Ngerasa Tertinggal, Padahal Masih Berproses

Siswa SMK Katolik St. Familia Tomohon Jurusan Manajemen Perkantoran
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Jessica Vabiola Kilis tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Di era sekarang, perasaan tertinggal seolah jadi hal yang umum dirasakan oleh banyak anak muda, khususnya Gen Z. Membuka media sosial setiap hari sering kali membuat kita melihat pencapaian orang lain—ada yang sudah lulus lebih cepat, punya pekerjaan mapan, bahkan terlihat “sukses” di usia muda. Tanpa disadari, hal ini memicu perbandingan sosial yang terus menerus.
Menurut teori social comparison yang dikemukakan oleh Leon Festinger, manusia secara alami cenderung membandingkan dirinya dengan orang lain untuk menilai kemampuan dan pencapaian diri. Di satu sisi, hal ini bisa memotivasi. Namun di sisi lain, jika tidak dikontrol, justru dapat menimbulkan rasa tidak cukup, bahkan menurunkan kepercayaan diri.
Fenomena ini semakin diperkuat dengan adanya media sosial. Dalam kajian psikologi modern, kondisi ini sering dikaitkan dengan Fear of Missing Out (FoMO), yaitu perasaan takut tertinggal dari pengalaman atau pencapaian oranPeg lain. Penelitian dari American Psychological Association menunjukkan bahwa penggunaan media sosial yang berlebihan dapat meningkatkan kecemasan, terutama ketika individu terus membandingkan kehidupannya dengan orang lain yang tampak lebih “berhasil”.
Menurut saya, perasaan tertinggal ini sebenarnya bukan tanda kegagalan, melainkan tanda bahwa kita sedang berada dalam proses. Setiap orang memiliki timeline hidup yang berbeda. Ada yang cepat menemukan jalannya, ada juga yang butuh waktu lebih lama untuk memahami arah hidupnya. Keduanya sama-sama valid.
Dalam perspektif perkembangan individu, psikolog Erik Erikson menjelaskan bahwa masa remaja hingga dewasa awal merupakan fase pencarian identitas (identity vs role confusion). Artinya, kebingungan, rasa tertinggal, dan ketidakpastian adalah bagian yang wajar dari proses tersebut. Ini bukan akhir, melainkan tahap yang harus dilewati.
Sering kali kita lupa bahwa apa yang terlihat di media sosial hanyalah sebagian kecil dari realita. Orang-orang cenderung menampilkan pencapaian terbaiknya, bukan proses panjang, kegagalan, atau perjuangan di baliknya. Akibatnya, kita membandingkan “proses kita” dengan “hasil akhir orang lain”—yang jelas tidak seimbang.
Padahal, proses adalah bagian paling penting dalam perjalanan hidup. Dalam konsep growth mindset yang dipopulerkan oleh Carol Dweck, keberhasilan tidak hanya ditentukan oleh hasil akhir, tetapi oleh bagaimana seseorang terus belajar, berkembang, dan bertahan dalam menghadapi tantangan.
Jadi, ketika kamu merasa tertinggal, mungkin sebenarnya kamu hanya sedang berjalan di jalurmu sendiri. Tidak semua hal harus dicapai dalam waktu yang sama. Tidak semua orang harus “jadi” di usia yang sama.
Karena pada akhirnya, hidup bukan tentang siapa yang paling cepat sampai, tapi siapa yang terus berjalan tanpa berhenti.
