kumparan
4 Mei 2017 12:47 WIB

Bakteri dan Racun Berbahaya di Air Liur Komodo

Rangga, Komodo konservasi di Taman Safari. (Foto: Niken Nurani/kumparan)
Seorang turis Singapura bernama Loh Lee Aik (68) digigit oleh seekor komodo di Desa Komodo, Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur.
ADVERTISEMENT
”Korban digigit di betisnya pada Rabu (3/5) kemarin sore, saat sedang memotret seekor komodo sedang memangsa kambing yang sudah menjadi bangkai," kata Kabid Humas Polda NTT Jules Abraham Abast di Kupang, Kamis (4/5). (Baca: Turis Singapura Digigit Komodo Saat Memotret)
Petugas medis setempat telah menangani Loh Lee Aik sebelum akhirnya Loh Lee Aik dibawa dengan menggunakan speedboat milik TNI menuju Rumah Sakit Siloam di Labuan Bajo, NTT. (Baca: Turis Singapura Luka Parah Akibat Digigit Komodo)
“Kalau nggak ada pertolongan medis, pasti infeksi mendalam,” kata Kepala Laboratorium Herpitologi Puslit Biologi LIPI Amir Hamidy kepada kumparan (kumparan.com), Kamis (4/5). Herpetologi adalah cabang ilmu zoologi yang khusus mempelajari hewan jenis reptil dan amfibi.
ADVERTISEMENT

Kalau nggak ada pertolongan medis, pasti infeksi mendalam.

- Ahli LIPI

Amir menjelaskan air liur komodo mengandung banyak jaringan bakteri. “Dia juga memiliki kelenjar racun,” imbuhnya.
Dilansir dari laman resmi Smithsonian’s National Komodo Zoo & Conversation Biology Institute, kelenjar racun pada komodo ditemukan di rahang bawahnya. Racun ini dapat menghambat atau bahkan mencegah pembekuan darah secara normal.
Infeksi yang ditimbulkan bakteri dan racun komodo dapat membunuh korbannya dalam waktu beberapa hari saja, kurang dari seminggu.

Infeksi yang ditimbulkan bakteri dan racun komodo dapat membunuh korbannya dalam waktu beberapa hari saja, kurang dari seminggu.

- -

Uniknya, gigitan komodo tidak mematikan bagi komodo lain. Para peneliti melihat kadal purbakala ini tampak tidak terpengaruh oleh bakteri dan racun yang mematikan dari sesamanya.
ADVERTISEMENT
Sampai saat ini para ilmuwan masih berusaha mencari antibodi dalam darah Komodo yang mungkin bisa digunakan untuk menyelamatkan orang-orang yang terinfeksi akibat gigitan komodo.
Baca juga:
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan