Konten dari Pengguna

Dari Desa ke Dunia Digital: Transformasi UMKM Jetis Lewat Program PEMUSA

Vanesa Juliana Abimanyu

Vanesa Juliana Abimanyu

Mahasiswa Manajemen Umiversitas Muhammadiyah Yogyakarta

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Vanesa Juliana Abimanyu tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Dokumentasi: Pribadi
zoom-in-whitePerbesar
Dokumentasi: Pribadi

Di banyak desa, tantangan UMKM bukan pada kualitas produk, melainkan pada cara memperkenalkannya kepada pasar. Hal itu pula yang ditemui mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) dari saat menjalankan pengabdian di , Kecamatan , Kabupaten , Daerah Istimewa Yogyakarta. Berangkat dari realitas tersebut, mereka menggagas program PEMUSA (Pemberdayaan Masyarakat Usaha) sebagai jembatan transformasi UMKM menuju era digital.

Alih-alih sekadar pelatihan teknis, PEMUSA dirancang sebagai gerakan perubahan pola pikir. Mahasiswa melihat bahwa banyak pelaku usaha telah memiliki produk unggulan, mulai dari olahan pangan hingga kerajinan rumahan, namun belum memiliki identitas visual yang kuat dan strategi pemasaran digital yang terarah. Tanpa dua hal itu, produk mudah tenggelam di tengah persaingan pasar yang semakin padat.

Kegiatan yang digelar pada 9 Februari 2026 di Balai Padukuhan Jetis ini menghadirkan dua materi utama: rebranding dan digital marketing. Pada sesi rebranding, mahasiswa memperkenalkan pentingnya identitas usaha sebagai fondasi kepercayaan konsumen. Menggunakan platform desain gratis , peserta dibimbing dari tahap paling dasar, mengenal fitur, memilih template, menentukan warna yang mencerminkan karakter usaha, hingga menghasilkan logo dan katalog produk yang siap dipublikasikan. Pendekatan yang sistematis dari nol hingga mahir membuat pelaku UMKM merasa percaya diri untuk mengelola desainnya sendiri.

Sudut pandang yang ditawarkan mahasiswa sederhana namun strategis: kemasan visual adalah bahasa pertama yang berbicara kepada calon pembeli. Logo yang konsisten dan katalog yang rapi bukan sekadar pelengkap, melainkan identitas yang membedakan satu produk dari yang lain.

Dokumentasi: Pribadi

Materi kedua berfokus pada digital marketing, khususnya penyusunan caption promosi yang efektif. Di sinilah teknologi dimanfaatkan secara maksimal. Mahasiswa mengenalkan penggunaan kecerdasan buatan melalui sebagai alat bantu kreatif untuk merancang teks promosi. Peserta belajar menyusun kalimat pembuka yang menarik perhatian, memaparkan keunggulan produk secara ringkas, hingga menutup dengan ajakan bertindak yang persuasif.

Pendekatan ini menegaskan bahwa transformasi digital tidak selalu membutuhkan biaya besar. Dengan perangkat yang sudah dimiliki, gawai dan koneksi internet, pelaku UMKM dapat menjangkau pasar lebih luas tanpa meninggalkan desa.

PEMUSA menjadi bukti bahwa kolaborasi mahasiswa dan masyarakat mampu melahirkan solusi kontekstual. Di Desa Jetis, transformasi tidak hadir dalam bentuk jargon, melainkan dalam keterampilan nyata yang dapat langsung dipraktikkan. Dari logo hingga caption promosi, perubahan dimulai dari hal sederhana, namun berdampak besar bagi keberlanjutan usaha lokal.