Food Selfie Jadi Bentuk Afirmasi Status Sosial, Benarkah?

Fresh Graduate in Indonesian Language and Literature
·waktu baca 1 menit
Tulisan dari Betty Khasandra Pujayanti tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Food selfie diartikan sebagai narsisme terhadap makanan secara digital. Foto makanan yang diunggah di media sosial secara tidak langsung menciptakan komunikasi nonverbal.
Sebagian orang menganggap food selfie sebagai perlombaan pertunjukan status sosial. Misalnya, artis, influencer, pejabat, hingga masyarakat perkotaan.
Bagi sebagian orang, makanan tak lagi dipenuhi sebagai kebutuhan pokok. Melainkan sebagai kebiasaan pamer. Kebiasaan melakukan food selfie akan mencerminkan eksistensi diri seseorang. Hal ini berkaitan dengan pencitraan sosial dan ajang komersial diri.
Media sosial memudahkan seseorang menunjukkan kelas sosial melalui postingan. Seseorang hanya perlu melakukan food selfie di tempat bergengsi. Semakin banyak orang yang melihat postingan tersebut, orang semakin berasumsi bahwa ia memiliki status sosial tinggi. Status sosial tinggi berarti memiliki ekonomi di atas rata-rata.
Seseorang akan memperoleh kepuasan sosial apabila melakukan food selfie di tempat bergengsi atau ketika membeli makanan tertentu. Artinya, makanan kini dianggap sebagai bentuk afirmasi atas status sosial seseorang.
Faktanya, food selfie tak selalu mencerminkan status sosial seseorang. Orang mungkin memalsukan potret makanan demi kepuasan pribadi. Orang mungkin dibayar untuk mempromosikan makanan tertentu di media sosial.
Beberapa orang mungkin mengambil food selfie sebagai cara untuk mengesankan orang lain. Dengan kata lain untuk mendapatkan validasi sosial. Meski itu tidak mencerminkan status sosial mereka yang sebenarnya.
Tak ada yang salah dengan orang yang melakukan food selfie. Interpretasi masyarakat terhadap food selfie berbeda-beda. Ada yang mengejar cita rasa, ada juga yang menginginkan makanan dengan tampilan menarik.
