Konten dari Pengguna

Begini Rasanya Saat Pengabdian Masyarakat

Uthari Handayani

Uthari Handayani

Masih mahasiswa jurnalistik di Politeknik Negeri Jakarta.

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Uthari Handayani tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pengabdian adalah hal yang paling menakutkan tapi amat kurindukan.

Memutuskan untuk ikut mengabdi kepada masyarakat terjadi akibat dorongan hati. Tak tergambarkan bagaimana dorongannya, tapi saat mendengar kata-kata yang tidak asing dalam pengabdian, seperti “berbagi, mengajar, kebaikan,” aku merasa ini saatnya.

Setelah kusadari, seiring bertumbuh dewasa, hidup ini tidak lagi memikirkan dirinya sendiri. Banyak hal yang memprihantikan dan akhirnya mengalihkan perhatian kita. Misalnya, kondisi lingkungan hidup, ketidakmerataan kesejahteraan masyarakat, ketertinggalan pendidikan, dan lain-lain.

Sebagai mahasiswa, ada juga pemikiran lain, seperti, “Itung-itung melengkapi poin terakhir Tri Dharma Perguruan Tinggi.”

Mungkin di antara kalian ada yang belum mengetahui atau lupa dengan Tri Dharma Perguruan Tinggi, berikut macamnya

Tri Dharma Perguruan Tinggi

1. Pendidikan dan Pengajaran

2. Penelitian dan pengembangan

3. Pengabdian kepada masyarakat

Memang perlu banyak pertimbangan saat akhirnya mantap untuk menjalankan niat baik ini. Sebab mangabdi bukan hal kecil, perlu kesungguhan hati untuk menjalaninya. Agar apa yang kita abdi bisa menjadi lebih baik dan bermanfaat.

Awal Mengenal Pengabdian

Aku dikenalkan tentang pengabdian kepada masyarakat oleh rekan-rekan sesama mahasiswa. Mereka menceritakan betapa besar dampak mengabdi terhadap kehidupannya. Seperti ada yang membukakan wawasan lain tentang menjalani hidup.

“Bukan cuma itu,” mereka bilang, “Mengabdi juga benar-benar menyenangkan. Seru deh pokoknya.”

Bayangan tentang keseruan mereka gambarkan dengan pergi ke pelosok desa yang disambut perjalanan indah oleh hamparan sawah, dikelilingi gunung, sungai mengalir jernih, banyak hasil kebun, hewan ternak yang diliarkan begitu saja tanpa takut mereka hilang atau dicuri orang, masyarakat yang ramah, dan banyak bocah kecil polos yang menggemaskan.

Dibenakku berpikir, bolehlah kucoba sembari menyegarkan mata dan mengenal orang baru. Akhirnya aku mendaftarkan diri ke program pengabdian masyarakat tersebut di tahun berikutnya. Dan tak disangka, aku bisa diterima dari hasil wawancaranya yang lumayan memojokkanku dengan pertanyaan-pertanyaannya.

Namun, semua hal yang rekan-rekan mahasiswaku katakan tak semuanya benar. Kesulitan benar-benar menimpaku sedari hari pertama.

Ketakutan dan Kesulitan

Pengabdian ini diselenggarakan kampusku. Pagi-pagi buta kami sudah meninggalkan tempat ini yang menjadi titik kumpul. Perjalanan dari kota terlihat biasa saja, sampai saat kita memasuki jalan kecil menuju Desa Gobang, Bogor, Jawa Barat. Membuat kami harus ektrsa hati-hati karena permukaannya yang menanjak dan banyak belokan-belokan curam.

Belum apa-apa aku sudah dibuat kesulitan. Ingin rasanya kembali pulang ke kota di mana semuanya serba mudah, tetapi bukankah memang ini yang harus dihadapi?

Hari pertama menjadi hari paling menyebalkan, setelah kuketahui bahwa di sini sulit mendapatkan air walaupun berada di atas perbukitan. Hewan ternak yang sebelumnya kuanggap akan menjadi pemandangan indah, ternyata membuang kotorannya secara sembarangan. Malam hari menjelang tidur pun tidak tenang, ada banyak nyamuk yang beterbangan di tempat kami tinggal.

Proses adaptasi lingkungan ini kuhadapi setidaknya tiga hari. Sampai akhirnya bisa menerima keadaan sekitar.

Pengabdian ini bergerak di bidang pendidikan, menjadi pengajar adalah tugas utamaku. Ternyata di SDN Gobang 04 ini, perkelasnya tidak terlalu banyak murid. Walaupun masih ada usia anak sebaya lainnya, tetapi mereka belum memulai sekolah. Pengertian bahwa pentingnya pendidikan belum tersampaikan secara luas di sini.

Saat waktu bermain tiba, anak-anak desa ini berkumpul di lapangan sekolah. Yang katanya bocah polos, ternyata tidak jauh berbeda dengan anak-anak biasa di kota. Mereka masih bandel dan susah diatur. Bahkan sempat saja mengerjai pengajarnya dan bersikap kurang sopan.

Semua kesulitan itulah yang harus aku dan pengajar lainnya hadapi selama tujuh belas hari kedepan. Tidak boleh ada yang namanya menyerah terhadap kondisi alam dan masyarakat di dalamnya.

Keakraban

Demi terwujudnya keberhasilan pengabdian ini, pelan-pelan kami mempelajari pola kehidupan di sini. Bagaimana menghadapi anak-anak agar tetap belajar, mendapat perhatian masyarakat, dan ikut serta dalam kehidupan mereka sehari-hari. Dalam menghadapi hari esok terasa jadi lebih mudah saat semuanya dekat dan saling mengerti.

Namun, setelah menghadapi kesulitan dan menjadi akrab, kami dihadapkan dengan perpisahan. Sulit sekali untuk meninggalkan keluarga baru ini. Meski kami hidup bersama hanya sebentar, tapi kenangannya sangat indah dan berkesan.

Perpisahan

Banyak sekali terima kasih yang ingin kuucapkan kepada mereka murid dan masyarakat Desa Gobang terhadap segala hal yang baru kutemui di sini. Baru aku kenal, baru aku pelajari, baru aku sadari. Namun, hanya isak tangis yang keluar dalam pelukan kami.

Berkali-kali mereka meminta kami, para pengabdi, untuk kembali lagi ke sana, dan berkali-kali pula kami mengiyakan.

Pelajaran

Berkat pengabdian ini, aku lebih mengerti makna pengabdian. Dan juga makna dari istilah “Memanusiakan manusia.”

Bagiku, bersyukur adalah kunci utamanya. Benar sekali kata orang tua, “Jangan melihat ke atas, lihatlah ke bawah,” karena tidak semua kemudahan yang kupunya bisa dirasakan orang lain. Kadang, dengan kemudahan yang sama saja aku masih sempat mengeluh.

Kurasa harus lebih banyak lagi orang yang melek terhadap persoalan tersebut. Agar banyak pula orang yang terbantu dalam mendapatkan kesamarataan di semua bidang kehidupan.

Ini hanya sebagian cerita dari yang kualami selama tujuh belas hari. Kupikir untuk mencari sisanya, harus dimulai dengan mengalaminya sendiri. (UH)