pertanyaan tersebut terdengar sederhana, tetapi bisa menjadi awal dari perasaan tidak nyaman terhadap orang yang sebenarnya tidak melakukan kesalahan apa pun.
Kita sering membandingkan hasil tanpa mengetahui proses
Masalahnya menjadi semakin rumit karena kita cenderung membandingkan hasil akhir.
Kita melihat teman berhasil menerbitkan tulisan, tetapi tidak tahu berapa kali ia mengalami penolakan. Kita melihat seseorang mendapatkan penghargaan, tetapi tidak melihat waktu dan tenaga yang ia keluarkan. Kita melihat seseorang mendapatkan kesempatan lebih dulu, tetapi tidak mengetahui berapa banyak usaha yang dilakukan sebelum kesempatan itu datang.
Kita hanya melihat bagian yang berhasil.
Sementara itu, ketika melihat diri sendiri, kita mengetahui semuanya.
Kita tahu berapa kali gagal, berapa banyak kesempatan yang terlewat, berapa banyak rencana yang belum terealisasi, dan berapa banyak kekurangan yang masih ingin diperbaiki.
Akibatnya, perbandingan yang kita lakukan sejak awal sudah tidak seimbang.
Kita membandingkan kehidupan kita secara keseluruhan dengan keberhasilan orang lain yang hanya terlihat di permukaan.
Media sosial membuat keadaan ini semakin mudah terjadi. Setiap hari kita dapat melihat pencapaian orang lain dalam hitungan detik. Ada yang lulus, mendapat beasiswa, memenangkan lomba, mengikuti kegiatan bergengsi, menerbitkan karya, atau mendapatkan pekerjaan.
Semakin sering melihat keberhasilan orang lain, semakin mudah pula kita bertanya tentang keberhasilan diri sendiri.
Bukan karena kehidupan kita tiba-tiba menjadi lebih buruk, tetapi karena standar yang kita gunakan untuk menilai diri sendiri terus berubah.
Ketika iri mulai memengaruhi hubungan
Merasa iri sebenarnya tidak otomatis menjadikan seseorang buruk.
Perasaan muncul tanpa selalu bisa kita pilih. Kita bisa saja merasa iri, kecewa, atau tertinggal ketika melihat orang lain berhasil.
Yang menjadi persoalan adalah bagaimana kita memperlakukan orang tersebut setelah perasaan itu muncul.
Di sinilah iri bisa menjadi berbahaya.
Seseorang yang tidak mampu berdamai dengan rasa tertinggal mungkin mulai meremehkan pencapaian temannya. Keberhasilan dianggap sebagai keberuntungan. Prestasi dianggap tidak terlalu istimewa. Kesempatan yang diperoleh dianggap hanya karena faktor tertentu.
Kadang kita bahkan tidak sadar bahwa yang sedang kita lakukan bukan sedang menilai orang lain, melainkan berusaha membuat diri sendiri merasa lebih baik.
Jika terus dibiarkan, rasa iri dapat mengubah hubungan yang sebelumnya baik.
Teman yang dulu kita dukung mulai terasa menyebalkan. Keberhasilannya membuat kita tidak nyaman. Kita mulai memperhatikan kekurangannya lebih daripada pencapaiannya.
Yang lebih buruk, kita bisa merasa lebih puas ketika ia gagal.
Pada titik itu, persoalannya bukan lagi tentang prestasi.
Persoalannya sudah menyangkut bagaimana kita memandang diri sendiri dan orang lain.
Tidak semua persaingan harus berakhir dengan saling menjatuhkan
Persaingan sebenarnya tidak selalu buruk.
Dalam lingkungan pendidikan, persaingan bahkan dapat mendorong seseorang untuk berkembang. Melihat teman mendapatkan nilai bagus dapat membuat kita belajar lebih serius. Melihat teman berani mengikuti perlombaan dapat mendorong kita untuk mencoba. Melihat teman menghasilkan karya dapat membuat kita sadar bahwa kita juga memiliki kemampuan yang bisa dikembangkan.
Yang membedakan adalah cara kita meresponsnya.
Ada dua kemungkinan ketika melihat keberhasilan orang lain.
Kita bisa berpikir, “Saya ingin belajar dari dia.”
Atau kita bisa berpikir, “Saya tidak suka dia lebih unggul dari saya.”
Keduanya sama-sama berangkat dari perbandingan, tetapi membawa kita ke arah yang berbeda.
Jika keberhasilan orang lain menjadi motivasi, kita terdorong untuk berkembang. Sebaliknya, jika keberhasilan tersebut dianggap sebagai ancaman, kita bisa terjebak dalam keinginan untuk menjatuhkan atau mengecilkan orang lain.
Karena itu, mungkin yang perlu kita ubah bukan keberhasilan orang lain, tetapi cara kita memaknainya.
Kita tidak harus lebih unggul untuk merasa berhasil
Salah satu kesalahan dalam melihat prestasi adalah menganggap keberhasilan selalu berarti berada di atas orang lain.
Seolah-olah kita baru bisa disebut berhasil ketika nilai kita lebih tinggi, penghargaan kita lebih banyak, atau pencapaian kita lebih besar daripada teman.
Padahal, perkembangan diri tidak selalu membutuhkan orang lain sebagai lawan.
Kita bisa mendapatkan nilai yang lebih baik tanpa harus berharap teman mendapatkan nilai yang lebih rendah. Kita bisa mendapatkan penghargaan tanpa berharap orang lain gagal. Kita bisa memiliki kesempatan tanpa menganggap kesempatan orang lain sebagai ancaman.
Sebab, setiap orang memiliki perjalanan yang berbeda.
Ada yang menemukan kelebihannya lebih cepat. Ada yang baru berani mencoba setelah beberapa kali gagal. Ada yang pencapaiannya terlihat sejak bangku kuliah, sementara yang lain baru menemukan jalannya setelah lulus.
Tidak semua orang harus sampai pada waktu yang sama.
Dan tidak semua orang harus memiliki pencapaian yang sama.
Belajar berdamai dengan keberhasilan orang lain
Mungkin bentuk kedewasaan yang paling sulit dalam sebuah hubungan pertemanan adalah mampu ikut bahagia ketika orang lain mendapatkan sesuatu yang sebenarnya kita inginkan.
Bukan berarti kita tidak boleh merasa iri.
Kita tetap manusia. Perasaan seperti itu mungkin muncul.
Namun, kita bisa belajar berhenti sejenak dan bertanya kepada diri sendiri: mengapa keberhasilan orang ini membuat saya tidak nyaman?
Jika jawabannya karena kita juga menginginkan hal yang sama, mungkin rasa iri tersebut sebenarnya sedang menunjukkan arah.
Kita ingin berprestasi. Kita ingin dipercaya. Kita ingin menghasilkan karya. Kita ingin mendapatkan kesempatan.
Kalau begitu, mengapa energi tersebut digunakan untuk membenci orang yang sudah lebih dulu mendapatkannya?
Bukankah lebih baik kita menggunakan rasa tersebut untuk mulai bergerak?
Teman yang berhasil lebih dulu tidak sedang mengambil jatah keberhasilan kita. Ia hanya sampai lebih cepat pada sesuatu yang mungkin juga sedang kita perjuangkan.
Pada akhirnya, kita tidak perlu mengubah keberhasilan orang lain agar bisa merasa cukup dengan diri sendiri.
Kita juga tidak perlu selalu berada di depan untuk membuktikan bahwa kita berharga.
Sebab, hidup bukan perlombaan dengan satu pemenang.
Hari ini mungkin teman kita lebih dulu mendapatkan kesempatan. Besok bisa jadi kita yang mendapatkannya. Dan ketika giliran kita tiba, mungkin kita juga akan menyadari satu hal: keberhasilan terasa jauh lebih berarti ketika tidak perlu dibangun di atas kegagalan orang lain.
Dari kagum menjadi iri adalah hal yang manusiawi. Namun, dari iri menjadi motivasi adalah pilihan.
Barangkali, keberhasilan orang lain memang tidak selalu datang untuk membuat kita merasa kalah.
Kadang, ia datang untuk menunjukkan bahwa sesuatu yang kita inginkan ternyata mungkin dicapai.
Tinggal bagaimana kita memilih untuk meresponsnya: sibuk menghitung seberapa jauh orang lain sudah melangkah, atau mulai menentukan langkah kita sendiri.
