Sandwich Generation: Tanggung Jawab atau Risiko?

Mahasiswa Fakultas Vokasi Universitas Airlangga
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Feby Reza Anggraini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Kehidupan yang sejahtera di masa tua merupakan kondisi yang diimpikan oleh semua orang. Lantas, apakah generasi sandwich dapat turut merasakannya?
Sandwich generation merupakan sebuah istilah yang diperkenalkan oleh seorang profesor sekaligus direktur praktikum Universitas Kentucky bernama Dorothy A. Miller pada tahun 1981.
Istilah ini beliau perkenalkan melalui sebuah jurnal yang berjudul “The Sandwich Generation: Adult Childern of The Aging”. Generasi Sandwich merupakan generasi orang dewasa yang harus menanggung hidup tiga generasi yaitu orang tuanya, dirinya, dan anaknya.
Fenomena generasi sandwich memberikan dampak yang besar bagi seseorang yang mengalaminya. Hal ini menjadi momok menyeramkan untuk sebagaian besar orang ketika memikirkan hari tua.
Sandwich Generation Menyebabkan Tekanan Hidup
Sandwich generation memberikan tekanan pada diri karena seseorang tersebut menyadari bahwa kerja kerasnya tidak bisa menghasilkan apa-apa untuk dirinya. Terdesak dari sisi atas dan bawah yang menuntutnya untuk memberikan sesuatu yang jauh dari kemampuannya demi terpenuhinya ekspektasi orang yang bertopang hidup padanya.
Dari adanya kasus ini, seseorang terpaksa hidup dengan kondisi seadanya bahkan kurang dan terancam tidak bisa melakukan pensiun dini dan tidak bisa memiliki aset pribadi.
Sandwich Generation Adalah Kewajiban Anak?
Generasi sandwich menggambarkan orang tua yang membebani anak dengan segudang tanggungjawab finansial yang harus dipenuhi oleh sang anak untuk membantu keberlanjutan hidup keluarga.
Banyak orang tua yang dalam membesarkan anak-anaknya memiliki misi agar si anak dapat menghasilkan uang yang banyak untuk mereka. Padahal hal ini salah besar, anak adalah tanggungjawab orangtuanya karena orang tua sendiri yang memilih untuk menghadirkan anak untuk melengkapi keluarga.
Literasi Orang Tua Bisa Jadi Pemicu
Kurangnya literasi orang tua tentang pentingnya investasi dan asuransi pendidikan hingga kesehatan berpotensi besar menjadi salah satu pemicu munculnya sandwich generation. Padahal, pemahaman finansial sangat penting bagi orang tua dalam menyiapkan dana pensiun agar anak-anaknya tidak menjadi korban dari sandwich generation.
Dari fenomena inilah kita harus mampu memutus tali sandwich generation yang terjadi di dalam keluarga. Hal yang bisa dilakukan adalah mengelola keuangan dengan baik dan mulai berpikir untuk melakukan investasi dan mengambil asuransi sebagai backing-an ketika terjadi penurunan ekonomi drastis dalam keluarga.
