Kesusastraan Periode Balai Pustaka

Mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
Konten dari Pengguna
1 April 2022 13:31
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Tulisan dari Putri Sephia Zahra tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Tangkapan Layar saat perkuliahan Sejarah Sastra Indonesia Modern. sumber foto: tangkapan layar perkuliahan daring Sejarah Sastra Indonesia Modern.
zoom-in-whitePerbesar
Tangkapan Layar saat perkuliahan Sejarah Sastra Indonesia Modern. sumber foto: tangkapan layar perkuliahan daring Sejarah Sastra Indonesia Modern.
Perkembangan kesusastraan Indonesia tidak bisa terlepaskan dari balai pustaka. Kehadiran balai pustaka di Indonesia berkaitan erat dengan kebijakan pemerintah Belanda. Pada tanggal 14 September 1908, didirikan Commise Voor De Inlandsche oleh pemerintah hindia Belanda. Anggota pengurusnya terdiri dari 6 orang yang diketuai oleh Dr. G.A.J Hazeu. Pada tahun 1910, rinkes datang dan mengambil alih pekerjaannya mulai 8 November 1910.
Balai pustaka baru berkembang dan berproduksi sekitar tahun 1920. Pada saat itu berbagai buku dan majalah mulai diproduksi. Pada tahun 1930, balai pustaka mendapat dukungan dari pemerintah untuk memperluas produksinya ke nusantara dan menjadi penerbit besar, sehingga mampu memunculkan banyak penulis dan pengarang pada periode ini. Penulis pada periode ini adalah Abdul Muis, Muhammad Kasim, Muhammad Yamin, Nur Sutan Iskandar, Merari Siregar, Marah Rusli, Hamidah, dan masih banyak yang lainnya.
Bahasa yang digunakan saat itu adalah bahasa melayu. Hal ini karena para penulis kebanyakan adalah orang melayu. Periode ini memiliki beberapa nama angkatan yaitu, 1) Angkatan balai pustaka, hal ini karena balai pustaka mempunyai peran penting pada periode ini. 2) Beberapa orang menyebut periode ini sebagai angkatan dua puluhan, sebab angkatan ini muncul pada tahun dua puluhan. 3) Angkatan ini juga bisa disebut angkatan siti nurbaya, karena tema romantis sangat populer saat itu.
Dalam buku Sejarah Ringkas Kesusastraan Indonesia (Muhri, 2016), terdapat usaha-usaha yang dilakukan oleh balai pustaka dalam memajukan kesusastraan. Usaha-usaha yang dilakukan yaitu mengumpulkan cerita daerah dan merubahnya ke dalam bahasa melayu, menerjemahkan cerita-cerita asing ke dalam bahasa melayu, menerbitkan majalah berbahasa daerah, menerbitkan buku almanak rakyat untuk mencari pengetahuan praktis tentang kehidupan, dan membuka perpustakaan umum pada sekolah-sekolah daerah terpencil.
Pada periode ini juga terdapat ciri dan karakteristik karya sastra balai pustaka yang dapat membedakannya dengan periode yang lain, yaitu:
a). Menggunakan gaya peribahasa, perumpamaan, dan menggunakan bahasa yang berbeda dari hikayat sastra lama.
b). Menggunakan alur lurus.
c). Menggunakan setting latar kedaerahan, adat istiadat, dan budaya.
d). Menggunakan sudut pandang orang ketiga.
e). Bersifat didaktis.
f). Menggunakan tema romantis.
g) Perbedaan paham antara golongan muda dan golongan tua mengenai adat lama dan kemodernan.
Karena banyaknya pendapat mengenai balai pustaka dalam perkembangan kesusastraan Indonesia, Kita tidak perlu mempermasalahkan mana yang benar dan mana yang salah. Namun perlu kita ketahui bahwa balai pustaka telah menyediakan wadah bagi para pengarang sebagai penerbit dengan koneksi dan jaringan yang luas agar dapat memajukan dan mengembangkan sastra di Indonesia.
Tinjauan Pustaka
Erowati dan Bahtiar. (2011) Sejarah Sastra Indonesia. Ciputat: Lembaga Penelitian UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
Muhri. (2016). Sejarah Ringkas Kesusastraan Indonesia. Bangkalan: Yayasan Arraudiah Bangkalan.
Pusat Bahasa, Dapartemen Pendidikan Nasional. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Pusat Bahasa, Dapartemen Pendidikan Nasional.