Sakit, tetapi Dipaksa untuk Mandiri? Nasib Anak Perantauan ketika Sakit

Mahasiswi Ilmu Komunikasi Binus University
Tulisan dari Valen Christy Sia tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Memasuki tahun ajaran baru dalam dunia perkuliahan, banyak anak muda yang memutuskan untuk menempuh pendidikan tinggi mereka di luar kota. Kegiatan merantau banyak dilakukan oleh remaja Indonesia dengan alasan yang cukup beragam, mulai dari mengejar universitas impian mereka, ingin mencoba lingkungan yang baru, hingga dengan alasan biaya hidup yang lebih murah di luar kota Jakarta. Dilansir dari kemenkeu, merantau sendiri dapat didefinisikan sebagai perginya seseorang atau perpindahan yang dilakukan seseorang untuk meninggalkan tempat di mana dia berasal atau dilahirkan dan dia tumbuh besar menuju suatu wilayah lain, guna menjalani kehidupan baru maupun untuk sekadar mencari pengalaman hidup, menempuh pendidikan, ataupun mencari pekerjaan.

Merantau ke kota yang asing memaksa kita untuk memulai hidup yang lebih mandiri, jauh dari pengawasan orang tua. Berbagai hal harus ditangani diri sendiri mulai dari membayar kos, mengatur uang jajan bulanan, hingga mengurus diri kita sendiri saat jatuh sakit. Sebagai salah satu anak rantau, saya sendiri memiliki pengalaman di mana saya harus mengurus diri saya ketika jatuh sakit. Penyebabnya adalah karena ketidakacuhan saya dalam mengatur pola makan yang rutin. Saya ingat betul, saat itu selama seminggu saya diberikan tanggung jawab untuk membimbing mahasiswa baru agar lebih mengenal lingkungan kampus dan sistem pengajaran di dalamnya. Dikarenakan padatnya kegiatan, saya menjadi teledor dan lupa untuk menyempatkan waktu untuk mengisi perut saya.
Pada hari pertama kegiatan, saya melewatkan makan siang dan baru sempat makan ketika waktu sudah menunjukkan pukul 17.30 sore. Pada keesokan paginya, perut saya mulai terasa tidak nyaman sehingga saya memutuskan untuk meminum teh hangat, namun terulang sekali lagi saya melewatkan makan siang. Kegiatan hari kedua berakhir lebih awal dari hari sebelumnya, saat saya pulang ke kos, itulah waktu di mana saya menyadari bahwa penyakit maag saya kambuh. Ciri-cirinya dimulai saat saya mulai merasa sakit di bagian perut atas dan juga mual dan ingin muntah.
Saya sendiri memang memiliki riwayat sakit maag sebelumnya, ketika saya membiarkan perut saya kosong terlalu sering maka produksi asam dalam lambung saya akan meningkat hingga menimbulkan sakit maag. Beruntung, saya selalu siap sedia obat-obatan untuk keadaan darurat di kos, saya pun segera meminum obat plantacid forte yang berfungsi untuk menetralkan asam lambung. Jeda sekitar 15 menit, saya segera mengisi perut saya dengan makanan dan meminum teh hangat agar perut saya terasa lebih nyaman, alhasil saya pun merasa jauh lebih baik setelah minum obat dan juga mengisi energi tubuh saya.
Dari pengalaman yang sudah-sudah, saat anak jatuh sakit, orang tua pasti selalu siap siaga untuk menangani dan mengurus mereka hingga sembuh. Lain halnya, jika ini terjadi saat kita merantau, walaupun tubuh kita terasa lemas kita diharapkan untuk tidak panik dan siap secara fisik dan mental untuk mencari jalan keluar yang terbaik. Berikut tip-tip yang bisa saya berikan melalui pengalaman saya yang bisa dilakukan oleh anak perantauan ketika sedang jatuh sakit:
1. Selalu Menyiapkan Obat-Obatan Dasar untuk Pertolongan Pertama
Menyiapkan stok obat-obatan di kos, akan sangat bermanfaat bagi kita di kemudian hari ketika kejadian-kejadian yang tidak kita duga terjadi. Obat-obatan ini bisa mengantisipasi dan juga memberikan pertolongan pertama disaat tubuh kita mulai terasa lemas. Obat-obatan dasar yang dimaksud antara lain: obat pereda nyeri, obat demam, obat batuk, dan juga obat untuk sakit perut dan diare. Selain itu, minyak angin seperti freshcare dan juga balsam dapat membantu memberikan kehangatan pada tubuh kita dan memberikan efek relaksasi yang nyaman.
2. Memesan Makanan melalui Layanan Online untuk Mengisi Energi
Setelah mengonsumsi obat-obatan, kita juga wajib untuk mengisi perut kita untuk mengisi energi tubuh kita agar tetap stabil. Dengan kondisi tubuh yang terasa lemas, tentunya kurang mendukung jika kita harus membuat atau memasak makanan kita sendiri. Beruntung, dengan adanya kemajuan teknologi, kita bisa mengandalkan layanan online untuk memesan makanan kita. Dengan melakukan pemesanan melalui aplikasi, makanan kita nantinya akan diantarkan ke depan tempat kos kita. Disarankan untuk anak rantau yang sedang sakit untuk memesan makanan yang mudah untuk ditelan seperti bubur atau makanan berkuah lainnya.
3. Istirahat yang Cukup adalah Jalan Ampuh Menuju Kesembuhan
Langkah terakhir yang terbukti dapat dengan ampuh membantu untuk sembuh lebih cepat adalah dengan istirahat yang cukup. Ketika kita beristirahat, kita juga mengizinkan tubuh kita untuk lebih rileks dan tidak melakukan pergerakan berat yang nantinya bisa menguras energi. Hal ini perlu dilakukan terutama ketika kita sakit karena dengan beristirahat kita dapat memperbaiki sistem kekebalan tubuh kita untuk segera lebih membaik.
Jatuh sakit memang tidak seenak dan seindah jatuh cinta, terutama ketika kita hidup sendirian dan jauh dari jangkauan orang tua. Penting bagi anak-anak rantau untuk selalu menjaga kondisi badan mereka agar tidak mudah sakit. Selalu mengikuti protokol kesehatan dan rutin mengonsumsi vitamin bisa membantu untuk meningkatkan stamina tubuh kita ketika kita sering bepergian ke luar. Kiranya melalui cerita pengalaman saya, dapat dipetik pelajaran bermakna yang bisa diterapkan ketika kalian anak rantau sedang jatuh sakit.
