Konten dari Pengguna

Mengapa Lailatul Qadar Lebih Baik dari Seribu Bulan? Penjelasan Ulama dalam Kita

Muhammad Syahrul hikam

Muhammad Syahrul hikam

Santri, penulis, pembelajar, dari pondok kecil plosok jawa, menulis tentang perjalanan, ilmu, dan makna.

·waktu baca 6 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Muhammad Syahrul hikam tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

b Salaf

kemuliaan malam lailatul qodar
zoom-in-whitePerbesar
kemuliaan malam lailatul qodar

Lailatul Qadar adalah malam yang memiliki keutamaan luar biasa dalam Islam. Allah ﷻ menegaskan kemuliaannya dalam Al-Qur’an:

لَيْلَةُ ٱلۡقَدۡرِ خَیۡرࣱ مِّنۡ أَلۡفِ شَهۡر “Lailatul Qadar lebih baik dari seribu bulan.” (QS. Al-Qadr: 3)

Para ulama tafsir dari generasi salaf menjelaskan makna ayat ini dalam berbagai kitab mereka. Penjelasan tersebut menunjukkan betapa besar karunia Allah kepada umat Nabi Muhammad ﷺ.

•Keutamaan Lailatul Qadar Menurut Kitab Ahkamul Qur’an karya Ibnu Arabi

Penjelasan tentang Lailatul Qadar dijelaskan dalam kitab Ahkamul Qur’an karya Abu Bakr Ibn al-Arabi. Dalam kitab tersebut disebutkan bahwa ada beberapa penjelasan mengapa malam ini diberikan kepada umat Nabi Muhammad ﷺ. Dalil dari Kitab disebutkan:

لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْر

Kemudian dijelaskan dalam kitab tersebut bahwa salah satu sebab diberikannya malam ini adalah karena keutamaan yang berupa keistimewaan dari Allah kepada umat Nabi Muhammad ﷺ:

الأول: أنه فضل من ربك

Artinya bahwa Lailatul Qadar merupakan karunia langsung dari Allah kepada umat Islam. Riwayat Tentang Ibadah Bani Israil Delapan Puluh Tahun Dalam kitab yang sama juga disebutkan sebuah riwayat tentang sebab turunnya keutamaan malam ini. Disebutkan riwayat:

الثَّانِي أَنَّهُ «ذَكَرَ رَسُولُ اللَّهِ - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - يَوْمًا أَرْبَعَةً مِنْ بَنِي إسْرَائِيلَ، فَقَالَ: عَبَدُوا اللَّهَ ثَمَانِينَ عَامًا لَمْ يَعْصُوهُ طَرْفَةَ عَيْنٍ

Artinya Rasulullah ﷺ pernah menyebut empat orang dari Bani Israil yang beribadah kepada Allah selama delapan puluh tahun tanpa bermaksiat.

فَعَجِبَ أَصْحَابُ النَّبِيِّ - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - مِنْ ذَلِكَ، فَأَتَاهُ جِبْرِيلُ، فَقَالَ: يَا مُحَمَّدُ، عَجِبَتْ أُمَّتُك مِنْ عِبَادَةِ هَؤُلَاءِ النَّفَرِ ثَمَانِينَ سَنَةً لَمْ يَعْصُوا اللَّهَ طَرْفَةَ عَيْنٍ.

Para sahabat nabi ﷺ kagum akan hal itu, Kemudian malaikat Jibril datang membawa kabar kepada Nabi ﷺ dan berkata: hai Muhammad ﷺ umatmu sungguh kagum dengan bani Israil yang beribadah kepada Allah selama delapan puluh tahun tanpa bermaksiat.

فَقَدْ أَنْزَلَ اللَّهُ عَلَيْك خَيْرًا مِنْ ذَلِكَ، ثُمَّ قَرَأَ: {إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ} [القدر: 1] وَهَذَا أَفْضَلُ مِمَّا عَجِبْت أَنْتَ وَأُمَّتُك مِنْهُ.

Maka Allah menurunkan sesuatu yang lebih baik daripada itu, yaitu Lailatul Qadar. Malam yang lebih utama dari pada ibadahnya bani Israil. Riwayat dalam Al-Muwaththa tentang Pendeknya Umur Umat Nabi Muhammad Dalam penjelasan lain disebutkan riwayat dari Al-Muwaththa karya Imam Malik. Disebutkan:

الثَّالِثُ: قَالَ مَالِكٌ فِي الْمُوَطَّأِ مِنْ رِوَايَةِ ابْنِ الْقَاسِمِ وَغَيْرِهِ عَنْهُ: سَمِعْت مَنْ أَثِقُ بِهِ يَقُولُ: «إنَّ رَسُولَ اللَّهِ - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - أُرِيَ أَعْمَارَ الْأُمَمِ قَبْلَهُ، فَكَأَنَّهُ تَقَاصَرَ أَعْمَارَ أُمَّتِهِ أَلَّا يَبْلُغُوا مِنْ الْعَمَلِ مِثْلَ مَا بَلَغَ غَيْرُهُمْ فِي طُولِ الْعُمُرِ، فَأَعْطَاهُ اللَّهُ لَيْلَةَ الْقَدْرِ، وَجَعَلَهَا خَيْرًا مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ».

Rasulullah ﷺ diperlihatkan umur umat-umat terdahulu, dan beliau merasa bahwa umur hidup umatnya terlalu pendek untuk dapat melakukan amal kebaikan sebanding dengan umat-umat yang terdahulu . Karena itu Allah memberikan karunia:

فَأَعْطَاهُ اللَّهُ لَيْلَةَ الْقَدْرِ، وَجَعَلَهَا خَيْرًا مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ

Allah memberikan kepada nabiﷺ dan umatnya Lailatul Qadar, dan menjadikan-nya lebih baik daripada seribu bulan. Ini menunjukkan bahwa malam tersebut merupakan rahmat besar bagi umat Nabi Muhammad ﷺ. •Keutamaan Besar bagi Umat Nabi Muhammad Dalam kitab yang sama dijelaskan bahwa umat Nabi Muhammad mendapatkan banyak keutamaan dari Allah. Disebutkan:

ومن أفضل ما أعطوا ليلة القدر التي هي خير من ألف شهر

Di antara karunia terbesar yang diberikan kepada umat ini adalah Lailatul Qadar yang lebih baik dari seribu bulan. Penjelasan Kitab Ahkamul Qur’an karya Al-Jasshash Penjelasan lain tentang Lailatul Qadar juga disebutkan dalam kitab Ahkamul Qur’an karya Ahmad al-Jashsash. Dalam kitab tersebut dijelaskan:

إنَّما هي خَيْرٌ مِن ألْفِ شَهْرٍ لَيْسَ فِيها لَيْلَةُ القَدْرِ، وذَلِكَ لِما يُقْسَمُ فِيها مِنَ الخَيْرِ الكَثِيرِ الَّذِي لا يَكُونُ مِثْلُهُ في ألْفِ شَهْرٍ، فَكانَتْ أفْضَلَ مِن ألْفِ شَهْرٍ لِهَذا المَعْنى.

Artinya malam tersebut lebih baik dari seribu bulan yang di dalamnya tidak terdapat Lailatul Qadar. Karena pada malam tersebut Allah menurunkan banyak kebaikan. •Perbedaan Riwayat Tentang Waktu Lailatul Qadar Masih dalam kitab Ahkamul Qur’an karya Ahmad al-Jashsash juga menyebut beberapa riwayat hadits tentang waktu Lailatul Qadar. Disebutkan riwayat dari sahabat di antaranya riwayat dari Abdullah ibn Abbas yang menyebutkan:

واخْتَلَفَتِ الصَّحابَةُ فِيها، فَرُوِيَ عَنِ النَّبِيِّ ﷺ «أنَّها لَيْلَةُ ثَلاثٍ وعِشْرِينَ» رَواهُ ابْنُ عَبّاسٍ.

Artinya: Lailatul Qadar terjadi pada malam ke-23 Ramadhan. Namun terdapat juga hadits lain yang memerintahkan umat Islam untuk mencarinya pada sepuluh malam terakhir Ramadhan pada malam-malam ganjil.

ورَوى أبُو سَعِيدٍ الخُدْرِيُّ أنَّ النَّبِيَّ ﷺ قالَ: التَمِسُوها في العَشْرِ الأواخِرِ واطْلُبُوها في كُلِّ وتْرٍ.

Artinya: Carilah Lailatul Qadar pada sepuluh malam terakhir dan pada malam-malam ganjil. Dan juga Diriwayatkan dari sahabat Ibnu Mas'ud bahwa malam Lailatul Qadar jatuh pada malam ke-29, 21 ,23 ramadhan.

وعَنْ ابْنِ مَسْعُودٍ قالَ: قالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: لَيْلَةُ تِسْعَ عَشَرَةَ مِن رَمَضانَ ولَيْلَةُ إحْدى وعِشْرِينَ ولَيْلَةُ ثَلاثٍ وعِشْرِينَ.

Dan juga Diriwayatkan dari sahabat Ibnu Umar, malam Lailatul Qadar jatuh pada tanggal 27 Ramadhan.

وعَنِ ابْنِ عُمَرَ عَنِ النَّبِيِّ ﷺ أنَّهُ قالَ: تَحَرُّوا لَيْلَةَ القَدْرِ في السَّبْعِ الأواخِرِ. ورُوِيَ أنَّهُ قالَ: في سَبْعٍ وعِشْرِينَ.

Tapi juga Diriwayatkan dari beberapa sahabat bahwa Lailatul Qadar jatuh pada setiap malam ramadhan.

حَدَّثَنا مُحَمَّدُ بْنُ بَكْرٍ البَصْرِيُّ قالَ: أخْبَرَنا أبُو داوُدَ قالَ: حَدَّثَنا حُمَيْدُ بْنُ زِنْجَوَيْهِ النَّسائِيُّ قالَ: حَدَّثَنا سَعِيدُ بْنُ أبِي مَرْيَمَ قالَ: حَدَّثَنا مُحَمَّدُ بْنُ جَعْفَرِ بْنِ أبِي كَثِيرٍ قالَ: أخْبَرَنا مُوسى بْنُ عُقْبَةَ عَنْ أبِي إسْحاقَ عَنْ سَعِيدِ بْنِ جُبَيْرٍ عَنِ ابْنِ عُمَرَ قالَ: «سُئِلَ النَّبِيُّ ﷺ وأنا أسْمَعُ عَنْ لَيْلَةِ القَدْرِ، فَقالَ: هي في كُلِّ رَمَضانَ.

Karena itu para ulama menganjurkan agar umat Islam memperbanyak ibadah pada sepuluh malam terakhir Ramadhan. Dengan demikian seorang muslim tidak akan kehilangan kesempatan untuk meraih keberkahan Lailatul Qadar yang nilainya lebih baik daripada ibadah selama puluhan tahun. •Pendapat Ulama tentang Malam 27 Dalam kitab Al-Iklil karya Jalaluddin al-Suyuti disebutkan pendapat sebagian ulama bahwa Lailatul Qadar berada pada malam ke-27.Disebutkan: قال ابن الفرس فيها دليل على أنها ثابتة باقية Ibnu Al-Faras menyebutkan bahwa ayat ini menunjukkan bahwa Lailatul Qadar tetap ada. Kemudian disebutkan pendapat lain: فقالوا إن الوقف على سلام، ويبدأ هي إشارة إلى سبع وعشرين من الشهر لأنها الكلمة السابعة Sebagian ulama memahami bahwa waqaf pada lafadz salamun, memberi isyarat kepada malam ke-27 Ramadhan, karena lafadz salamun merupakan kalimat yang ke-7. •Kesimpulan Berdasarkan penjelasan para ulama dalam kitab-kitab tafsir salaf: •Lailatul Qadar adalah malam yang lebih baik dari seribu bulan. •Malam ini merupakan karunia khusus bagi umat Nabi Muhammad ﷺ. •Keutamaannya jauh melebihi ibadah selama puluhan tahun. •Para ulama berbeda pendapat tentang waktu pastinya, namun banyak riwayat menyebut sepuluh malam terakhir Ramadhan. •Sebagian ulama juga berpendapat bahwa kemungkinan terkuat adalah malam ke-27.

Karena itu para ulama menganjurkan umat Islam untuk memperbanyak ibadah seperti sholat, memperbanyak dzikir, istighfar, sholawat pada sepuluh malam terakhir Ramadhan agar tidak kehilangan keberkahan Lailatul Qadar. Penulis: Muhammad Syahrul hikam santri ponpes sirojuththolibin brabo, Grobogan, Jawa Tengah.