Konten dari Pengguna

Ketika Circle Menjadi Tembok: Mengapa Mahasiswa Gemar Berkelompok di Kampus?

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Ulfia Zikra tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Gambar Hasil AI
zoom-in-whitePerbesar
Gambar Hasil AI

Pernah merasa menjadi orang yang ada di dalam kelas, tetapi tidak benar-benar menjadi bagian dari kelas?

Secara fisik kita hadir. Mengikuti perkuliahan, mengerjakan tugas, berdiskusi, bahkan sesekali ikut bercanda. Namun, ada kelompok-kelompok tertentu yang terasa memiliki dunia mereka sendiri. Mereka punya tempat duduk langganan, grup percakapan sendiri, agenda sendiri, dan orang-orang yang hampir selalu bersama. Sementara kita hanya melihatnya dari luar.

Kondisi seperti ini bukan sesuatu yang asing di lingkungan kampus. Seiring berjalannya waktu, kelas yang awalnya berisi banyak individu perlahan terbagi menjadi kelompok-kelompok kecil. Ada yang terbentuk karena kesamaan karakter, ada yang berawal dari kebetulan duduk bersebelahan, ada pula yang tumbuh karena sering mengerjakan tugas bersama.

Memiliki teman dekat tentu bukan masalah. Justru, kehidupan kuliah akan terasa jauh lebih menyenangkan ketika kita memiliki orang-orang yang bisa diajak berbagi cerita dan saling mendukung.

Namun, persoalannya muncul ketika circle yang seharusnya menjadi tempat mencari kenyamanan berubah menjadi tembok yang membuat orang lain merasa tidak diterima. Lalu, mengapa kita begitu mudah membentuk kelompok?

Kita memang membutuhkan orang yang terasa “satu frekuensi”

Manusia pada dasarnya membutuhkan hubungan sosial. Di lingkungan kampus, kebutuhan itu semakin terasa karena mahasiswa harus beradaptasi dengan banyak orang, tuntutan akademik, organisasi, tugas, dan berbagai aktivitas baru. Maka, menemukan beberapa orang yang dirasa cocok menjadi sesuatu yang menyenangkan.

Kita bisa bercanda tanpa takut salah dipahami. Bisa bercerita tanpa merasa dihakimi. Bisa meminta bantuan ketika sedang kesulitan. Bahkan, sekadar duduk bersama setelah kelas pun dapat membuat hari yang melelahkan terasa lebih ringan. Karena itu, membentuk circle bukanlah sesuatu yang salah.

Kita tidak mungkin memiliki kedekatan yang sama dengan seluruh teman sekelas. Akan selalu ada beberapa orang yang lebih dekat dibandingkan yang lain.

Masalahnya bukan pada siapa yang kita pilih menjadi teman, tetapi pada bagaimana kita memperlakukan orang yang tidak berada dalam pilihan tersebut. Di sinilah circle bisa mulai berubah fungsi.

Ketika kenyamanan berubah menjadi eksklusivitas

Ada perbedaan antara memiliki teman dekat dan membangun lingkungan yang eksklusif. Teman dekat berarti kita memiliki hubungan yang lebih intens dengan orang-orang tertentu. Eksklusivitas terjadi ketika kedekatan tersebut secara tidak sadar atau sengaja menciptakan batas sosial yang membuat orang lain sulit masuk.

Batas itu tidak selalu berbentuk penolakan secara terang-terangan. Kadang hanya berupa percakapan yang selalu berputar di antara orang yang sama. Rencana yang hanya diketahui anggota kelompok. Tugas yang selalu dikerjakan bersama orang yang sama. Atau kebiasaan saling mengajak satu sama lain tanpa pernah terpikir untuk melibatkan orang di luar kelompok.

Bagi anggota circle, semuanya mungkin terasa biasa. Mereka hanya merasa sedang menghabiskan waktu bersama teman dekat. Tetapi bagi seseorang yang terus berada di luar lingkaran, situasinya bisa terasa berbeda.

Ia mulai bertanya-tanya apakah dirinya tidak cukup menyenangkan untuk diajak berteman. Apakah ada sesuatu yang salah dengan dirinya. Atau apakah memang sejak awal tidak ada ruang baginya di kelompok tersebut.

Yang paling melelahkan terkadang bukan tidak memiliki banyak teman, melainkan merasa tidak dipilih ketika sebenarnya kita berharap untuk diterima.

Mengapa kita lebih nyaman dengan orang yang sama?

Ada alasan mengapa circle mudah terbentuk dan sulit berkembang. Kita cenderung merasa nyaman dengan orang yang memiliki kesamaan dengan kita. Kesamaan cara berpikir, selera humor, kebiasaan, minat, bahkan gaya berkomunikasi dapat membuat hubungan terasa lebih mudah.

Sebaliknya, berinteraksi dengan orang yang berbeda membutuhkan usaha. Kita harus belajar memahami karakter mereka, menghadapi perbedaan pendapat, dan terkadang menyesuaikan cara berkomunikasi.

Karena manusia cenderung mencari kenyamanan, kita akhirnya kembali kepada orang-orang yang sudah kita kenal. Tidak ada yang salah dengan itu. Namun, jika dilakukan terus-menerus, kenyamanan dapat membuat kita berhenti mengenal orang lain.

Kita merasa sudah memiliki teman yang cukup sehingga tidak lagi merasa perlu membuka ruang baru. Padahal, salah satu pengalaman paling berharga di kampus justru datang dari pertemuan dengan orang-orang yang berbeda dari kita.

Ketika circle ikut menentukan siapa yang “dianggap”

Masalah menjadi lebih rumit ketika kelompok pertemanan mulai memengaruhi posisi seseorang di lingkungan kelas.

Siapa yang sering diajak berdiskusi. Siapa yang selalu dipilih dalam tugas kelompok. Siapa yang mengetahui informasi lebih dulu. Siapa yang dianggap paling dekat dengan anggota kelas lainnya.

Tanpa disadari, terbentuk semacam hierarki sosial kecil. Bukan hierarki yang dibuat secara resmi, tetapi cukup terasa dalam kehidupan sehari-hari.

Mereka yang memiliki circle kuat cenderung memiliki jaringan sosial yang lebih luas di dalam kelompoknya. Sementara mereka yang tidak memiliki kelompok yang solid dapat merasa harus berjuang lebih keras untuk mendapatkan ruang.

Dalam kondisi tertentu, hal ini juga dapat memengaruhi kerja sama akademik.

Ketika tugas kelompok diberikan, orang-orang yang sudah dekat biasanya langsung saling memilih. Pola yang sama terjadi berulang kali. Akhirnya, mahasiswa yang berada di luar circle tertentu semakin jarang memiliki kesempatan untuk berinteraksi dengan kelompok lain.

Kelas pun berubah menjadi kumpulan kelompok kecil yang hidup berdampingan, tetapi tidak benar-benar saling mengenal.

Apakah semua circle berarti mengucilkan?

Tentu tidak. Kita perlu berhati-hati agar tidak menganggap setiap kelompok pertemanan sebagai bentuk eksklusivitas.

Memiliki sahabat dekat bukan tindakan yang salah. Menolak ajakan karena ingin menghabiskan waktu dengan teman tertentu juga bukan berarti seseorang sedang mengucilkan orang lain. Tidak semua orang harus berteman dekat dengan semua orang.

Yang perlu diperhatikan adalah ketika sebuah circle mulai secara aktif membuat seseorang merasa tidak diterima, merendahkan orang di luar kelompok, atau sengaja membangun jarak sosial hanya karena menganggap kelompoknya lebih baik. Di titik itulah circle tidak lagi sekadar hubungan pertemanan.

Ia mulai menjadi tembok. Dan tembok sosial tidak selalu dibangun dengan kebencian. Kadang ia dibangun dari kebiasaan sederhana yang terus diulang: selalu bersama orang yang sama, selalu memilih orang yang sama, dan tidak pernah mencoba membuka ruang bagi orang lain.

Kampus bukan hanya tempat mencari teman yang sama dengan kita

Ada ironi dalam kehidupan kampus. Kita datang untuk belajar bertemu dengan orang-orang dari berbagai latar belakang, tetapi terkadang justru menghabiskan sebagian besar waktu hanya dengan orang-orang yang memiliki kesamaan dengan kita.

Padahal, kampus seharusnya menjadi ruang untuk belajar menghadapi perbedaan. Di dunia setelah kampus, kita tidak selalu bisa memilih rekan kerja berdasarkan siapa yang paling cocok dengan kita. Kita akan bertemu orang dengan karakter berbeda, cara berpikir berbeda, kebiasaan berbeda, bahkan orang yang mungkin tidak kita sukai.

Kemampuan untuk bekerja sama dengan mereka merupakan keterampilan yang sama pentingnya dengan kemampuan akademik. Karena itu, mungkin sesekali kita perlu keluar dari lingkaran yang sudah terlalu nyaman.

Bukan berarti meninggalkan teman dekat. Cukup dengan menyapa teman yang jarang diajak berbicara. Mengajak orang lain berdiskusi. Tidak selalu memilih orang yang sama ketika mengerjakan tugas. Atau sekadar memberi kesempatan kepada seseorang yang selama ini lebih sering berada di luar kelompok.

Hal-hal tersebut memang terlihat sederhana. Namun, lingkungan yang inklusif sering kali tidak dibangun dari tindakan besar. Ia dibangun dari kebiasaan kecil untuk tidak selalu menutup pintu.

Circle seharusnya menjadi tempat pulang, bukan pagar

Pada akhirnya, kita tetap membutuhkan circle. Kita membutuhkan teman yang bisa diajak tertawa setelah kuliah yang melelahkan. Kita membutuhkan orang yang bisa menjadi tempat bercerita ketika tugas menumpuk. Kita membutuhkan teman yang bisa memberikan dukungan ketika sedang jatuh.

Circle dapat menjadi salah satu hal terbaik dalam kehidupan kampus. Tetapi kenyamanan tidak seharusnya membuat kita kehilangan empati terhadap orang yang berada di luar lingkaran.

Kita boleh memiliki teman dekat tanpa harus membuat orang lain merasa tidak berharga. Kita boleh merasa nyaman bersama kelompok sendiri tanpa menganggap kelompok lain lebih rendah. Dan kita boleh memiliki circle tanpa menjadikannya tembok.

Sebab, pada akhirnya, ukuran sebuah pertemanan bukan hanya seberapa erat hubungan orang-orang di dalamnya, tetapi juga seberapa mampu hubungan tersebut tetap memberi ruang bagi orang lain untuk merasa diterima.

Kampus tidak harus membuat semua orang menjadi sahabat. Namun, setidaknya jangan sampai ruang yang seharusnya menjadi tempat belajar bersama justru membuat seseorang merasa seperti orang asing di kelasnya sendiri.

Circle boleh menjadi tempat kita bertumbuh. Tetapi jangan biarkan ia berubah menjadi tembok yang membuat orang lain tidak punya tempat untuk tumbuh.