BI Rate Naik atau Turun, Apa Dampaknya bagi Masyarakat?

Mahasiswi program studi pendidikan ekonomi di universitas Pamulang
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari Sinta Amelia tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ketika Bank Indonesia mengubah suku bunga acuan atau BI-Rate, keputusan tersebut sering kali terdengar seperti kebijakan yang hanya berkaitan dengan perbankan. Padahal, perubahan BI-Rate dapat berpengaruh terhadap berbagai aktivitas ekonomi masyarakat, mulai dari cicilan kredit, tabungan, pinjaman usaha, hingga keputusan untuk melakukan konsumsi.
Bank Indonesia terakhir mempertahankan BI-Rate pada level 5,75 persen dalam Rapat Dewan Gubernur pada 18–19 Agustus 2026. Sementara itu, arah kebijakan berikutnya menjadi perhatian karena RDG Bank Indonesia dijadwalkan berlangsung pada 22–23 September 2026. (Bank Indonesia)
Lalu, sebenarnya apa yang terjadi kepada masyarakat ketika BI-Rate naik atau turun?
Mengenal BI-Rate
BI-Rate merupakan suku bunga kebijakan yang ditetapkan Bank Indonesia dan menjadi salah satu acuan dalam pelaksanaan kebijakan moneter. Perubahan BI-Rate dapat memengaruhi kondisi pasar uang dan kemudian diteruskan ke suku bunga perbankan.
Namun, penting dipahami bahwa BI-Rate bukan berarti sama persis dengan bunga kredit yang dibayarkan masyarakat kepada bank. Bank memiliki pertimbangan sendiri dalam menentukan suku bunga kredit dan simpanan, seperti biaya dana, kondisi pasar, risiko kredit, serta strategi masing-masing bank.
Karena itu, perubahan BI-Rate tidak selalu langsung membuat bunga kredit atau bunga deposito berubah pada saat yang sama.
Jika BI-Rate Naik, Apa yang Terjadi?
Ketika BI-Rate dinaikkan, salah satu tujuan utamanya adalah menjaga stabilitas ekonomi, termasuk mengendalikan tekanan inflasi dan menjaga stabilitas nilai tukar.
Bagi masyarakat yang memiliki pinjaman dengan suku bunga mengambang, kenaikan suku bunga dapat meningkatkan beban pembayaran apabila bank kemudian menyesuaikan bunga kredit. Hal ini dapat dirasakan oleh masyarakat yang memiliki kredit pemilikan rumah (KPR), kredit kendaraan, kartu kredit, maupun pinjaman usaha.
Pelaku UMKM juga perlu memperhatikan kondisi tersebut. Jika biaya pinjaman meningkat, tambahan modal dari kredit perbankan menjadi lebih mahal sehingga pelaku usaha harus lebih cermat dalam mengatur arus kas dan rencana ekspansi usaha.
Namun, kenaikan suku bunga tidak hanya memberikan dampak kepada pihak yang memiliki pinjaman. Masyarakat yang menyimpan dana di bank juga berpotensi memperoleh tingkat imbal hasil simpanan yang lebih tinggi apabila bank menaikkan suku bunga simpanannya.
Jika BI-Rate Turun, Apa Dampaknya?
Sebaliknya, ketika BI-Rate diturunkan, biaya dana di pasar dapat menjadi lebih rendah dan kondisi tersebut dapat memberikan ruang bagi perbankan untuk menyesuaikan suku bunga kredit.
Bagi masyarakat yang membutuhkan pinjaman, kondisi suku bunga yang lebih rendah dapat membuat biaya pembiayaan menjadi lebih ringan, meskipun besarnya perubahan tetap bergantung pada kebijakan masing-masing bank dan jenis kredit yang digunakan.
Penurunan suku bunga juga dapat mendorong masyarakat dan dunia usaha untuk meningkatkan aktivitas ekonomi. Masyarakat dapat memiliki ruang lebih besar untuk melakukan konsumsi, sedangkan perusahaan atau pelaku UMKM dapat mempertimbangkan penambahan modal dan investasi.
Namun, penurunan BI-Rate juga dapat membuat imbal hasil simpanan tertentu menjadi lebih rendah. Oleh karena itu, dampaknya tidak sama bagi setiap kelompok masyarakat.
Dampaknya Tidak Langsung dan Tidak Bersamaan
Hal yang sering disalahpahami adalah anggapan bahwa ketika BI-Rate berubah, seluruh bunga bank akan langsung berubah dengan besaran yang sama.
Pada kenyataannya, proses tersebut membutuhkan waktu. Data Otoritas Jasa Keuangan yang diberitakan Kontan menunjukkan bahwa setelah BI-Rate meningkat secara kumulatif 100 basis poin pada April–Juli 2026, rata-rata tertimbang suku bunga dana pihak ketiga rupiah meningkat 19 basis poin, sedangkan suku bunga kredit rupiah meningkat 15 basis poin. Hal tersebut menunjukkan bahwa transmisi kebijakan suku bunga berlangsung secara bertahap. (kontan.co.id)
Dengan demikian, masyarakat perlu memahami bahwa BI-Rate merupakan salah satu faktor yang memengaruhi bunga perbankan, bukan satu-satunya faktor.
Bagaimana dengan Harga Barang?
Perubahan BI-Rate juga berkaitan dengan kondisi inflasi. Ketika tekanan inflasi meningkat, kebijakan suku bunga yang lebih ketat dapat digunakan untuk memengaruhi permintaan dalam perekonomian.
Ketika suku bunga meningkat, masyarakat dan dunia usaha dapat menjadi lebih berhati-hati dalam mengambil kredit dan melakukan pengeluaran. Jika permintaan dalam perekonomian dapat dikelola, tekanan terhadap harga juga dapat berkurang.
Sebaliknya, ketika kondisi ekonomi membutuhkan dorongan, suku bunga yang lebih rendah dapat memberikan ruang bagi konsumsi dan investasi. Namun, kebijakan tersebut tetap perlu memperhatikan stabilitas harga dan nilai tukar.
Artinya, perubahan BI-Rate tidak secara langsung menentukan harga setiap barang di pasar. Pengaruhnya bekerja melalui berbagai saluran, seperti kredit, konsumsi, investasi, nilai tukar, dan ekspektasi masyarakat.
Apa yang Perlu Dilakukan Masyarakat?
Masyarakat tidak perlu panik setiap kali mendengar berita mengenai kenaikan atau penurunan BI-Rate. Hal yang lebih penting adalah memahami bagaimana perubahan tersebut berhubungan dengan kondisi keuangan masing-masing.
Bagi masyarakat yang memiliki cicilan, penting untuk mengetahui jenis suku bunga yang digunakan dalam kredit. Bagi masyarakat yang memiliki tabungan atau deposito, perubahan tingkat bunga juga perlu diperhatikan.
Sementara bagi pelaku UMKM, perubahan suku bunga dapat menjadi pertimbangan dalam mengambil keputusan mengenai tambahan modal, investasi, dan pengembangan usaha.
Dengan memahami mekanisme tersebut, masyarakat dapat membuat keputusan keuangan dengan lebih hati-hati dan tidak hanya mengikuti informasi mengenai naik atau turunnya suku bunga.
Kesimpulan
BI-Rate merupakan salah satu instrumen penting dalam kebijakan moneter Bank Indonesia yang dapat memengaruhi kondisi perekonomian dan kehidupan masyarakat.
Ketika BI-Rate naik, biaya pembiayaan dapat meningkat dan masyarakat yang memiliki pinjaman berpotensi menghadapi beban bunga yang lebih tinggi, meskipun penyesuaiannya tidak selalu langsung. Di sisi lain, masyarakat yang menyimpan dana dapat memperoleh peluang mendapatkan bunga simpanan yang lebih tinggi apabila bank melakukan penyesuaian.
Sebaliknya, ketika BI-Rate turun, biaya pembiayaan dapat menjadi lebih ringan dan dapat memberikan ruang bagi konsumsi, investasi, serta kegiatan usaha. Namun, imbal hasil simpanan tertentu juga dapat ikut menurun.
Karena itu, naik atau turunnya BI-Rate tidak dapat dilihat hanya dari satu sisi. Dampaknya berbeda-beda tergantung pada posisi masyarakat sebagai peminjam, penabung, konsumen, maupun pelaku usaha. Yang terpenting adalah memahami mekanismenya agar setiap perubahan kebijakan moneter dapat disikapi secara rasional dan sesuai dengan kondisi keuangan masing-masing.
