Nilai Kesopanan dalam Kehidupan Sosial Masyarakat Jepang

Mahasiswa S1 Studi Kejepangan Universitas Airlangga.
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari Uswetun hasanah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Jepang adalah salah satu negara maju di Asia yang sangat menjunjung tinggi budayanya. Nilai-nilai kesopanan di Jepang tidak pernah luntur, meskipun sekarang berada di Era Modernisasi dan kemajuan teknologi. Kesopanan merupakan norma yang sangat penting bagi kehidupan sehari-hari masyarakat Jepang.
Budaya sopan masyarakat Jepang sudah ada sejak zaman Edo (1603-1868) yang disebut “Bushido”. Kata “Bushi” berarti “prajurit”, kata “Do” berarti “jalur atau jalan”. Berdasarkan dari kata “Bushido” memiliki makna kebenaran, keberanian, kebijakan, rasa hormat, kehormatan, dan ketulusan.
Nilai-nilai kesopanan budaya bushido mempengaruhi pola pikir dan sudut pandang masyarakat Jepang. Tidak hanya itu, budaya bushido masih tetap melekat di era modernisasi sehingga masyarakat Jepang masih menjunjung tinggi nilai kesopanan tersebut.
Bisa kita lihat dari sifat “tatemae”, di mana orang jepang sangat menjaga sikapnya agar tidak menyinggung perasaan orang lain. Berikut ini adalah beberapa nilai kesopanan yang ada di Jepang:
1. Budaya Ojigi
Ojigi adalah salah satu budaya masyarakat Jepang yang dilakukan dalam kehidupan sehari-hari. Ojigi merupakan bentuk penghormatan dengan cara merendahkan kepala dan tubuh bagian atas layaknya membungkuk.
Ojigi dilakukan saat orang Jepang memberikan salam, hormat, permintaan maaf atau mengungkapkan rasa terima kasih kepada orang lain. Ojigi sudah menjadi budaya turun temurun masyarakat Jepang yang tidak terpisahkan dalam berbagai situasi dan kondisi. Budaya ojigi ada beberapa macam, yaitu eshaku, keirei, dan saikeirei.
Eshaku
Eshaku adalah jenis ojigi yang dilakukan sebagai sapaan dan biasanya dilakukan saat bertemu teman atau rekan kerja. Eshaku membungkuk tubuh sedikit sekitar 15 derajat. Sapaan eshaku biasanya dilakukan pada orang dengan kelas sosial yang setara atau yang lebih rendah. Eshaku dilakukan secara singkat untuk membungkuk.
Keirei
Keirei adalah jenis ojigi memberikan salam kepada orang yang statusnya sosialnya lebih tinggi dengan membungkukkan badan sekitar 30 derajat. Ojigi jenis ini biasanya sering ditemui di dalam lingkungan bisnis dan profesional untuk mengucapkan salam atau terima kasih. Keirei dilakukan dengan durasi yang sedikit lama dibandingkan dengan eshaku.
Saikeirei
Saikeirei adalah jenis ojigi yang membungkukkan badan sekitar 45 derajat. Ojigi ini memiliki makna yang lebih mendalam dari pada eshaku dan keirei. Seikeirei cenderung digunakan sebagai permintaan maaf atau permintaan tolong. Lalu, semakin lama dan semakin dalam kamu membungkuk, maka semakin dalam pula maknanya.
2. Budaya Makan
Jepang memiliki makanan yang bervariasi dan menarik sehingga banyak orang yang menyukai makanan Jepang seperti, sushi, ramen, udon dan lainnya. Makanan Jepang banyak yang menyehatkan dan memiliki ciri khas tersendiri. Selain mempunyai berbagai makanan yang enak, orang Jepang memiliki nilai kesopanan saat makan.
Mengapa orang jepang sangat menjunjung etika saat makan? Bagi orang Jepang, nilai kesopanan tidak hanya bersikap kepada orang saja, namun juga terhadap makanan. Hal ini dilakukan sebagai ucapan syukur terhadap makanan tersebut. Berikut ini beberapa budaya makan orang jepang:
Mengucapkan Itadakimasu
Sebelum menyantap makanan yang dihidangkan, orang Jepang biasanya mengucapkan “Itadakimasu” sambil menempelkan kedua tangan di atas mangkuk. Ucapan “Itadakimasu” sebagai bentuk rasa syukur atas makanan yang telah dihidangkan.
Setelah selesai makan biasanya orang Jepang mengucapkan “Gouchisousamadeshita” sebagai bentuk rasa terima kasih kepada tuan rumah karena telah menjamu atau telah memberikan pelayanan yang bagus.
Mengangkat Mangkuk Nasi atau Sup
Di Jepang mengangkat mangkuk nasi atau sup merupakan etika makan yang benar. Tidak ada alasan khusus, hanya saja mengangkat mangkuk nasi membuat postur saat makan menjadi tegak. Namun, mengangkat mangkuk tidak boleh terlalu berlebihan seperti, menempelkan siku di atas meja.
Hal tersebut merupakan etika yang tidak bagus. Berbeda halnya dengan negara Indonesia, bahwasanya mengangkat piring merupakan etika yang tidak bagus dan menempelkan siku di atas meja sudah biasa.
Penggunaan Sumpit “Ohashi”
Sumpit sebagai alat utama yang digunakan di Jepang saat makan. Orang Jepang mempunyai beberapa aturan saat menggunakan sumpit seperti, jangan meletakkan sumpit di atas mangkuk yang masih ada makanannya karena sikap tersebut menganggap makanan yang dihidangkan tidak enak. Setiap posisi sumpit memiliki arti tersendiri.
3. Budaya Minum Teh
Jepang merupakan negara yang menjunjung nilai kesopanan atau tata krama. Budaya minum teh sudah ada sejak zaman dulu. Budaya minum teh disebut “Sadou” atau “Upacara minum teh”. Kata sadou berasal dari kanji “sa” dan “dou”, sa berarti “teh” sedangkan dou berarti “jalan atau cara”.
Berdasarkan kata tersebut, arti dari sadou ialah cara menyajikan dan menikmati teh. Sadou adalah upacara minum teh yang memiliki makna kehidupan yang mendalam serta ajaran tata krama yang baik. Untuk meminum teh tersebut terdapat tata krama yang harus dipelajari. Berikut ini tata krama saat upacara minum teh:
Posisi duduk tegap dan posisi kaki di lipat ke belakang.
Cangkir diletakkan di telapak tangan kiri dan tangan kanan harus memutar cangkir 180 derajat dalam tiga putaran.
Menyeruput teh sebagai bentuk menghormati tuan rumah.
Ketika teh sudah habis, putar cangkir berlawanan dengan arah jarum jam.
Upacara minum teh biasanya dilakukan di rumah, special room, atau bahkan jamuan di luar ruangan. Tempat upacara minum teh terkesan sederhana tetapi tuan rumah sudah menyiapkan segala hal dengan baik termasuk cara penyajiannya. Upacara minum teh tersebut merupakan bentuk budaya masyarakat Jepang untuk menghormati tamu yang sedang berkunjung.
Pada dasarnya orang Jepang selalu menjaga sikapnya di depan umum dikarenakan Jepang mempunyai aturan yang sudah ada sejak lama. Hal ini sudah melekat di kehidupan sehari-hari sehingga menjadi budaya orang Jepang.
Budaya yang melekat dalam kehidupan sosialnya menjadi ciri khas negeri sakura tersebut. Dengan demikian, sosial budaya masyarakat Jepang menunjukkan bahwa Jepang merupakan negara yang sangat mengedepankan moralitas atau nilai kesopanan dalam kehidupan bermasyarakat.
