Mengenal Jalan Suryakencana sebagai Ikon Kuliner dan Budaya di Kota Bogor

- Aparatur Sipil Negara Badan Riset dan Inovasi Nasional (ASN BRIN) - Traveller - Pecinta kuliner dan budaya
Konten dari Pengguna
23 Oktober 2021 14:52
·
waktu baca 5 menit
sosmed-whatsapp-whitecopy-link-circlemore-vertical
Tulisan dari Boni Benyamin tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Mengenal Jalan Suryakencana sebagai Ikon Kuliner dan Budaya di Kota Bogor  (21204)
searchPerbesar
Kuliner di Bogor. Foto: Instagram @infobogor & @ngacirnet
Apabila anda melakukan perjalanan ke kota Bogor, tidak lengkap rasanya jika tidak menikmati aneka kuliner dan jajanan yang ada di sana. Berbagai pusat kuliner tersebar di kota hujan tersebut, mulai dari Jalan Pajajaran, Jalan Jenderal Sudirman, sampai ke lokasi yang paling ikonik, yaitu Jalan Suryakencana.
ADVERTISEMENT
Menu yang ditawarkan sangat beragam, mulai dari sekadar minuman kopi dengan cemilan pendampingnya, sampai hidangan yang lebih berat, seperti nasi dengan berbagai variannya, laksa, soto, dan lain sebagainya. Semuanya sangat menggugah selera bagi para pecinta kuliner.
Berbicara tentang kuliner dan budaya di kota Bogor, harus menyebut Jalan Suryakencana sebagai salah satu ikonnya. Hampir sepanjang jalannya dipenuhi dengan street food, layaknya sebuah pusat jajanan dan selalu ramai dikunjungi para pecinta kuliner atau warga lokal yang berkunjung untuk menikmati makanannya.
Sebagaimana pernah diulas oleh beberapa media, penulis merangkum enam menu makanan dan minuman halal yang wajib dicoba apabila anda berkunjung ke Jalan Suryakencana.
Pertama, Lumpia Basah. Salah satu pelopor lumpia basah di Bogor adalah Ernes, yang meneruskan resep lumpia basah dari neneknya. Lumpia khas Bogor berisi cacahan bengkuang, tauge, tahu, ebi giling, dan telur.
ADVERTISEMENT
Sejak tahun 1980an gerobak lumpia basah milik Ernes berjualan di depan Ngo Hiang, Jalan Suryakencana No. 307.
Kedua, Laksa Bogor. Laksa yang wajib anda coba di Jalan Suryakencana adalah Laksa Gang Aut Mang Wahyu, yang dikelola oleh generasi ketiga pemiliknya. Kuah laksa di kedai ini menggunakan tiga belas jenis rempah yang berbeda, antara lain: salam, serai, lada, dan beberapa bumbu rahasia yang menjadi ciri khas laksa di sini.
Kuah laksa yang manis, pedas, dan gurih membuat ketagihan pada saat menyeruputnya. Dipadu dengan taburan daun kemangi dan serundeng menciptakan cita rasa kuah laksa yang khas.
Ketiga, Soto Kuning. Bogor dikenal dengan sajian soto kuning yang berbeda dengan di tempat lain. Salah satu kedai soto kuning yang terkenal di sana adalah Soto Kuning Pak Yusup yang berlokasi di Gang Aut, Jalan Suryakencana No. 287.
ADVERTISEMENT
Kuah kuning yang gurih serta isian daging yang empuk atau kikil dan lidah sapi yang kenyal dapat anda pilih sesuai selera.
Keempat, Cungkring. Cungkring adalah merupakan sajian yang terbuat dari cingur atau bibir dan kulit sapi. Cingur dan kulit sapi tersebut direbus terlebih dahulu dengan aneka rempah selama kurang lebih 2-3 jam sampai empuk, kemudian dipotong kecil-kecil sekitar 4x4 cm.
Cungkring biasa disajikan dengan potongan lontong dan saus kacang yang manis, pedas dan gurih. Cungkring yang terkenal di Jalan Suryakencana adalah Cungkring Pak Jumat yang diteruskan oleh anaknya, Mang Deden.
Angkringan Cungkring Pak Jumat berlokasi di Jalan Suryakencana No. 285. Penulis merekomendasikan cungkring ini sebagai makanan yang wajib untuk dinikmati jika anda sedang berburu kuliner di sana.
ADVERTISEMENT
Kelima, Es Pala. Kurang afdol rasanya setelah kita menikmati aneka makanan tanpa mencoba aneka minuman khas di Jalan Suryakencana. Salah satu minuman yang wajib dicoba adalah Es Pala Pak Ujang.
Tenda sederhana Es Pala Pak Ujang terletak di perempatan masuk Gang Aut, Jalan Suryakencana No. 287. Dinginnya es dan aroma buah pala yang khas menjadi pelipur dahaga dari cuaca kota Bogor yang panas.
Keenam, Bir Kocok. Minuman lain yang penulis rekomendasikan untuk dicoba adalah Bir Kocok. Layaknya Bir Pletok khas Betawi, “bir” yang satu ini tidak menggunakan alkohol. Bir Kocok justru memiliki khasiat yang menyehatkan tubuh.
Resepnya adalah jahe merah, kayu manis, cengkeh, gula pasir dan gula aren. Jahe merah digunakan karena rasanya yang lebih pedas, sangat baik untuk menjaga sirkulasi darah.
ADVERTISEMENT
Penjual Bir Kocok yang terkenal di sana adalah Mang Eman, yang mewarisi resep Bir Kocok dari kakeknya. Kedai Bir Kocok Mang Eman terletak di perempatan Gang Aut, Jalan Suryakencana No. 287.
Selain dikenal sebagai pusat kuliner di kota Bogor, Jalan Suryakencana telah menjadi ikon akulturasi budaya lokal dengan budaya pendatang, khususnya etnis Tionghoa. Berbagai perpaduan budaya, mulai dari makanan, serapan bahasa sampai ke atraksi budaya, telah berlangsung selama berabad-abad lamanya di sana.
Untuk itu, ada baiknya membahas sedikit ke belakang terkait sejarah Jalan Suryakencana pada zaman dahulu hingga populer seperti sekarang ini. Dengan memahami sejarahnya, kita dapat mengetahui bagaimana Jalan Suryakencana berkembang sebagai pusat kuliner dan budaya di kota Bogor.
ADVERTISEMENT
Kiki Oktaliani (2021) menyampaikan bahwa kawasan Jalan Suryakencana sudah menjadi pusat perniagaan sejak zaman kolonial. Sejarahnya berawal dari peristiwa tahun 1740, di mana terjadi pengusiran etnis Tionghoa dari kota Batavia. Peristiwa tersebut akhirnya mengharuskan etnis Tionghoa pindah ke daerah yang kini dikenal dengan nama Jalan Suryakencana, di kota Bogor.
Masyarakat Tionghoa kala itu bertahan hidup dengan berdagang, sehingga oleh pihak kolonial Jalan Suryakencana dulu disebut dengan nama Handelstraat (Jalan Perniagaan). Dibangun sekitar tahun 1808 atas perintah Daendels, Gubernur Hindia Belanda waktu itu, sebagai bagian ruas Jalan Raya Pos Anyer-Panarukan.
Tepat di belakang Jalan Perniagaan terdapat pemukiman khusus etnis Tionghoa atau Pecinan. Namun demikian, akibat dihapusnya kebijakan Wijkenstelsel, maka banyak etnis lain, terutama etnis Sunda, datang dan hidup berdampingan dengan sangat harmonis di sana.
ADVERTISEMENT
Pada tahun 1970 oleh pemerintah kota Bogor nama Jalan Perniagaan kemudian diganti menjadi Jalan Suryakencana hingga saat ini. Di kawasan Jalan Suryakencana terdapat satu vihara atau klenteng tertua di kota Bogor, yaitu Vihara Danagun atau Hok Tek Bio.
Pada perayaan hari besar keagamaan tertentu, pengurus vihara ini setiap tahun menyelenggarakan berbagai event budaya, seperti tari liong, barongsai, dan berbagai atraksi lainnya. Pemerintah Kota Bogor menjadikan event budaya tersebut sebagai kalender kegiatan rutin tahunan yang mempersatukan berbagai elemen etnis di kota Bogor.
Pada tahun 2016, Pemerintah Kota Bogor meresmikan Jalan Suryakencana sebagai kawasan heritage. Hal tersebut ditandai dengan dibangunnya sebuah gerbang khas etnis Tionghoa, yang disandingkan dengan papan nama yang bertuliskan “Lawang Suryakancana Kampung Tengah-Buitenzorg Dayeuh Bogor”.
ADVERTISEMENT
Walikota Bogor pada saat itu menyatakan bahwa dipilihnya kawasan Jalan Suryakencana sebagai ikon pusaka kota Bogor karena kawasan tersebut menjadi tempat bertemunya berbagai etnis, bahasa dan budaya. Apabila anda ingin melihat potret kecil tentang proses akulturasi budaya lokal dengan budaya pendatang, khususnya etnis Tionghoa, datanglah ke Jalan Suryakencana. Sikap toleransi dan saling menghargai antar etnis sangat terlihat nyata di sana.
Penulis: Boni Benyamin
Baca Lainnya
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020