Konten dari Pengguna

Harga BBM Naik, Apa Dampaknya bagi Kehidupan Sehari-hari?

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Ulfia Zikra tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Gambar Hasil AI
zoom-in-whitePerbesar
Gambar Hasil AI

Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) di Indonesia kembali terjadi pada 2026 dan langsung memicu reaksi yang sama seperti tahun-tahun sebelumnya: kekhawatiran soal biaya hidup. Ini bukan reaksi berlebihan. BBM memang bukan barang biasa. Ia masuk ke hampir semua aktivitas ekonomi, dari distribusi barang sampai mobilitas harian masyarakat.

Berdasarkan pembaruan harga yang diberitakan Reuters dan media nasional yang mengacu pada data Pertamina, harga BBM non-subsidi seperti Pertamax sempat mengalami kenaikan signifikan hingga kisaran Rp16.250 per liter pada periode penyesuaian 2026. Sementara itu, BBM subsidi seperti Pertalite tetap dijaga di sekitar Rp10.000 per liter dan Solar Rp6.800 per liter.

Perbedaan ini penting, karena menunjukkan dua realitas ekonomi yang berjalan bersamaan: harga pasar yang mengikuti global, dan harga subsidi yang ditahan agar daya beli masyarakat tidak jatuh terlalu dalam.

Kalau ditarik lebih jauh, harga BBM di Indonesia tidak pernah berdiri sendiri. Ada tiga tekanan utama yang selalu bekerja di belakangnya.

Pertama, harga minyak dunia. Indonesia masih mengimpor sebagian besar kebutuhan BBM, jadi ketika harga minyak global naik, efeknya langsung terasa di dalam negeri.

Kedua, nilai tukar rupiah. Ini sering diremehkan, padahal dampaknya besar. Saat rupiah melemah, biaya impor energi otomatis naik meskipun harga minyak dunia tidak banyak berubah.

Ketiga, kebijakan subsidi energi. Pemerintah berusaha menahan harga BBM tertentu agar tetap terjangkau, tetapi ruang fiskal tidak tanpa batas. Di titik ini selalu ada tarik-menarik antara stabilitas ekonomi dan beban anggaran negara.

Tiga faktor ini membuat harga BBM sulit stabil. Bukan karena kebijakan yang tidak konsisten, tetapi karena memang struktur ekonominya sangat terbuka terhadap gejolak global.

Dampak Kenaikan BBM

Dampak kenaikan BBM biasanya tidak langsung terlihat di SPBU, tapi di jalanan dan pasar.

Di sektor transportasi, biaya operasional naik dan langsung memengaruhi tarif ojek online, angkutan umum, serta biaya logistik. Ini efek paling cepat dan paling terasa.

Begitu biaya distribusi naik, harga barang ikut bergerak. Bukan karena barangnya berkurang, tapi karena ongkos memindahkannya menjadi lebih mahal. Ini yang sering tidak disadari masyarakat: inflasi tidak selalu soal kelangkaan, tapi juga soal biaya.

UMKM berada di posisi yang cukup sulit. Mereka tidak punya ruang besar untuk menaikkan harga karena daya beli pelanggan juga ikut tertekan. Akhirnya, yang terjadi adalah penyesuaian di sisi keuntungan, bukan di harga.

Pekerja dan mahasiswa merasakan versi yang lebih sederhana tapi nyata: uang yang sama jadi terasa lebih cepat habis karena biaya transportasi naik.

Secara makro, Bank Indonesia dan BPS menempatkan energi sebagai salah satu komponen penting dalam inflasi. Artinya, setiap kenaikan BBM hampir pasti ikut mendorong inflasi dan menekan daya beli masyarakat, meskipun efeknya tidak selalu instan.

Solusi Menghadapi Kenaikan BBM

Masalah BBM tidak bisa diselesaikan hanya dengan menahan harga di SPBU. Itu hanya menunda dampaknya.

Pertama, subsidi energi perlu dipersempit sasarannya. Subsidi yang terlalu luas justru membuat anggaran negara bocor ke kelompok yang sebenarnya tidak membutuhkan.

Kedua, transportasi publik harus menjadi prioritas nyata, bukan hanya rencana jangka panjang. Selama masyarakat masih bergantung pada kendaraan pribadi, BBM akan selalu menjadi titik tekan ekonomi rumah tangga.

Ketiga, UMKM perlu diperkuat dari sisi efisiensi, terutama dalam distribusi dan biaya operasional. Digitalisasi bukan sekadar tren, tapi kebutuhan untuk bertahan.

Keempat, masyarakat juga perlu menyesuaikan pola konsumsi energi. Bukan dalam bentuk pembatasan ekstrem, tetapi perubahan kecil yang konsisten, seperti mengurangi perjalanan tidak penting atau berbagi kendaraan.

Kenaikan harga BBM selalu memperlihatkan satu hal yang sama: ekonomi kita masih sangat sensitif terhadap perubahan harga energi global. Dampaknya tidak berhenti di angka inflasi, tapi terasa langsung di kehidupan sehari-hari.

Masalah utamanya bukan hanya soal harga naik, tetapi seberapa siap sistem ekonomi menyerap guncangan itu tanpa langsung membebani masyarakat bawah. Di titik ini, kebijakan energi bukan lagi sekadar urusan teknis, tetapi soal arah keberpihakan ekonomi.

Kesimpulan

Kenaikan harga BBM berdampak luas dan berantai, mulai dari transportasi, harga kebutuhan pokok, UMKM, hingga daya beli masyarakat. Tekanan terbesar dirasakan oleh kelompok rentan seperti pekerja, mahasiswa, dan pelaku usaha kecil. Karena itu, kebijakan yang dibutuhkan bukan hanya pengendalian harga, tetapi juga subsidi yang tepat sasaran, penguatan transportasi publik, dan perbaikan struktur ekonomi agar lebih tahan terhadap gejolak global.