Mempromosikan Sikap Positif dalam Kewarganegaraan Digital

Profesional di sebuah korporasi, alumnus Paramadina Graduate School of Communications, memiliki personal interest pada komunikasi, komunikasi politik dan dinamika sosiokultural dalam kebijakan publik
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari Endy Sagita tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Kewarganegaraan Digital Sebagai Isu Penting di Era Media Baru
Dalam buku berjudul “Bunga Rampai Komunikasi di Media Baru”, Widjanarko menjelaskan bahwa virtualisasi masyarakat merupakan proses yang telah terbentuk selama berabad-abad melalui evolusi manusia, dimulai dari penemuan alfabet fonetik hingga teknologi masa kini yang mendukung cara-cara baru dalam berkomunikasi dan berinteraksi. Kemajuan teknologi dan akses internet yang luas telah menghubungkan semua orang di ruang-ruang virtual.
Internet dan media sosial telah merevolusi cara orang berinteraksi, dan konektivitas ini menuntut individu tidak hanya menjadi pengguna teknologi, namun juga menjadi warga digital yang bertanggung jawab. Konsep kewarganegaraan digital, yang muncul dari tuntutan ini, belakangan menjadi sangat penting dalam kehidupan digital publik.
Putri & Setyowati dalam penelitian mereka menyoroti perlunya pendidikan kewarganegaraan digital untuk menanamkan pemikiran kritis dan sikap sebagai warga digital, dimulai dari bangku sekolah. Dari ruang kelas, nilai-nilai kewarganegaraan digital diintegrasikan ke dalam penegakan hak dan tanggung jawab digital.
Kewarganegaraan digital mencakup hak dan tanggung jawab individu dalam menggunakan teknologi digital di dalam masyarakat. Konsep ini pertama kali diusulkan oleh Ribble dan Bailey, yang dapat diringkas sebagai aturan yang tepat dan perilaku yang bertanggung jawab dalam penggunaan teknologi informasi.
Sementara itu, Searson dkk. mendefinisikan kewarganegaraan digital sebagai kemampuan untuk terlibat secara aktif dan etis dalam lingkungan digital, yang melibatkan pemahaman tentang bagaimana teknologi memengaruhi kehidupan sehari-hari dan bagaimana individu dapat menggunakan teknologi untuk berkontribusi secara positif bagi masyarakat.
Elemen-elemen Utama Kewarganegaraan Digital
Beberapa elemen utama kewarganegaraan digital sangat penting, yaitu:
Akses Digital, di mana setiap individu harus memiliki akses terhadap teknologi dan internet. Hal ini penting untuk memastikan bahwa setiap orang memiliki kesempatan yang sama untuk belajar dan berpartisipasi.
Literasi Digital, yaitu kemampuan untuk menggunakan teknologi secara efektif dan kritis. Gazi (2016) menekankan pentingnya pendidikan literasi digital dalam kurikulum pendidikan.
Etika Digital, yang melibatkan pemahaman terhadap norma dan perilaku yang dapat diterima dalam interaksi daring, termasuk menghormati privasi orang lain dan tidak menyebarkan informasi yang salah.
Keamanan Digital, yaitu kemampuan untuk mengetahui cara melindungi diri dari risiko di dunia digital, seperti penipuan dan pencurian identitas.
Komunikasi Digital, yaitu kemampuan untuk berkomunikasi secara efektif di platform digital, baik dalam konteks profesional maupun sosial.
Digitalisasi memiliki dampak positif dalam memfasilitasi penyebaran informasi, memudahkan komunikasi antarindividu dan bahkan antarnegara, serta mempermudah akses informasi di berbagai bidang kehidupan dan menyelesaikan pekerjaan dengan cepat. Digitalisasi juga berperan dalam meningkatkan perekonomian karena individu memiliki kesempatan untuk berpartisipasi dalam aktivitas ekonomi dan sosial yang sebelumnya tidak mungkin dilakukan.
Tantangan dan Peluang Kewarganegaraan Digital
Digitalisasi membawa tantangan dalam membangun kewarganegaraan digital. Oyedemi menyoroti tantangan utama kewarganegaraan digital, termasuk rendahnya literasi digital di kalangan masyarakat (terutama mereka yang tinggal di daerah terpencil), penyebaran berita palsu, dan informasi yang menyesatkan. Sementara itu, Yamin dkk. menekankan pencurian identitas sebagai masalah utama di era digital.
Era COVID-19 menandai dimulainya peningkatan paparan digital. Ketika pemerintah menyatakan COVID-19 sebagai bencana dan mengeluarkan perintah lockdown, paparan digital melonjak. Paparan digital ini membutuhkan pengetahuan, keterampilan, dan sikap di dunia maya. Pendidikan menyediakan pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang dibutuhkan di dunia maya, berperan dalam membangun kewarganegaraan digital yang positif.
Fajri dkk. dalam makalahnya menyatakan bahwa pendidikan kewarganegaraan digital dapat membantu siswa mengembangkan keterampilan yang dibutuhkan untuk berkontribusi pada masyarakat yang semakin digital. Kewarganegaraan digital yang positif dimulai di ruang kelas, sebagaimana diteliti oleh Mesa & Romero, yang menemukan bahwa mengintegrasikan kewarganegaraan digital ke dalam kurikulum pendidikan dapat membantu siswa memahami tanggung jawab mereka sebagai pengguna teknologi.
Pendidikan dan Kewarganegaraan Digital di Indonesia
Baru-baru ini, pemerintah Indonesia telah mengambil inisiatif untuk meningkatkan literasi digital di sekolah-sekolah, dan masyarakat berharap inisiatif ini akan menjadi langkah awal yang positif menuju kewarganegaraan digital yang lebih baik di Indonesia. Konsep kewarganegaraan digital dalam pendidikan dapat dikaitkan dengan nilai-nilai Pancasila. Pancasila, yang merupakan ideologi negara yang mendasari semua aspek kehidupan bangsa dan negara, dapat memberikan arahan dan landasan moral bagi kewarganegaraan digital di Indonesia. Nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila berperan dalam menjaga keseimbangan antara kemajuan teknologi dan tanggung jawab sosial, tanpa melanggar prinsip kemanusiaan dan keadilan, kata Jati.
Kewarganegaraan digital adalah seperangkat aturan yang tepat dan etika yang bertanggung jawab dalam penggunaan teknologi informasi, yang melibatkan pemahaman tentang 1) bagaimana teknologi memengaruhi kehidupan sehari-hari dan 2) bagaimana individu dapat menggunakan teknologi untuk berkontribusi secara positif kepada masyarakat.
Kewarganegaraan digital merupakan aspek penting dalam kehidupan di era digital. Memahami unsur-unsur, tantangan, dan peluang dunia digital akan menciptakan komunitas digital yang lebih bertanggung jawab dan inklusif; dan sebagai warga digital, kita memiliki tanggung jawab untuk berpartisipasi secara aktif dan etis dalam masyarakat digital.
Inisiatif pemerintah untuk memasukkan kewarganegaraan digital ke dalam kurikulum pembelajaran akan membantu siswa memahami pentingnya etika digital dan keamanan daring. Hal ini mencakup penerapan pendidikan karakter di sekolah, keluarga, dan masyarakat sebagai strategi untuk mempersiapkan generasi muda menjadi warga digital. Pendidikan membantu menanamkan prinsip-prinsip kewarganegaraan digital pada siswa, yang mengharuskan mereka mempertimbangkan etika digital dan dampak dari apa yang mereka ketik dan bagikan. Prinsip-prinsip ini juga mencakup kesadaran akan aspek hukum, penghormatan terhadap privasi orang lain, dan kemampuan untuk melindungi privasi pribadi. Dimulai dari dunia pendidikan, kewarganegaraan digital yang positif akan menyebar ke dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Indonesia.
