Generasi Terigu: Ketika Gorengan dan Mi Instan Mengancam Tubuh Kita

Mahasiswa Fakultas Keperawatan Universitas Airlangga
ยทwaktu baca 4 menit
Tulisan dari Melsa Amira Husna tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Hampir sulit membayangkan keseharian masyarakat Indonesia tanpa kehadiran tepung terigu. Dari kepulan asap gorengan di pinggir jalan saat sore hari, kehangatan martabak manis di malam hari, hingga aroma sedap gurih mi instan yang diseduh saat tanggal tua, semuanya berasal dari satu bahan dasar yang sama. Tepung terigu kini bukan lagi sekadar pelengkap, melainkan menu utama harian.
Ironisnya, di negara yang tidak menghasilkan gandum sendiri secara komersial ini, Indonesia telah menjadi salah satu konsumen olahan tepung terbesar di dunia. Olahan tepung menjadi pilihan banyak orang karena dianggap praktis, mudah didapat, dan bersifat adiktif. Namun, di balik kenikmatan dan kepraktisan makanan-makanan dari tepung tersebut, ada harga mahal yang diam-diam mulai dibayar oleh tubuh kita.
Keterikatan kita pada olahan terigu ini tidak bisa lepas dengan lonjakan masalah kesehatan nasional. Data Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 dari Kementerian Kesehatan menunjukkan bahwa angka obesitas pada masyarakat dewasa di Indonesia telah menyentuh 23,4%.
Angka ini terus merambat naik jika dibandingkan dengan hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2018 yang berada di angka 21,8%, bahkan melompat jauh jika dibanding tahun 2007 yang baru 10,5%. Naiknya angka obesitas ini seolah menjadi pertanda bahwa terdapat pergeseran pola makan masyarakat yang semakin bergantung pada tepung.
Di samping itu, laporan World Instant Noodles Association (WINA) mencatat bahwa Indonesia konsisten memegang predikat sebagai konsumen mi instan terbanyak kedua di dunia dengan konsumsi mencapai lebih dari 14 miliar porsi per tahun. Ini semakin memperkuat pernyataan bahwa masyarakat Indonesia masih tidak bisa lepas dari tepung.
Mengapa kita perlu kontrol konsumsi makanan bertepung? Secara gizi, tepung terigu olahan telah kehilangan serat alami dan nutrisi utamanya selama proses penggilingan. Produk olahan terigu tergolong sebagai karbohidrat berindeks glikemik tinggi. Artinya, jika dikonsumsi tanpa dibarengi dengan makanan yang mengandung protein dan serat yang cukup, lonjakan gula darah akan terjadi secara drastis lalu anjlok seketika. Perubahan drastis ini akan memicu rasa lapar berulang dalam waktu yang singkat serta tubuh akan cepat merasa lelah dan ngantuk.
Masalah ini kian parah saat dipertemukan dengan kebiasaan masyarakat yang masih banyak dijumpai, yaitu menumpuk dua atau lebih sumber karbohidrat dalam sekali porsi makan tanpa sumber makro lain yang cukup. Piring makan orang Indonesia sering kali memadukan nasi putih dengan mi goreng, perkedel kentang bertepung, atau bakwan goreng. Kombinasi karbohidrat berlapis dan lemak dari minyak goreng ini menciptakan makanan yang sangat padat kalori, tetapi miskin serat dan protein.
Maraknya jajanan bertepung juga merupakan cerminan dari gaya hidup masyarakat yang menuntut segalanya cepat dan murah. Makanan olahan tepung umumnya hadir sebagai pangan olahan tingkat tinggi (ultra-processed food) yang dirancang memiliki rasa sangat gurih dan bersifat adiktif. Di tengah ruang publik yang dipenuhi penjual jajanan murah serta mobilitas kerja yang tinggi, makanan bertepung menjadi pilihan paling terjangkau bagi kantong dan waktu. Sayangnya, kemudahan ini berbanding terbalik dengan tingkat aktivitas fisik masyarakat yang kian menurun akibat gaya hidup masyarakatnya yang kurang gerak. Asupan kalori berlebih dari terigu yang tidak digunakan oleh tubuh inilah yang akhirnya ditumpuk menjadi jaringan lemak.
Peningkatan obesitas akibat konsumsi karbohidrat olahan yang tak terkontrol bukanlah sekadar isu penampilan fisik semata. Obesitas adalah "pintu masuk" utama bagi berbagai penyakit tidak menular yang bisa mengancam nyawa, mulai dari diabetes tipe 2, hipertensi, hingga penyakit jantung koroner. Fenomena yang lebih mengkhawatirkan adalah pergeseran usia penderita penyakit kronis ini ke kelompok yang makin muda.
Mengubah pola makan bangsa tentu tidak bisa dilakukan dalam semalam, apalagi mengharamkan gorengan dan mi instan secara total. Namun, pembenahan harus dilakukan dari dua sisi. Secara individu, masyarakat perlu bijak untuk mengontrol kebiasaan menumpuk karbohidrat dan kembali melirik sumber karbohidrat lokal yang berindeks glikemik rendah, seperti singkong atau ubi.
Dari sisi regulasi, pemerintah juga perlu memperketat edukasi gizi dan kontrol peredaran makanan tinggi kalori di lingkungan sekolah. Menjaga tubuh tetap sehat di tengah kepungan olahan tepung bukan lagi sekadar pilihan gaya hidup, melainkan langkah krusial sebagai bentuk investasi terhadap diri kita di masa tua mendatang untuk mewujudkan masyarakat Indonesia yang bijak dan bebas dari penyakit.
