Konten dari Pengguna

Mahasiswa KKN-K 2025 Saksikan Meriahnya Festival Mappadendang di Desa Bara Batu

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Valerie Evelina tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

                                         Dokumentasi Tim KKN Kebangsaan 2025
zoom-in-whitePerbesar
Dokumentasi Tim KKN Kebangsaan 2025

Pangkajene dan Kepulauan – Sabtu, 12 Juli 2025, mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Kebangsaan yang tengah bertugas di Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan mendapat kesempatan berharga untuk menyaksikan secara langsung Festival Mappadendang di Desa Bara Batu. Festival tahunan ini bukan sekadar hiburan, melainkan sebuah perayaan budaya yang sarat makna syukur masyarakat Bugis-Makassar atas hasil panen yang melimpah.

Kehadiran mahasiswa KKN dari berbagai perguruan tinggi di seluruh Indonesia memberi warna tersendiri pada gelaran budaya kali ini. Bagi sebagian besar dari mereka, pengalaman ini menjadi perjumpaan pertama dengan tradisi lokal Bugis-Makassar yang begitu kental dengan nilai gotong royong, kebersamaan, dan spiritualitas.

Mappadendang dikenal dengan ritual menumbuk padi secara bersama-sama menggunakan lesung kayu besar. Pria dan wanita desa berdiri berhadap-hadapan, memukul alu secara ritmis hingga menghasilkan tabuhan yang bergema harmonis. Irama tersebut bukan hanya sekadar bunyi, melainkan simbol kebersamaan dan doa syukur atas rezeki yang diberikan alam.

“Bagi kami, Mappadendang adalah cara untuk berterima kasih atas berkah panen sekaligus menjaga kebersamaan warga,” ungkap salah satu tokoh adat Bara Batu.

Suasana sakral sekaligus meriah terasa di tengah masyarakat yang larut dalam irama tabuhan. Bagi para mahasiswa KKN, momen ini menjadi pembelajaran berharga mengenai bagaimana budaya mampu mengikat solidaritas sosial.

Popularitas Mappadendang terus meningkat, terutama sebagai daya tarik wisata budaya. Tahun 2024, festival di Desa Bara Batu berhasil menarik lebih dari 1.500 pengunjung, termasuk wisatawan domestik dari luar Sulawesi. Mereka datang dengan antusias, ingin menyaksikan langsung keunikan tradisi yang diwariskan turun-temurun oleh masyarakat Bugis-Makassar.

Menurut Kepala Desa Bara Batu, festival ini juga berperan sebagai ajang promosi desa. “Setiap tahun pengunjung bertambah. Kami berharap Mappadendang bisa semakin dikenal luas, bahkan hingga ke kancah internasional, sehingga Desa Bara Batu menjadi destinasi budaya yang semakin berkembang,” ujarnya.

Tak hanya ritual utama, Festival Mappadendang juga dimeriahkan oleh berbagai kegiatan budaya yang memikat pengunjung. Di antaranya:

  • Kirab Budaya: Warga dan juga Mahasiswa KKN Kebangsaan yang bertugas di posko Desa Bara Batu berparade mengenakan pakaian tradisional Bugis-Makassar sambil membawa hasil bumi sebagai simbol rasa syukur. Warna-warni pakaian adat dan senyum warga menyulut antusiasme penonton.

  • Pertunjukkan Menumbuk Padi: Ajang yang paling ditunggu, diikuti kelompok masyarakat dari berbagai dusun. Suasana riuh penuh sorak tawa menciptakan keceriaan sekaligus menumbuhkan rasa persatuan.

  • Tarian Tradisional: Tari Pakkarena dan Ganrang Bulo menjadi daya tarik tersendiri. Gerakan yang anggun dan musik tabuhan yang dinamis membuat para pengunjung terpesona.

Bagi mahasiswa KKN Kebangsaan, festival ini bukan hanya tontonan budaya, tetapi juga ruang belajar lapangan yang memperkaya pemahaman tentang kearifan lokal. Mereka melihat bagaimana masyarakat memaknai syukur melalui ritual kolektif, sekaligus bagaimana budaya bisa menjadi kekuatan ekonomi desa lewat pariwisata.

“Saya benar-benar kagum. Tradisi ini bukan sekadar seni, tapi juga mengajarkan solidaritas sosial dan cinta terhadap alam,” ujar salah satu mahasiswa KKN dari Universitas Andalas.

Keterlibatan mahasiswa dalam festival ini juga menumbuhkan interaksi lintas budaya. Mereka belajar langsung dari masyarakat tentang nilai gotong royong, sementara kehadiran mereka memberi perspektif baru bagi warga lokal tentang semangat generasi muda dalam melestarikan budaya.

Mappadendang di Desa Bara Batu adalah contoh nyata bagaimana budaya bisa hidup di tengah arus modernisasi. Tradisi yang diwariskan leluhur ini terus dipertahankan, bahkan dikembangkan agar menjadi daya tarik pariwisata budaya yang memberi manfaat ekonomi sekaligus memperkuat identitas masyarakat Bugis-Makassar.

Bagi mahasiswa KKN, pengalaman ini menjadi cermin bahwa pengabdian masyarakat bukan hanya tentang kerja sosial, melainkan juga tentang memahami dan menghargai warisan budaya sebagai bagian dari kekayaan bangsa.